Usia 25 tahun. Jika biasanya aku membuat deretan resolusi setiap memulai tahun yang baru, nampaknya kali ini aku tidak seambisi tahun-tahun sebelumnya. Tidak seperti orang-orang (mungkin) yang ketika usia bertambah, resolusi hidupnya pun lebih banyak. Resolusi hidupku justru makin sedikit. Paling banyak hanya 5 saja untuk tahun ini.
Pertama, menyelesaikan studi magister tepat waktu. Kedua, fokus menekuni passion sebagai pendidik. Ketiga, menabung lebih konsisten. Keempat, membuat blok terpisah antara pekerjaan dan keluarga. Kelima, menikah (?). Untuk resolusi nomor 5 sifatnya kondisional. Jika sudah bertemu orang yang tepat, yang sevisi misi serta saling mendukung untuk terus berkarya dan bermanfaat dalam aktualisasi diri.
Walaupun sebenarnya nggak ada tuntutan juga dari keluarga untuk harus menikah di usia 25 tahun kalau memang belum menemukan orang yang tepat. Yang tepat ya, bukan yang sempurna karena pastinya nggak ada manusia sempurna.
Keluarga selalu berpesan, jangan gara-gara umur, lalu buru-buru. Setiap orang fasenya nggak sama, kesiapan kita di mata Allah pun beda-beda. Dan sejatinya nggak ada tuh istilah 'nikah muda' atau 'nikah tua'. Lakukan apa yang sebaiknya dilakukan, beresin apa yang perlu diberesin biar nggak jadi penyesalan atau ungkitan buruk di kemudian hari. Toh, hidup nggak cuma soal mikirin nikah doang, tapi nikah juga perlu dipikirkan. Intinya, jangan gegabah dan libatkan Allah dalam setiap pilihan yang hadir sekali pun jika pilihan yang datang hanya satu.
Aku ingat, seorang murobbi zaman liqo di kuliah S1 dulu pernah menyampaikan 5 poin penting tentang jodoh menurut Al-Qur'an:
1. Memiliki sifat yang mirip (An-Nur: 26)
2. Diterima oleh keluarga (Asy-Syura: 11)
3. Memberi ketenangan (Ar-Rum: 21)
4. Mampu memahami (Al-Furqan: 74)
5. Memberikan rezeki yang baik (An-Nahl: 72)
Hehe, oke itu intermezzo tipis-tipis saja seputar resolusi kelima. Memang bahas soal jodoh itu nggak ada habisnya dan bukan kapasitasku juga membahasnya terlalu dalam. Biarlah itu menjadi rahasia yang akan terjawab di waktu yang tepat. Tapi lihat, tidak ada yang begitu membuncah dari kelima resolusi di atas, kan?
Pada dasarnya, aku sangat antusias menyambut usia 25 tahun yang menurut pendapat sebagian orang ialah usia seperempat abad yang penuh tantangan. Terjal, berbatu tajam, penuh luka, namun jika mampu melewatinya akan meningkatkan kedewasaan diri. Aku sendiri pun tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, ya setidaknya satu tahun ke depan.
Banyak orang memberi saran, "Rizka, bisakah kamu membuat planning atau resolusi lagi seperti dulu?". Aku tersenyum lalu berkata, "Ya bisa, tetapi hanya untuk pekerjaan atau hal yang sifatnya profesional". Sementara buat kehidupan sehari-hari, aku memilih untuk menjalaninya saja sesuai rencana Allah, akan lebih indah dan berwarna.
Bagiku, kehidupan akan lebih bermakna saat aku tidak mempunyai ekspektasi apa-apa. Kalau rezeki tentu saja Alhamdulillah, kalau enggak pun ya sudah tidak apa-apa. Itu dijadikan pengalaman berharga. Kuncinya bersyukur dan menaruh harapan hanya pada Allah. Aku nggak muluk.
Well, banyak yang mau disampaikan di tulisan kali ini. Tapi kayaknya dicukupkan sampai sini dulu ya. Mungkin kalau ada waktu, ceritanya bisa disambung Part 2. Semoga aku mampu ya melewati 25 tahun dengan baik, walaupun namanya hidup tetap saja ada yang 'asdfghjkl' hahaha. Sampai ketemu di cerita-cerita kontemplasi berikutnya.
Salam dariku,
Si Rizka yang memasuki usia 25 tahun (cieee met yaw).
Sama halnya dengan perpisahan dan kepergian orang terkasih. Banyak angan-angan yang ingin dilukis bersama mereka. Dan siapa sangka, semua ambruk begitu saja saat Allah meminta ia kembali ke pangkuan-Nya. Nyata memang kuasa-Nya. Tak seorang pun yang tahu kapan dan apa yang terjadi pada hidupnya sendiri.
Bicara soal mengikhlaskan, ini nampaknya agak rumit. Aku sendiri yang mengaku diri telah dewasa, belum sepenuhnya paham tentang mengikhlaskan. Entah karena masih terlalu duniawi, aku terkadang merasa ada hal-hal tidak adil pada serangkaian niat baik. Namun setelah dijalani, barulah mengerti, "oh ternyata ini maksudnya". Dan seringkali menyelamatkanku dari hal-hal buruk yang tak terpikir sebelumnya. Bersyukur? Tentu saja sangat bersyukur.
Begitu memang cara Allah menyadarkan hamba-Nya. Bukan hanya dari yang tak disukai, bahkan lewat sesuatu yang amat diinginkan. Manusia menyebutnya "Allah telah merampas keinginanku", padahal sebenarnya "Allah telah mengganti keinginanmu, sungguh semata agar kau selamat".
Sampai detik ini, aku terus belajar mengikhlaskan dan ini pelajaran yang tak pernah selesai. Seperti halnya soal ujian, tingkat kesulitannya selalu berbeda. Kadang kala, saat semua terasa seperti tak ada yang bisa diperbuat lagi, aku cuma bisa meratapi diri sendiri. Bukan merasa buruk, tapi bertanya, "kamu kenapa, Riz? kok susah sekali buat ikhlas?"
Kalau orang-orang bilang, "kamu kan udah gede, masa buat ikhlas aja susah? itu artinya ego kamu masih besar, itu tanda kamu belum dewasa". Maaf sungguh aku minta maaf, kadar dewasa seseorang bukan dilihat dari satu-dua hal yang ia hadapi dalam kesehariannya. Kedewasaan seseorang itu dilihat dari cara dia menempatkan diri di setiap situasi.
Jika kamu mengatakan seseorang belum dewasa hanya karena dia belum ikhlas, menurutku kamu belum mengenalnya lebih dekat. Sedewasa apa pun seseorang, pasti selalu ada titik di mana ia butuh waktu untuk merelakan sesuatu yang ia pikir miliknya tapi ternyata bukan.
Saat dia bicara pada dirinya sendiri, sejatinya itu salah satu bentuk kedewasaan. Hanya, dia berusaha mencari cara untuk bangkit dan terlihat baik kembali. Bukankah pulih itu butuh waktu?
Di usia 24 tahun -ketika menulis ini-, aku sadar betul ada begitu banyak keinginan lama yang pada akhirnya diikhlaskan. Namun entah bagaimana, semakin ke sini, karena 'terbiasa' mengikhlaskan itu membuat diri sendiri enggan terlalu berharap. Pada apa dan siapa pun.
Ya, apalagi berharap pada manusia. Karena tahu betul hati sendiri sangat rapuh, maka kuputuskan untuk tidak berharap pada manusia untuk urusan apa pun. Sekiranya sesuatu bisa kukerjakan sendiri, itulah yang diupayakan. Kalau memang sangat butuh bantuan, aku menjadi orang pemilih.
Bukan hanya memilih yang sepemahaman, tapi juga yang tulus. Dan itu rasanya semakin sulit karena seiring bertambah usia, circle pertemanan semakin sempit. Sekarang, kuantitas tak menjamin kualitas. Memang lebih menyenangkan punya teman banyak, tapi bukankah lebih nyaman berada di sekitar orang yang memang mengerti kita? Bahkan, saat kita hanya bisa bercerita lewat diam.
Semoga aku dan kamu -siapa pun yang membaca ini- termasuk orang yang selalu belajar mengikhlaskan dari hal kecil. Lalu ketika sesuatu terjadi tidak sesuai harapan, jangan salahkan diri. Justru berterimakasih karena sudah berjalan sejauh ini.
Bicara soal peringatan dan perayaan, saya sebetulnya tidak begitu tertarik. Memang, selama ini bahkan sejauh ini, di depan teman-teman, saya kerap berlagak happy ketika ada satu hal yang perlu dirayakan, misalnya saja "Perayaan Ulang Tahun". Tapi, andai mereka tahu, nyatanya di dalam hati saya tidak sesenang itu hehe.
Artinya, saya pura-pura? Hmm, mungkin sedikit saya benarkan. Berhubung, lingkungan orang-orang terdekat saya begitu gegap gempita menyambut momen seperti itu. Meski bagi beberapa orang, perayaan tidak melulu soal happy-happy, ya. Karena mungkin sebagian orang menganggap itu momen kumpul bersama. Ya tidak masalah, kok.
Begitu pula saya. Kepura-puraan saya selama ini di depan para teman ketika ada yang berulang tahun, sejatinya bukan untuk hal senang-senang. Tapi, karena saya menghargai betul momen baik itu. Momen saat saya bersama teman-teman sefrekuensi.
Bagi saya, kebersamaan seperti itu yang perlu dimaknai, bukan perayaannya. Karena, tidak ada yang pernah tahu kebersamaan bisa dilalui sampai kapan dan seberapa sering. Ujungnya, perpisahan juga yang menjadi 'batas'.
Ya biarlah, kepura-puraan itu menjadi urusan saya pribadi. Selama orang-orang di sekitar saya merasa baik, saya ingin mereka juga merasa nyaman dengan keberadaan saya. Bila 'perbedaan' cara pandang saya dalam memaknai hari lahir itu terlampau jauh berbeda, saya khawatir hanya menjadi alien di lautan manusia. Dan saya tidak ingin seperti itu.
Mengapa demikian? Sikap saya ini sebenarnya berangkat dari nasihat seorang mentor saya. Kebetulan, beliau adalah seorang peneliti dan psikolog. Suatu hari, beliau sempatkan menemui saya di salah satu sudut meja makan ketika satu kegiatan mempertemukan kami bersama.
Waktu itu, lama kami saling bertukar cerita lantaran lama tidak bersua. Sambil menunjukkan respon ekspresif sebagaimana yang kalian tahu tentang saya, beliau tiba-tiba tersenyum simpul pada satu pernyataan tentang keheranan saya melihat orang-orang yang saya temui sampai detik itu.
Dengan nada suara rendah, beliau bilang, "Rizka, saya senang sekali dengan perubahan sikap, pola pikir, cara pandang, sampai ilmu-ilmu baru yang berhasil kamu serap dari pengalamanmu. Kamu lebih dewasa dari usiamu seharusnya. Wajar, itu semua karena latar belakang keluarga dan perjalananmu yang tidak mudah."
"Tapi Rizka, apa-apa yang kamu pikirkan tentang perbedaan setiap orang, itu bukanlah kapasitasmu. Tentang orang-orang yang menurut kamu masih senang merayakan ini-itu di usia mereka yang seharusnya tak lagi begitu. Semua itu bukan kapasitas kamu."
"Terlampau diikuti, hanya akan membuat kamu menjadi alien. Dampaknya, kamu nanti jadi tidak punya teman. Jadi, kontrol egomu, lihat kondisi di sekitar. Bila masih bisa dimaklumi, maklumilah. Jangan ambil pusing, ya."
Kurang lebih intinya demikian yang beliau sampaikan. Saya pribadi tertegun. Bukan tidak terima, bahkan sangat legowo mendengar nasihat beliau. Saya diajak berpikir berkali-kali, tentang bagaimana pula saya di hadapan banyak orang.
Ah, pastinya banyak keanehan dalam diri saya yang mungkin orang tidak mau repot mengurusinya, alhasil mereka diam saja. Lantas, mengapa saya berani ikut campur tentang cara mereka menjalani hidup? Saya tidak punya hak sama sekali untuk itu.
Saya, manusia biasa. Bukan orang yang berhak menempatkan standar penilaian saya untuk orang lain. Begitu pula orang lain, tidak berhak menempatkan standar penilaian mereka pada saya.
Setiap orang selalu punya standar penilaian sendiri dan tidak seorang pun dari kita -yang mengaku manusia- bebas sesukanya mengubah poin dari standar tersebut. Dan standar itu sifatnya relatif, seperti halnya cantik-jelek, baik-buruk, mahal-murah, dan lain-lain.
Perihal perayaan dan peringatan, saya tak hanya punya standar, tapi juga prinsip. Bagi saya, perayaan dan peringatan bukan cuma soal waktu, tapi juga keberlanjutan.
Ya memang, saya begitu senang dengan hal-hal jangka panjang. Karena itu, saya memilih prinsip untuk memaknai perayaan dan peringatan lewat kesederhanaan cara berpikir saya.
Lebih tepatnya, menyederhanakan pikiran supaya saya tidak menyulitkan diri sendiri dan orang-orang di lingkungan sekitar saya. Jadi, bantu saya memahamimu, ya. Siapa pun kamu.
Tidak apa-apa. Jika sekarang kau
rasa rezekimu masih terasa kurang, susah dapat uang, atau mungkin usahamu
sedang sepi, mungkin Dia sedang melunakkan hatimu. Ya, agar nanti ketika sudah
berlebih rezekimu, hatimu tidak keras untuk mau membagi rezekimu ke siapa saja
yang membutuhkan. Tentu, oleh karena kau pernah berada di posisi mereka dulu.
Tidak apa-apa. Jika Dia
mengizinkan, sabarmu ini akan membukakan pintu-pintu rezekimu di lain hari
nanti. Mungkin memang bukan rezeki yang banyak, tapi yang pasti itu adalah
rezeki-rezeki yang baik.
Tidak apa-apa. Apapun pekerjaan
yang kau miliki, sadar tidak sadar, pekerjaanmu itu adalah jawaban dari doa
dirimu sendiri, diri sebelumnya. Pun, pekerjaanmu sekarang adalah buah dari
upaya-upayamu sebelumnya.
Tidak apa-apa. Toh, di luar sana
ada banyak sekali manusia yang menginginkan, berusaha dan berdoa, untuk bisa
memiliki pekerjaan yang kau miliki. Percayalah.
Tidak apa-apa. Daya juang bekerja
dalam hidup itu pentingnya luar biasa. Tiap kali kau menelan ketidaknyamanan, kau
sedang menjadikan dirimu lebih kuat, lebih hebat, lebih bijak, dan dewasa.
Tidak apa-apa. Segala sesuatu
yang dikerjakan sungguh-sungguh selalu akan bermakna besar dan sungguh-sungguh
dapat membuat seseorang menjadi besar. Itu benar.
Tidak apa-apa. Sesekali kau ingin
tertawakan semuanya juga boleh, asal bukan hidup yang menertawakanmu lalu
bilang, "kau payah!".
Jangan.
Bicara soal Ibu, kalau boleh dibilang, aku dan Ibu menjadi lebih dekat semenjak Bapak meninggal. Karena aku anak satu-satunya dan perempuan pula, maka aku mawas diri bahwa sepeninggal Bapak, hidupku bergantung pada diriku sendiri. Kendati begitu, aku tetap manusia biasa yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Namun kuharap dan berdoa, selagi diriku mampu, semoga aku tidak jadi orang yang merepotkan orang lain, barang sekecil apapun itu.
Judul tulisan ini ada kaitannya dengan perkataan Ibu. Lebih tepatnya, itu memang perkataan Ibu. Ya, Ibu minta maaf berkali-kali padaku, bahkan sampai detik ini jika pembahasan itu tak sengaja jadi bahan obrolan kami berdua. Ibu minta maaf, sebab dia merasa bersalah lantaran aku memutuskan pulang dari tanah perantauan, demi merawat Ibu di kampung halaman.
Satu lagi, belum lama ini Ibu berpesan banyak untukku yang sudah semakin dewasa. Kata Ibu, “Sekiranya ada yang berniat baik padamu, izinkan dia datang ke rumah ya, Ibu mau lihat dulu. Jangan tutup hatimu, jangan pikirkan juga kesendirian Ibu. Cukup cita-cita sekolahmu yang tertunda, tapi urusan hatimu jangan. Itu manusiawi, anak Ibu juga butuh teman bertukar pikiran, kan? Masa mau terus-terusan cerita sama ibu-ibu begini sih.”
Boleh dibilang, ini murni 'random thought' versi anak usia 22 tahun. Iseng saja sebenarnya dan nggak ada isi yang terlalu serius, menurut saya. Satu paket sudut pandang, seperti tertulis di judul tulisan ini, berawal dari pikiran liar yang setiap malam selalu bertambah. Bingung juga mau mulainya dari mana.
Belakangan ini, saya -mungkin bukan cuma saya- merasa seperti seorang pemain sepak bola tanpa 'supporter'. Entah karena saya yang tidak peka atau bagaimana, yang jelas saya semakin sulit terbuka pada orang-orang baru. Terkesan eksklusif ya? Iya, mungkin seperti itu.
"Semestaku semakin mengecil," kata-kata ini kerap berputar di kepala. Sungguh, pernah ada rasa takut setiap kali kalimat itu terlintas. Tapi nampaknya, itu memang tidak bisa dipungkiri. Beberapa kali saya merasa hidup saya benar-benar hidup. Hidung saya lega setiap kali menghirup nikmat udara. Meski berjalan sendiri, saya tidak masalah. Meski tidak ada pendukung yang bersorak-sorai, toh saya baik-baik saja.
Ada satu titik ketika saya merasa seperti tali layang-layang. Tarik ulur dengan realita dan masa lalu. Beruntungnya, belum lama ini saya telah menuntaskan 'utang' di masa lalu. Utang itu adalah cerita lampau yang sering membuat emosi saya naik-turun. Saya tidak punya tempat untuk menuangkan itu. Sekalipun ada, saya memilih tidak membagikannya secara cuma-cuma karena yang tahu caranya cuma saya sendiri. Jadi, untuk apa berbagi?
Hal-hal tidak terduga selalu hadir di depan saya tanpa ketuk pintu terlebih dahulu. Ia masuk begitu saja, nyelonong dan duduk sesuka hati di mana saja yang ia mau. Sebuah kesialan karena saya seringkali tidak punya persiapan. Kaget pasti. Tapi setelah berhasil melaluinya, saya diberi kebebasan memetik 'buah' mana yang saya mau dan dibawa 'pulang' untuk bekal.
Saya sulit terbuka, padahal dulu saya dikenal sangat cerewet. Saya pikir, "ah, sudahlah, mending aku tidur saja." Benar, hari-hari saya dipenuhi penat. Untuk protes pada ketidakadilan yang sering saya lihat di jalanan pun sulit saya komentari. Paling-paling, saya cuma ngomel sendiri di buku catatan, hanya supaya hati saya baik-baik saja.
Tidak bisa sesuka hati. Meskipun takdir sering datang sesuka hati, tapi saya tidak bisa sesuka hati itu pula. Lagi-lagi, ada yang tidak adil di sini. Tapi nggak apa-apa, justru dari sini saya belajar menjadi orang asing setiap hari. Saya seperti buah, perlu dikupas kulitnya dengan rapi untuk tahu rasa buahnya manis atau tidak. Saya perlu dikupas habis oleh si takdir itu, supaya ke depannya saya tahu rasa manis dan pahit. Supaya saya tidak merasa cuma hidup saya yang keras. Semua orang tengah berjuang, kau harus tahu itu.
Semua rencana dirombak habis. Habis-habisan. Inilah patah hati kedua yang saya punya setelah patah hati pertama kehilangan Bapak. Kau tahu, rasanya tak terbilang. Setengah mati saya kecewa pada takdir. Sungguh, saya berani bersumpah. Tapi sejak itu, saya tahu bagaimana mengobati luka saya sendiri, kemudian berdiri lagi, dan berlari dengan jujur dimulai dari garis awal. Sejak itu, saya tahu bagaimana tumbuh menjadi dewasa. Meski ini tak pernah saya minta, tapi beginilah cara Tuhan menjawab doa-doa saya. Jalannya terjal sekali, Kawan, dan sekali lagi kau harus tahu itu.
Tak pernah terpikir untuk membuat orang lain kagum. Ini receh. Suatu hari -belum lama ini-, saya tulis dalam buku catatan, "mengapa banyak sekali orang yang memuji, tapi sedikit sekali orang yang menawarkanmu pedang?". Artinya, orang-orang yang memberi pujian itu saya anggap hanya lalu. Sebaliknya, orang yang menawarkan saya pedang adalah sahabat karib. Saya berteman padanya, sekalipun dia tidak pernah meminta untuk menjadi teman saya.
Jujur pada diri sendiri itu seperti harta karun. Penemuan baru saya ini sangat mengobati luka. Saya pikir, masih sedikit orang yang punya ini karena kebanyakan orang mulai hidup untuk menuruti tingginya permintaan orang lain padanya. Orang-orang berbondong membuat dirinya seperti cermin untuk orang lain. Semua ramai minta dilihat, diperhatikan, diselamatkan, diabadikan, hingga disanjung. Padahal, hakikat hidup sebagai makhluk sosial tidak seperti itu? Iya, kan? Coba koreksi jika saya salah.
Bahagia saya sederhana. Bahagia saya adalah Ibu. Bahagia saya adalah adik-adik. Bahagia saya adalah berjalan sendiri, menikmati udara segar, tertawa tanpa ragu, dan bersyukur setiap hari. Bahagia saya adalah setiap kali bercerita pada-Nya selagi mampu, tentang apapun. Bahagia saya adalah memandang apa saja yang membuat orang lain bahagia. Bahagia saya adalah mendoakan kebahagiaan orang lain, karena itu sudah cukup.
Awal tahun lalu di Januari 2018, cerita ini benar terjadi. Bandara Soekarno-Hatta tempatnya. Waktu itu, aku menuju Jogja setelah satu malam sebelumnya mengunjungi kerabat di Bogor. Seperti biasanya, aku bepergian sendiri. Tidak peduli akan sampai atau tidak, atau bahkan perjalanan ternyata harus berhenti karena suatu hal, yang terpenting saat itu adalah jalan terus selagi bisa.
Bukan baru kemarin sore aku menjadi pejalan tunggal. Itu sudah dimulai sejak kecil. Tepatnya, semenjak aku punya idola. Ayahku.
Keyakinan untuk terus berjalan sendiri pun semakin diamini setelah kehilangan idola itu. Meski kerap kali menjadi asing, aku tahu bahwa segala sesuatu untukku telah dicukupkan.
Teranyar sore itu di bandara, aku memilih kursi dekat kaca di ruang tunggu bandara. Tak lama, perutku keroncongan. Aku baru ingat ternyata amunisi perutku belum diisi sedari siang tadi. Untunglah, bekal sekotak roti unyil dari kerabat di Bogor membuatku tidak perlu repot hilir mudik keluar bandara demi mencari camilan.
Hendak kusantap roti itu, sesuatu di tas kecilku bergetar. Ada panggilan di ponsel. Kubuka layar, tertulis "Mama".
Setelah gigitan kecil pertama untuk si roti, kugeser layar ponsel ke arah tanda hijau. Suara dari seberang terdengar.
"Uda di bandara, Nak?," kata wanita yang kuhapal betul warna suaranya.
"Uda, Ma. Ini lagi di ruang tunggu. Pesawatnya delay," jawabku sambil mengunyah pelan si roti.
"Uda sholat? Mama baru aja selesai sholat ini di sini," katanya.
"Alhamdulillah uda juga. Ini lagi makan roti unyil. Tadi dibawain Fifi yang di Bogor itu, Ma. Kelaparan ini soalnya," ujarku seraya tertawa kecil. Aku menyeringai, terbayang kondisi sudah beberapa kali terjadi setiap kali aku pergi jauh meninggalkan rumah.
"Ya ampun. Belum makan siang ya? Aduh, jangan hemat-hemat kali, Nak. Makan aja apa yang mau dimakan. Jangan ditahan-tahan seleranya. Uang tabungannya masih cukup sampai pulang ke Medan?," tanya Mama beruntun.
"Hahaha santai, Ma. Insya Allah di sini terjaga kok. Cuma memang ini perutnya jadi sering lapar karena jalan terus. Tabungan Alhamdulillah aman. Insya Allah bersisa kok nanti sampai di Medan. Semuanya sudah diperhitungkan, Ma," jawabku.
Entah sudah jadi kebiasaan sejak kapan, aku memang suka sekali membuat prioritas finansialku untuk satu hingga dua bulan ke depan. Hobiku menabung, lalu dipakai untuk membeli apa yang kusuka. Misalnya, membeli buku setiap bulan, menambah dekorasi kamar atau membeli cat dinding untuk merubah suasana kamar, hingga menyisihkannya untuk ditabung saja. Karenanya, setiap kali aku punya keinginan mengunjungi suatu tempat atau kota atau negara, sudah jauh-jauh hari kupersiapkan.
Sebab kebiasaan itu pula membuatku jarang atau bahkan lupa membawa oleh-oleh untuk teman-teman. Seringkali, ketika ditanyai soal buah tangan, aku memang menjawab jujur tidak ada. Untuk diri sendiri pun aku tak sempat beli. Kadang, ini juga yang membuatku terkesan pelit. Tak sedikit pula teman-teman jadi bersikap biasa saja lantaran mungkin tidak bisa kupenuhi maunya mereka.
Apa boleh buat, seperti itulah aku. Belum paham mengelola uang untuk tujuan lain. Tapi, sesekali aku pernah menyisihkan uang untuk persiapan seandainya ingin memberi hadiah untuk teman. Sayangnya, di tengah jalan, uangnya ludes kupakai untuk keperluan sekolah dan membeli buku. Sulit kubayangkan bagaimana rasanya menjadi teman-temanku. Pasti ada rasa 'enek' ketika menyadari hidupnya harus mengenal orang pelit dan perhitungan seperti ini.
***
Di ruang tunggu bandara itu, aku tiba-tiba merasa ada sepasang mata yang sedari tadi memerhatikan. Kujangkau mataku ke seluruh ruangan. Rupanya, seorang pria yang duduk tidak jauh dariku kedapatan melirik. Penampilannya khas seorang Ayah. Kuterka, usianya hampir lima puluh tahun. Ada rambut putih terlihat dan kulit wajahnya sedikit menurun.
Kulemparkan senyum seadanya dengan sedikit menurunkan kepala ketika mata itu ke arahku lagi. Tiba-tiba, beliau datang menghampiri. Kemudian duduk di depanku. Bisa kulihat jelas wajah beliau yang terlihat sederhana. Senyumnya teduh khas seorang Ayah.
"Dari mana, Nak?," kata beliau menyapa.
"Dari Bogor, Pak. Saya mau ke Jogja," jawabku ramah.
"Oh, saya juga mau ke Jogja. Tempat anak saya di sana," balas Bapak itu.
Kami pun mengobrol cukup lama. Hingga, terdengar suara operator bandara dari alat pengeras suara. Berikutnya diumumkan bahwa pesawat menuju Jogja sudah tiba di bandara dan akan segera berangkat 20 menit lagi. Para penumpang diminta segera naik ke pesawat udara. Perbincangan aku dan beliau tetap berlanjut di lorong menuju pintu masuk pesawat.
Tak lama kemudian, aku sudah duduk rapi di bangku penumpang sesuai nomor kursi di tiket yang kupegang. Aku dan si Bapak terpisah. Beliau duduk di kursi urutan belakang. Kupandangi lapangan bandara itu sebelum lepas landas. Sore itu, langit sarat akan makna. Ditambah, beberapa perkataan si Bapak tadi yang cukup membuatku yakin bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Sekalipun aku sering merasa asing di persimpangan jalan.
"Kamu pergi sendirian? Ke mana-mana sendirian? Tidak takut?," kata Bapak itu yang terngiang.
"Insya Allah tidak takut, Pak. Sekali pun saya harus takut, saya harap bukan takut pada apa atau siapa yang nyata di depan saya. Kalau yang nyata wujudnya, selama saya mampu, saya akan upaya lindungi diri sendiri. Saya harap, saya cukup takut pada apa yang seringnya tidak kelihatan. Pikiran saya. Saya takut sama diri saya sendiri. Takut kalau sampai saya tidak bisa bicara sama diri sendiri," jawabku waktu itu yang membuat wajah si Bapak seketika mengerut.
Dia terlihat berpikir memahami kata-kataku. Aku pun tidak berharap si Bapak paham betul maksudnya. Adalah hal wajar kalau ada orang yang sering tidak paham caraku bicara. Kata teman-teman, aku terlalu kaku. Bicaraku seperti kamus berjalan, baku sekali.
Tapi ternyata, si Bapak kemudian tersenyum. Dia seperti menemukan makna dari jawabanku tadi. Sebelum kami berdiri dan berjalan menuju petugas bandara untuk menunjukkan bukti tiket, beliau menepuk tas punggungku.
"Siapa namamu tadi, Nak?," tanyanya lagi.
"Rizka, Pak. Lengkapnya, Rizka Gusti Anggraini Sitanggang. Ayah saya mualaf. Ibu saya asli Jawa," jawabku lengkap seperti menghapal. Kemudian aku tertawa karena memang sengaja kujawab begitu sekadar bercanda.
"Hahaha mantap sekali jawabanmu," kata beliau ikut tertawa.
"Sore ini, Bapak bersyukur telah dipertemukan dengan Rizka. Rasanya obrolan tadi singkat sekali ya. Saya bahkan berharap pesawat datang lebih lambat sedikit lagi. Tapi pasti bisa diamuk massa seisi bandara ya hahaha," lanjutnya.
"Rizka anak hebat dan berani. Tidak masalah sendiri, ada Tuhan yang menyertai. Suatu hari, Bapak yakin akan ada orang baik yang akan jadi teman perjalananmu nanti. Orang baik yang bukan hanya jadi teman diskusimu, tetapi juga untuk Ibumu. Hidupmu memang berjalan tidak biasa, cukup berat kelihatannya. Tapi kita akan bertemu lagi di waktu yang baik tentunya, kan? Di pertemuan itu nanti, Bapak akan lihat Rizka berdiri jadi orang baik yang bermanfaat luas untuk banyak orang".
Begitulah penutup beliau. Setiba di Jogja dan sebelum berpisah, kami bertukar nomor ponsel.
"Pak, saya akan hubungi Bapak sepulang saya di Medan nanti. Pak, kita akan bertemu di waktu yang baik. Saya akan berdiri jadi orang baik yang bermanfaat bagi orang banyak. Seperti yang Bapak yakini dan doakan," ujarku setengah ingin menangis.
Beliau mengangguk cepat. "Pastikan kamu jaga Ibumu baik-baik. Pastikan kamu bisa berjalan lebih jauh lagi dari hari ini".











