• Home
    • Akademik
    • Diurna Rizka
    • Tulisan
    • _Writing Competition
    • _Blog Competition
    • _Writing Project
    • Petualangan
    Bicara soal zona nyaman, sekarang ini aku sedang berada di fase itu. Gara-gara terlalu nyaman, alhasil diri pun jadi ikut terlena. Kata beberapa orang sih, kondisi semacam ini kurang baik untuk perkembangan diri. Kita jadi orang yang stagnan dan cenderung malas memulai hal baru.

    Dari sekian banyak hal itu, salah satu yang berpengaruh besar adalah pekerjaan. Saat ini, aku menjalani jam kerja teratur. Masuk jam 9 pagi, pulangnya jam 5 sore. Kerja dari Senin sampai Sabtu, kadang-kadang dapat rotasi masuk di hari Minggu.

    Bukan maksud membandingkan, tapi memang pekerjaan saat ini jauh berbeda dari profesi sebelumnya. Dulu bekerja sebagai reporter tidak ada istilah 'istirahat'. Kalau sudah ada berita, kudu dikejar tuh narasumbernya.

    Bahkan, aku pernah memaksakan diri turun ke lapangan dengan kondisi sakit dan kaki habis jadi korban pukulan massa saat liputan sehari sebelumnya. Waktu itu, aku diberi amanah meliput peresmian MRT Jakarta oleh Presiden Jokowi dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Bayangin, gimana ramenya itu Bundaran HI dengan lautan manusia ibu kota.

    Ketika itu, aku tenggelam di antara manusia-manusia yang sibuk ingin swafoto dengan Presiden dan beberapa  artis yang turut hadir memeriahkan. Mereka berdesakan tak kenal kiri-kanan. Semua diterobos. Nahasnya, kakiku jadi korban. Alat perekam suara yang kupegang terlepas dari tangan, terinjak-injak, rusak.

    Yang terpikirku saat itu adalah menyelamatkan teman-teman wartawan TV yang punya alat lebih besar di bagian belakang. Jangan sampai kena korban juga. Posisiku paling depan, tepatnya setengah berlutut di depan Presiden yang terhalang garis pembatas bertuliskan 'PERS'.

    Akibat kejadian itu, aku tak kuat berjalan karena kaki luka. Aku pun harus digotong wartawan lain. Aku hubungi redaktur dan dia minta agar aku rotasi dengan reporter lain. Tapi ya namanya otak bebal, aku tetap meyakini diriku masih mampu. Sampai akhirnya, malam hari tiba di kamar kos dan aku meringis kesakitan.

    Begitulah sedikit cerita kilas balik dari pekerjaanku dulu. Hingga karena kondisi ibu menurun, aku pun pulang ke Medan. Niatnya, untuk sementara waktu sampai ibu pulih. 

    Dan kini, aku menggeluti pekerjaan baru, masih di bidang tulis-menulis juga. Bedanya, ini tidak turun ke lapangan. Hampir tidak ada interaksi dengan orang-orang di luar selama jam kerja, melainkan mentok di kantor saja.

    Bisa bayangkan, bagaimana kakiku gatal sekali ingin keluar setiap kali otak merasa butuh udara segar. Tapi, itu semua ku urungkan dan ku tahan. Ya selain pinggang sakit juga, pikiran pun tak karuan. Kata orang, capek pikiran itu justru lebih melelahkan ketimbang capek fisik. Benarkah?

    Kembali lagi bicara soal zona nyaman. Kalau boleh jujur, aku belum menemukan apa yang sering orang bilang 'bekerja untuk kepuasan batin'. Lingkungan kerja boleh saja baik, pekerjaan boleh saja nyaman, tapi bagaimana kalau ternyata hati tidak merasa 'penuh'?

    Intinya, aku bekerja mengejar waktu, bukan menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Dengan waktu kerja 8 jam sehari, aku dituntut untuk bekerja secepat dan sebanyak mungkin. Soal kualitas, itu menyusul dengan banyaknya jumlah. Bisakah kau bayangkan itu, Kawan?

    Ini masih ceritaku dan kau belum dengar saja cerita dari teman-teman yang lain. Mereka punya 'kepelikan' sendiri juga. Bahkan, mereka yang lebih dulu menggeluti pekerjaan itu pun menyimpan suka-duka di dalam hati. Sebagian sudah aku dengar secara langsung, tapi pasti ada banyak lagi yang aku tak tau. Toh, tidak semua harus diumbar, kan?

    Sementara sisi lainnya, aku menemukan keluarga baru di sini. Mereka sangat baik. Aku merasa punya abang dan kakak, karena aku sendiri anak tunggal. Tapi aku tau, mereka memiliki beban hidup masing-masing. Jadi, tak etis rasanya kalau aku ingin banyak curhat ini dan itu, seperti halnya orang lain bisa curhat ke kakak atau abangnya.

    Maklum, sedari kecil aku tak pernah merasakan punya saudara kandung. Tempat curhat terpercayaku adalah Bapak. Itu pun Bapak 'berpulang' duluan saat usiaku 15 tahun. Sejak itu, aku berupaya menjadi wadah bercerita untuk ibu dan keluarga lain. 

    Ceritaku sendiri sering kutuangkan di buku harian atau membiarkannya hilang begitu saja. Karena lama-lama kupikir, ceritaku ternyata tidak sepenting itu juga untuk diketahui banyak orang. Orang tak pernah benar-benar tahu tentang proses yang dijalani. Kau harus sadari itu juga ya :)

    Implementasi 'berdikari' itu pun ternyata tak semudah slogan yang bergaung di mana-mana. Egomu harus berani kau gantungkan. Kalau tidak, kau tenggelam dengan perasaan dan pikiran 'susah'-mu sendiri. Sementara, orang lain di luar sana sudah bergerak sekian langkah. Kita tertinggal.

    Balik lagi ke topik. Sepanjang pernah bekerja sejak duduk di bangku sekolah, ini adalah zona nyamanku. Bila dibiarkan lama, ini tak baik untuk diriku sendiri. Seberapa lama aku bisa bertahan di sini pun tidak ada yang tahu.

    Hikmahnya, kalau tidak begini, aku pasti akan menganggap segala sesuatu bisa berjalan seperti inginku saja. Padahal, hidup ini kan ada timbal-balik. Salah satunya, kita tak bisa memprediksi apapun takdir Tuhan. Semua sudah digariskan sedemikian rupa.

    Pun kalau tak merasakan pengalaman begini, mana mungkin aku bisa menyelesaikan tulisan ini. Seandainya pun bisa, pasti kebanyakan isinya adalah hoax atau khayalan kan haha. Tak apalah, ini artinya aku diminta belajar 'membaca situasi'. Mungkin, ini juga langkah supaya aku semakin dewasa dalam berpikir dan bertindak.

    Zona nyaman memang tak benar-benar menyenangkan. Hidup seolah berjalan biasa saja. Hampir tidak ada tantangan yang membuat kualitas diri meningkat. Hanya kupikir, zona ini perlu dirasakan setiap orang agar lebih banyak menghargai serta bersyukur.

    Yang mungkin terlalu banyak bicara, bisa mengurangi kadarnya. Yang mungkin terlalu sering bercanda, ada baiknya diseimbangkan dengan hal bermanfaat lain.

    Hidup ini memang pilihan, tapi tidak selamanya hanya baik dan buruk.
    Ada pula yang tidak pernah absen hadir dalam mimpi.
    Adalah niat, kemauan, dan usaha sungguh-sungguh.

    You know, I'm not everything I want to be.
    But I'm more than I was, and I'm still learning. 
    I have used to be real :)

    Medan, 4 Desember 2019.
    Meja belajar Rizka.
    Continue Reading

    Sebenarnya, istilah nokturnal lebih tepat diperuntukkan bagi hewan. Hewan giat malam atau hewan nokturnal adalah hewan yang tidur pada siang hari, dan aktif pada malam hari. Aktivitas yang merupakan kebalikan dari perilaku manusia (diurnal). Tapi aku masih belum tahu apa nama lain untuk menyebutkan perilaku manusia yang aktif pada malam hari, tapi tidak tidur di siang hari -sebab bekerja dari pagi hingga sore-. Sulit sekali cara berpikirku, ah sudahlah.

    Semasa kuliah, aku termasuk orang yang aktif pada malam hari, terlalu aktif bahkan. Aku bisa tiba-tiba menggambar, melukis di kanvas, bermain tinta, atau juga menulis di tengah kesunyian saat orang-orang tertidur pulas. Ya, seperti yang kulakukan saat ini. Menulis di saat orang merebahkan tubuh di kasur untuk melepas penat seharian beraktivitas.

    Ada yang mengatakan bahwa seseorang dengan jam tidur lebih sedikit, memiliki pola pikir lebih tajam, atau kata lainnya orang itu cenderung cerdas. Tapi, kalau berkaca dari pernyataan itu dan melihat kepada kebiasaanku yang punya jam tidur lebih sedikit setiap hari, rasanya aku masih jauh dari kata 'cerdas'.

    Sedari duduk di bangku SMP, aku mulai terbiasa tidur di atas jam 12 malam. Alasannya, karena belajar. Dan lagi, dulu itu tugas-tugas sekolah seabrek. Aku bahkan heran melihat masa sekolah di zamanku dengan di zaman sekarang yang notabene para siswanya lebih doyan main ketimbang belajar. Sempat berpikir, "kok sekarang anak-anak sekolah uda mulai menurun minat belajarnya?".

    Tapi lagi-lagi, aku tidak bisa menyamakan semuanya seperti pikiranku itu. Bisa jadi, ada banyak anak-anak sekolah di luar sana yang belajar mati-matian dan merelakan waktu bermainnya demi sekadar membuka buku, barang satu atau dua halaman per hari. Aku termasuk yang demikian, sedari dulu tidak pernah punya jam bermain spesifik. Almarhum Bapakku bilang, "bermain itu bisa kapan saja, sampai tutup usia juga bisa bermain, tapi apa manfaatnya? nggak ada. Jadi mending belajar saja, itu bisa mengantarkan kita dengan hal-hal tidak terduga lainnya, dan bisa jadi amal jariyah kalau sudah tiada."

    Aku mengamini kata-kata Bapak sampai sekarang. Karena itu jugalah, aku masih sering kurang tidur. Padahal saat ini aku sudah bekerja dengan jam kerja teratur. Masuk kerja jam sembilan pagi dan pulang jam lima sore. Energi terkuras selama delapan jam bekerja dan malamnya ditambah dengan kegiatan amburadul versiku sendiri. Entah apa namanya itu, hobi atau memang kurang kerjaan, sepertinya beda tipis.

    Seperti malam ini pula, aku menulis 'apa namanya ini' hanya untuk sekadar menghibur diri. Padahal pekerjaanku pun setiap harinya menulis. Selalu menulis. Memangnya kerja menulis selama delapan jam di kantor itu kurang banyak? Wah, bukan kurang banyak sih, tapi lebih tepatnya cukup banyak hehe. Tapi semuanya harus disyukuri, toh sadar atau tidak, kita ini hidup memang lebih banyak mengeluh ketimbang bersyukur.

    Belakangan ini pun aku kurang tidur dan tentu berpengaruh pada fokus pekerjaan di kantor. Sempat merasa mengantuk ketika memasuki 'waktu kritis' selesai makan siang dan salat Dzuhur. Enaknya tidur, tapi enggak bisa karena kudu kerja! Pokoknya kerja terus sampai kandas, semuanya dilakukan demi kerja, hidup kerja! (sindiran).

    Di awal-awal bekerja, aku termasuk hidup teratur. Selesai salat Isya, pasti langsung tidur dan bangun Subuh keesokan harinya (tapi kadang bangunnya bisa lebih cepat). Anjuran tidur delapan jam sehari untuk orang dewasa pun mulai aku terapkan. Tapi nampaknya akhir-akhir ini ada saja pekerjaan tambahan di malam hari yang membuatku terpaksa mengurungkan niat untuk tidur awal. Entah sampai kapan kebiasaan buruk ini bisa diredam, tapi semoga saja ada jalan keluarnya. Ya, setidaknya hidup bisa lebih tenang, teratur, dan sehat.
    Continue Reading
    "Are you okay?", semakin bertambah usiamu, maka semakin sedikit pula kamu mendengar pertanyaan ini dari orang-orang di sekitarmu. Sekali pun pada mereka yang mungkin selama ini kamu anggap yang terdekat dan paling mengerti.

    "Are you okay?", diksi yang sering diabaikan, padahal maknanya sama seperti kamu mengobati lukamu sendiri. Teduh sekali rasanya ketika ada yang menanyakan apakah kamu baik-baik saja atau tidak, sekali pun dia hanya sekadar ingin tahu saja dan tidak berniat memberimu 'payung' supaya kamu tidak kehujanan.

    "Are you okay?", kapan terakhir kali kamu tanyakan ini pada dirimu sendiri atau pada mereka yang kamu sayangi-menyayangimu? Pasti kamu sendiri hampir lupa, bukan? Padahal kamu mengaku perjalananmu sudah panjang sekali, tapi menanyakan kabar orang sekitarmu saja kamu sering abai. Atau bahkan, kamu sendiri tidak tahu harusnya pertanyaan ini ditujukan kepada orang lain atau dirimu sendiri? Pasalnya, kamu pun menunggu pula orang bertanya hal itu padamu.

    Sebab "Are you okay?" menjadi alasan mengapa aku tidak suka dengan orang 'dingin', tapi tidak berarti pula aku senang bergaul dengan mereka yang suka mengumbar tawa. Yang sedang-sedang sajalah. Ketika berbicara, obrolan saling bersahutan. Ketika diajak bercanda, tertawa dicukupkan. Sama seperti berdoa, yang sering dikatakan orang "berdoa selesai", padahal berdoa tidak pernah selesai, melainkan hanya "dicukupkan".

    "Are You okay?", teguran untuk diri sendiri. Mungkin karena aku jarang bertanya demikian pada orang sekitar, itu pula jadi alasan aku jarang ditanya demikian. Oh, atau mungkin pernah kudapatkan, hanya saja aku ingkar membalasnya. Manusia, suka ingkar pada kata-kata dan prinsipnya sendiri, seringkali.

    Mulai besok, bisakah kamu berjanji? Berjanji untuk lebih peka pada orang-orang di sekitarmu? Bukan untuk menuai pujian, hanya sebagai pengingat bahwa nalurimu sebagai manusia masih ada. Bertanyalah, toh bertanya tidak pernah dilarang, bukan? Lapor padaku jika ada yang demikian, biar kita doakan bersama.

    Mulai besok, bantu ingatkan aku jika ternyata ada sesuatu yang lupa kutanya kabarnya. "Are you okay?," bahkan tidak menguras waktu-tenaga-pikiran. "Are you okay?", bahkan hanya meminjam 2-3 detik saja dari waktumu, sisanya terserah padamu.

    Tapi, ada satu hal yang harus kamu ingat. Jika nanti seandainya kamu sedang membutuhkan "Are you okay?" dari orang-orang di sekitarmu dan kamu tidak mendapatkannya saat itu juga, maka katakan "Are you okay?" pada siapa saja di sekitarmu saat itu. Dengan begitu, kamu sudah menabung kata-kata itu untuk waktu mendatang, mungkin ketika kamu sedang sakit parah, dirundung masalah, atau salah satu orang terkasihmu pergi lebih dulu.
    Continue Reading


    Sejak Ibu dikabarkan sakit pada Februari 2019, aku menjadi orang yang sensitif dengan kata ‘Ibu’. Meski demikian, aku berusaha menjadi orang yang periang, seperti orang-orang menilai di perkenalan pertama. Di sini, aku belajar cara melakoni peran ketika menjadi orang dewasa, anak remaja, kakak, adik, atau bahkan bisa jadi saingan bagi orang lain. Bukankah hidup ini panggung sandiwara di mana setiap orang diberi peran masing-masing?

    Bicara soal Ibu, kalau boleh dibilang, aku dan Ibu menjadi lebih dekat semenjak Bapak meninggal. Karena aku anak satu-satunya dan perempuan pula, maka aku mawas diri bahwa sepeninggal Bapak, hidupku bergantung pada diriku sendiri. Kendati begitu, aku tetap manusia biasa yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Namun kuharap dan berdoa, selagi diriku mampu, semoga aku tidak jadi orang yang merepotkan orang lain, barang sekecil apapun itu.

    Judul tulisan ini ada kaitannya dengan perkataan Ibu. Lebih tepatnya, itu memang perkataan Ibu. Ya, Ibu minta maaf berkali-kali padaku, bahkan sampai detik ini jika pembahasan itu tak sengaja jadi bahan obrolan kami berdua. Ibu minta maaf, sebab dia merasa bersalah lantaran aku memutuskan pulang dari tanah perantauan, demi merawat Ibu di kampung halaman.

    Pikirku, untuk apa dapat pekerjaan hebat di kota orang, tapi Ibu sendiri aku harus berpikir dua kali. Maka kuputuskan pulang, setidaknya sampai kondisi Ibu cukup membaik, kalaupun nanti aku ingin melanjutkan perantauan lagi.

    Memang, keinginan untuk merantau lagi sangatlah besar. Tujuanku tidak muluk-muluk, aku hanya ingin sekolah lagi. Itu saja. Setelah sekolah selesai, aku berniat ingin pulang ke kampung halaman lagi dan mencari pekerjaan layak di sini. Tapi ternyata, Allah berkata lain, dan memintaku menjeda cita-cita itu. Ada tugas lebih penting daripada itu.

    Sejak itulah, Ibu merasa punya salah besar pada anaknya. Sudah kubilang, tidak apa-apa. Tapi ternyata itu jadi pikiran Ibu berhari-hari, sampai hari ini. “Maaf ya, Nak, cita-citamu untuk lanjut sekolah belum tercapai,” kata Ibu.

    Kondisi Ibu sekarang sudah cukup membaik, Alhamdulillah. Hanya, tanpa Ibu sadari atau tidak, sejak kejadian Ibu operasi saat aku masih di perantauan, itu jadi pukulan telak buat anaknya. Aku jadi lebih tertutup pada siapapun, meski kalau orang-orang melihat sepertinya biasa saja. Tapi bukankah kesedihan memang sebaiknya tidak perlu diumbar-umbar toh? Sedih dan bahagia itu tidak jauh berbeda, bahkan hampir mirip. Datangnya suka tiba-tiba, terkadang tanpa harus ada alasan, dan tidak baik kalau diumbar ke banyak orang.

    Beberapa tulisan terakhir di blog memang isinya tidak jauh-jauh dari ini, sedikit banyaknya hampir mengarah kepada hal yang sama. Semua tentang ‘kapal berlayar’, terkena ombak pasang-surut, berpegangan pada poros kompas, dan melaju dengan berani. Hebat betul ‘kapal’ itu kalau seandainya bisa berlabuh dengan selamat, tidak hancur. Aku mau seperti itu!

    Kalau boleh aku bercerita, setiap Minggu aku punya satu kebiasaan yang tidak pernah kuceritakan pada Ibu sejak kepulanganku dari perantauan. Setiap Minggu pagi, aku sempatkan bertandang ke ‘rumah’ Bapak. Letaknya paling sudut sebelah kanan, tepat di bawah pohon rimbun. Rumah Bapak teduh betul, andai kau tahu. Dindingnya semua terlapis warna putih, sesuai permintaan Bapak. Tanpa bunga dan air, aku datang saja sekadar mampir. Di balik nisan yang tersemat namanya itu, aku berbisik, “Pak, bagaimana satu pekanmu? Aku baik-baik saja. Pekerjaanku pun baik-baik saja. Semoga pekanmu juga begitu baik ya, Pak.”

    Di ujung nisannya, aku berjongkok dengan menadahkan kedua tangan. Beberapa hafalan yang mulai kudapat dari Ummi (guru mengajiku setiap Minggu), kulafalkan untuk keteduhan Bapak di rumahnya. Bapak dengar, Bapak rasa. Sebelum ku tutup doaku, pesan yang selalu ku sematkan, “Allah Satu Yang Maha Tahu, aku ingin sekolah lagi, mewujudkan cita-cita Bapak yang satu itu. Supaya Ibu tidak merasa bersalah lagi pada anaknya. Tolong, bantu dan bimbing aku untuk melangkah lagi.”

    Setiap kali pulang dari persinggahan itu, aku merasa lega. Mungkin, rasa bersalah Ibu akan sulit terobati, sampai akhirnya nanti aku benar-benar bisa sekolah lagi. Semoga Allah jabah doa Ibu.

    Satu lagi, belum lama ini Ibu berpesan banyak untukku yang sudah semakin dewasa. Kata Ibu, “Sekiranya ada yang berniat baik padamu, izinkan dia datang ke rumah ya, Ibu mau lihat dulu. Jangan tutup hatimu, jangan pikirkan juga kesendirian Ibu. Cukup cita-cita sekolahmu yang tertunda, tapi urusan hatimu jangan. Itu manusiawi, anak Ibu juga butuh teman bertukar pikiran, kan? Masa mau terus-terusan cerita sama ibu-ibu begini sih.”

    Ibuku, begitulah wataknya. Berbeda sangat jauh daripada anaknya. Aku lebih tertutup, sementara Ibu sangat terbuka. Aku mampu menahan tangis, tapi Ibu tak bisa bendung air matanya. Aku suka hal-hal unik dan menantang, Ibu justru suka hal-hal pasti dan kerap menghindari bahaya. Aku punya segudang pertanyaan, sementara Ibu memilih zona nyaman.

    Untuk Ibu, aku sudah tidak apa-apa. Jangan lagi meminta maaf, sebab bukan salahmu juga. Aku diminta belajar lagi, kurasa Dia sedang memberiku soal-soal ujian lanjutan, tapi belum tahu kapan soal itu akan dibagikan. Kuharap, aku bisa menjawab setiap soal, sekalipun itu yang tersulit. Sekarang ini, sedang kucari kisi-kisi untuk menjawab soal itu. Aku mulai tahu caranya, sedikit  lagi hampir sampai. Doakan aku, itu saja sudah lebih dari cukup.

    Ibu, sehat-sehatlah selalu. Jangan khawatir, anakmu akan segera sekolah lagi dalam waktu dekat. Percaya. Bukankah Dia selalu jadi yang utama? Bukankah Dia selalu punya kejutan?
    Continue Reading

    Awal tahun lalu di Januari 2018, cerita ini benar terjadi. Bandara Soekarno-Hatta tempatnya. Waktu itu, aku menuju Jogja setelah satu malam sebelumnya mengunjungi kerabat di Bogor. Seperti biasanya, aku bepergian sendiri. Tidak peduli akan sampai atau tidak, atau bahkan perjalanan ternyata harus berhenti karena suatu hal, yang terpenting saat itu adalah jalan terus selagi bisa.

    Bukan baru kemarin sore aku menjadi pejalan tunggal. Itu sudah dimulai sejak kecil. Tepatnya, semenjak aku punya idola. Ayahku.
    Keyakinan untuk terus berjalan sendiri pun semakin diamini setelah kehilangan idola itu. Meski kerap kali menjadi asing, aku tahu bahwa segala sesuatu untukku telah dicukupkan.

    Teranyar sore itu di bandara, aku memilih kursi dekat kaca di ruang tunggu bandara. Tak lama, perutku keroncongan. Aku baru ingat ternyata amunisi perutku belum diisi sedari siang tadi. Untunglah, bekal sekotak roti unyil dari kerabat di Bogor membuatku tidak perlu repot hilir mudik keluar bandara demi mencari camilan.

    Hendak kusantap roti itu, sesuatu di tas kecilku bergetar. Ada panggilan di ponsel. Kubuka layar, tertulis "Mama".
    Setelah gigitan kecil pertama untuk si roti, kugeser layar ponsel ke arah tanda hijau. Suara dari seberang terdengar.

    "Uda di bandara, Nak?," kata wanita yang kuhapal betul warna suaranya.

    "Uda, Ma. Ini lagi di ruang tunggu. Pesawatnya delay," jawabku sambil mengunyah pelan si roti.

    "Uda sholat? Mama baru aja selesai sholat ini di sini," katanya.

    "Alhamdulillah uda juga. Ini lagi makan roti unyil. Tadi dibawain Fifi yang di Bogor itu, Ma. Kelaparan ini soalnya," ujarku seraya tertawa kecil. Aku menyeringai, terbayang kondisi sudah beberapa kali terjadi setiap kali aku pergi jauh meninggalkan rumah.

    "Ya ampun. Belum makan siang ya? Aduh, jangan hemat-hemat kali, Nak. Makan aja apa yang mau dimakan. Jangan ditahan-tahan seleranya. Uang tabungannya masih cukup sampai pulang ke Medan?," tanya Mama beruntun.

    "Hahaha santai, Ma. Insya Allah di sini terjaga kok. Cuma memang ini perutnya jadi sering lapar karena jalan terus. Tabungan Alhamdulillah aman. Insya Allah bersisa kok nanti sampai di Medan. Semuanya sudah diperhitungkan, Ma," jawabku.

    Entah sudah jadi kebiasaan sejak kapan, aku memang suka sekali membuat prioritas finansialku untuk satu hingga  dua bulan ke depan. Hobiku menabung, lalu dipakai untuk membeli apa yang kusuka. Misalnya, membeli buku setiap bulan, menambah dekorasi kamar atau membeli cat dinding untuk merubah suasana kamar, hingga menyisihkannya untuk ditabung saja. Karenanya, setiap kali aku punya keinginan mengunjungi suatu tempat atau kota atau negara, sudah jauh-jauh hari kupersiapkan.

    Sebab kebiasaan itu pula membuatku jarang atau bahkan lupa membawa oleh-oleh untuk teman-teman. Seringkali, ketika ditanyai soal buah tangan, aku memang menjawab jujur tidak ada. Untuk diri sendiri pun aku tak sempat beli. Kadang, ini juga yang membuatku terkesan pelit. Tak sedikit pula teman-teman jadi bersikap biasa saja lantaran mungkin tidak bisa kupenuhi maunya mereka.

    Apa boleh buat, seperti itulah aku. Belum paham mengelola uang untuk tujuan lain. Tapi, sesekali aku pernah menyisihkan uang untuk persiapan seandainya ingin memberi hadiah untuk teman. Sayangnya, di tengah jalan, uangnya ludes kupakai untuk keperluan sekolah dan membeli buku. Sulit kubayangkan bagaimana rasanya menjadi teman-temanku. Pasti ada rasa 'enek' ketika menyadari hidupnya harus mengenal orang pelit dan perhitungan seperti ini.

    ***
    Di ruang tunggu bandara itu, aku tiba-tiba merasa ada sepasang mata yang sedari tadi memerhatikan. Kujangkau mataku ke seluruh ruangan. Rupanya, seorang pria yang duduk tidak jauh dariku kedapatan melirik. Penampilannya khas seorang Ayah. Kuterka, usianya hampir lima puluh tahun. Ada rambut putih terlihat dan kulit wajahnya sedikit menurun.

    Kulemparkan senyum seadanya dengan sedikit menurunkan kepala ketika mata itu ke arahku lagi. Tiba-tiba, beliau datang menghampiri. Kemudian duduk di depanku. Bisa kulihat jelas wajah beliau yang terlihat sederhana. Senyumnya teduh khas seorang Ayah.

    "Dari mana, Nak?," kata beliau menyapa.

    "Dari Bogor, Pak. Saya mau ke Jogja," jawabku ramah.

    "Oh, saya juga mau ke Jogja. Tempat anak saya di sana," balas Bapak itu.

    Kami pun mengobrol cukup lama. Hingga, terdengar suara operator bandara dari alat pengeras suara. Berikutnya diumumkan bahwa pesawat menuju Jogja sudah tiba di bandara dan akan segera berangkat 20 menit lagi. Para penumpang diminta segera naik ke pesawat udara. Perbincangan aku dan beliau tetap berlanjut di lorong menuju pintu masuk pesawat.

    Tak lama kemudian, aku sudah duduk rapi di bangku penumpang sesuai nomor kursi di tiket yang kupegang. Aku dan si Bapak terpisah. Beliau duduk di kursi urutan belakang. Kupandangi lapangan bandara itu sebelum lepas landas. Sore itu, langit sarat akan makna. Ditambah, beberapa perkataan si Bapak tadi yang cukup membuatku yakin bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Sekalipun aku sering merasa asing di persimpangan jalan.

    "Kamu pergi sendirian? Ke mana-mana sendirian? Tidak takut?," kata Bapak itu yang terngiang.

    "Insya Allah tidak takut, Pak. Sekali pun saya harus takut, saya harap bukan takut pada apa atau siapa yang nyata di depan saya. Kalau yang nyata wujudnya, selama saya mampu, saya akan upaya lindungi diri sendiri. Saya harap, saya cukup takut pada apa yang seringnya tidak kelihatan. Pikiran saya. Saya takut sama diri saya sendiri. Takut kalau sampai saya tidak bisa bicara sama diri sendiri," jawabku waktu itu yang membuat wajah si Bapak seketika mengerut.

    Dia terlihat berpikir memahami kata-kataku. Aku pun tidak berharap si Bapak paham betul maksudnya. Adalah hal wajar kalau ada orang yang sering tidak paham caraku bicara. Kata teman-teman, aku terlalu kaku. Bicaraku seperti kamus berjalan, baku sekali.

    Tapi ternyata, si Bapak kemudian tersenyum. Dia seperti menemukan makna dari jawabanku tadi. Sebelum kami berdiri dan berjalan menuju petugas bandara untuk menunjukkan bukti tiket, beliau menepuk tas punggungku.

    "Siapa namamu tadi, Nak?," tanyanya lagi.

    "Rizka, Pak. Lengkapnya, Rizka Gusti Anggraini Sitanggang. Ayah saya mualaf. Ibu saya asli Jawa," jawabku lengkap seperti menghapal. Kemudian aku tertawa karena memang sengaja kujawab begitu sekadar bercanda.

    "Hahaha mantap sekali jawabanmu," kata beliau ikut tertawa.

    "Sore ini, Bapak bersyukur telah dipertemukan dengan Rizka. Rasanya obrolan tadi singkat sekali ya. Saya bahkan berharap pesawat datang lebih lambat sedikit lagi. Tapi pasti bisa diamuk massa seisi bandara ya hahaha," lanjutnya.

    "Rizka anak hebat dan berani. Tidak masalah sendiri, ada Tuhan yang menyertai. Suatu hari, Bapak yakin akan ada orang baik yang akan jadi teman perjalananmu nanti. Orang baik yang bukan hanya jadi teman diskusimu, tetapi juga untuk Ibumu. Hidupmu memang berjalan tidak biasa, cukup berat kelihatannya. Tapi kita akan bertemu lagi di waktu yang baik tentunya, kan? Di pertemuan itu nanti, Bapak akan lihat Rizka berdiri jadi orang baik yang bermanfaat luas untuk banyak orang".

    Begitulah penutup beliau. Setiba di Jogja dan sebelum berpisah, kami bertukar nomor ponsel.

    "Pak, saya akan hubungi Bapak sepulang saya di Medan nanti. Pak, kita akan bertemu di waktu yang baik. Saya akan berdiri jadi orang baik yang bermanfaat bagi orang banyak. Seperti yang Bapak yakini dan doakan," ujarku setengah ingin menangis.

    Beliau mengangguk cepat. "Pastikan kamu jaga Ibumu baik-baik. Pastikan kamu bisa berjalan lebih jauh lagi dari hari ini".
    Continue Reading
    Jika lelah dengan sekian hal yang terjadi di dunia, ingat saja bahwa akan ada dan selalu ada orang-orang yang tetap bisa dekat dengan kita, menganggap kita istimewa, dan menjadi sebaik-baiknya pendengar selain diri kita sendiri.

    ***
    Sudah lama enggak nulis, eh sekalinya nulis enggak lama hehe. Empat bulan terakhir ini, ada beberapa draft tulisan yang aku rasa cukup disimpan saja di laptop. Hmm, sebenarnya bukan karena isinya bersifat privasi, tapi setelah menuangkan unek-unek itu ke dalam tulisan, aku cukupkan sampai disitu dan enggak mau dibagikan. Karena niatnya memang mau cerita dan rasanya cukup beberapa hal aja yang orang lain perlu tahu. Mungkin pengaruh usia atau apa namanya itu, tapi makin kesini aku lebih sering berusaha “mencukupkan diri”. Kalau bukan diri sendiri yang mencukupkan apa yang kita punya, terus siapa lagi kan ya ? hehehe.

    13 Desember 2018 kemarin menjadi hari dimana aku melihat Mama lebih kuat dari biasanya. Yang aku tahu, Mama tipikal orang yang gampang nangis. Tapi waktu itu aku enggak lihat itu di wajah Mama. Walaupun di akhir-akhirnya Mama nangis juga sebentar, tapi menurutku ada sesuatu yang ia kuatkan di dalam dirinya. Beda mungkin samaku, yang untuk nangis aja masih bingung harus nangis karena apa. Atau mungkin karena sebelum-sebelumnya uda sering ngerasain kecewa kali ya (ceilah), jadi sampai hambar sama perasaan sendiri. Sedih sedu sedan atau apalah namanya itu, bukan lagi jadi makanan buatku. Kalau dulu, mungkin iya. Kalau sekarang, kayaknya pikir-pikir dulu deh alasan buat nangis.

    Ada yang bilang, “udah nangis aja daripada ditahan ntar jadi sakit.. lagian ngapain sih nangis ditahan ? emang hatimu sekuat baja ? itu kan manusiawi”, gitu. Iya sih, enggak salah juga orang lain berpendapat. Enggak salah juga orang lain ngomentari. Tapi mungkin karena di beberapa sikon, ada yang enggak orang lain tahu tentang kita dan kehidupan kita. Bukan beberapa, bahkan banyak. Sulit juga buat kita ngejelasin ke orang-orang tentang apa yang kita rasain, yang kita alami, yang jadi rencana kita (meskipun Allah uda ngatur jalan hidup setiap hamba-Nya), dan yang jadi alasan kenapa kita harus dan nggak harus buat begini-begitu. Kan enggak mungkin juga kita ngomong gini, “kamu tuh harus tau, kalau aku itu bla bla bla.. kamu tuh harus ngerasain apa yang aku rasain”. Ealah, itu orang drama queen banget. Emang dia doang yang punya “kerikil tajam” di hidupnya.

    Mau cari sampai ke ujung dunia pun, yang tahu siapa kita dan apa yang harus kita ambil, itu ya cuma diri kita sendiri. Enggak perlu nambah beban hidup orang lain dengan minta orang lain untuk ngertiin hidup kita lagi. Kalau mau berbagi, sok atuh berbagi. Tapi ya jangan jatuh-jatuhnya malah minta diurusin segala macemnya, itu namanya kan nyusahin orang lain ya. Beda halnya dengan meminta bantuan atau pertolongan orang lain. Secara definisi dan praktiknya, jelas berbeda. Perlu dijelasin banget nih ? Hmm kayaknya enggak usah ya, bisa googling juga kan hehe.

    Eh balik ke cerita awal. Hari Kamis pekan lalu pun jadi hari dimana aku jadi lebih kuat dari biasanya. Keberangkatan pukul 11.05 WIB dari Bandara Kualanamu itu rasanya jadi penerbangan kesekian yang berat sekali. Tapi aku mencoba untuk enggak nunjukkin itu di depan Mama dan keluarga lainnya yang ikut mengantarkan. Ada adik-adikku (sepupu) yang masih kecil-kecil. Aku yang gengsi ini, enggak mau kelihatan lemah di depan adik-adik. Ya dong, kakak masih nangis sih! (padahal uda mau lari ke kamar mandi, mau mewek hehe).

    Tapi emang bener, apa yang ada di pikiran kita, itu juga yang bakal keluar sebagai wujud kepribadian diri kita. Jadi, bijaklah sedari berpikir, supaya yang keluar dari diri kita juga sesuai dengan apa yang ada di pikiran kita. Kalau aku nyebutnya semacam energi positif yang harus selalu ada, sekalipun kadarnya dikit banget. Ya aku mah apa atuh, masih harus di ayo-ayoin biar semangat hahaha (let say di beberapa hal doang kok). Nah, di momen ini pun aku terapkan ke diri sendiri. 

    Terhitung sejak dua hari sebelum berangkat, aku mulai nyiapin mental yang lebih matang. Beresin kerjaan rumah kayak biasanya, rapiin meja belajar, buku-buku dan lemari, ganti seprei kasur, setrikain baju (dua hari itu jadi momen aku nyetrika baju orang-orang rumah sebelum berangkat, terus nyambil setrika ku bayangin ini siapa ya yang nyetrikain baju kalau aku pergi nanti), sampai ngabisin lebih banyak waktu buat main sama adik-adik. Sampai aku nulis ini, jujur aku kangen sama adik-adik, biasanya aku yang hobi marah kalau mereka ganggu aku lagi belajar dan tiba-tiba nyelonong aja masuk ke kamar. Kangen tingkah mereka yang tiap pagi pamitan sebelum ke sekolah, terus malamnya gangguin aku belajar sampai merengek minta belajar bareng.

    Energi positif yang uda aku bangun dari beberapa hari sebelum berangkat pun akhirnya terealisasi di momen keberangkatan itu. Sampai Ibuku (adik iparnya Mama) ngomong gini, “ah nggak seru ah, Kak Ika masa nggak nangis sih mau pergi merantau”. Terus aku balas sederhana banget, “uda diniatkan buat nggak nangis, Bu”. Alhamdulillah, hatiku pun lebih lempang ngelepas Mama, adik-adik, dan semuanya. Hatiku cuma lebih banyak berdoa mulai dari boarding, jalan menuju Gate 10 (pintu menuju maskapai yang akan bawa aku terbang kali itu hehe), sampai aku duduk di kursi 27F sambil memandang landasan Kualanamu dari balik jendela pesawat. Yak, aku terbang.. meninggalkan rumah lebih lama.. merantau.

    Keputusan untuk merantau pun sudah aku usung sedari semester akhir di bangku kuliah. Keinginan itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, aku punya rencana melanjutkan studi. Aku enggak mau membebankan Mama atas keinginanku yang satu itu. Jadi, aku memutuskan untuk berkarir dulu di tanah rantau. Sembari mengumpulkan pundi-pundi harta karun dan sejenisnya (ceilah), nantinya aku juga punya persiapan lebih fokus secara mental dan finansial, karena kalau diizinkan Allah sekolah lagi toh kan aku bakal hidup sendiri juga di tanah rantau (dimanapun itu nanti, Bismillah aja dulu). Yang penting, niat harus diluruskan. Insya Allah semesta mendukung. Duh, aku deg-degan nulis di bagian ini hahaha.

    Selain itu, aku pun ingin belajar lebih mandiri, mengurus diri sendiri, membangun keberanian, memperbanyak saudara di bumi Allah, dan semoga Allah selalu menjadi nomor satu dari setiap hal yang aku kerjakan dan aku niatkan. Hidup sendiri di tanah rantau. Enggak ada tuh yang ingetin langsung biar enggak telat makan, ingetin sholatnya supaya jangan dilama-lamain, sampai ingetin buat belajar masak (ini tugas penting buat aku, kudu harus wajib bisa masak yang enak). Biasanya, itu semua dilakukan oleh Mama –si superwoman yang kerennya enggak abis-abis.

    Pesan dari teman-temanku sebelum aku berangkat, “Rizka, jangan pernah berubah. Tetap jadi Rizka seperti yang kami kenal. Rizka yang kami kenal ramah dan nggak mandang oranglain dari kasta apapun. Rizka yang sederhana dari berpikir dan berpenampilan. Rizka yang humble, kuat, dan nggak gampang nangis sekalipun kondisinya berat. Kalau sedih, kita selalu ada buat dengerin cerita Rizka. Kalau kangen, pulang ya.. jangan ditahan sendiri kangennya. Tetap waspada, hati-hati sama orang yang baru dikenal. Kami semua selalu nunggu Rizka pulang, buat sharing pengalaman dan ilmunya. Kami bakal kangen, Riz!”. 

    Aamiin Aamiin Aamiin, Masya Allah aku terharu huhu. Kan, mau nangis dong ini  hmm. Terima kasih banyak buat teman-teman, adik-adik, kakak-abang, dan semuanya. Maafin kalau ada salah-salah yang disengaja ataupun enggak. Karena katanya, salah satu langkah supaya rezeki kita lancar adalah dengan lebih banyak meminta maaf atas kesalahan yang selama ini sengaja atau enggak sengaja kita perbuat. Biar pintu rezeki terbuka dengan lempang. Insya Allah, siapapun yang baca ini dan pernah hadir dalam kehidupan Rizka (ceilah), mohon dimaafkan yah. Kalau masih sulit memaafkan, boleh kali diobrolin ke aku. Ntar kita makan bareng di warung, kamu makan sepuasnya, aku bayarin (nyogok dong ini namanya hahaha abaikan).

    Hah, enggak terasa sudah hampir satu pekan aku disini. Kamar kos sederhana ukuran 3x2 ini bakal jadi saksi seorang anak muda yang dengan niat untuk sekolah, rela jauh-jauh ninggalin rumah.. ninggalin Ibunya.. ninggalin adik-adiknya.. ninggalin semua kenyamanan di tempat yang paling nyaman sampai kapanpun (baca: rumah). Semoga hijrah dan ikhtiarnya jadi berkah ya, Riz. Iya, udah udah jangan diterusin, nanti nangis hmm.

    Bandara dan petualangan baru. Uda cocok kan antara judul sama isinya ? Cocokin aja deh ya, maklum ini nulisnya juga dari jam 3 pagi. Baiklah, selamat berpetualang, Rizka! Aku yakin, dengan meninggalkan rumah.. akan ada rumah-rumah berikutnya yang Allah hadirkan untukku dalam bentuk keluarga dan sanak saudara baru di tanah rantau. Baik-baik jaga diri, jaga kesehatan, jaga lingkungan, dan jaga hati ya (eh tunggu, ini jaga hati buat siapa ? hmm hmm hmm.. buat yang akan datang di waktu yang tepat aja deh, siapapun itu.. buat kalian yang lagi baca ini juga boleh kok hihi ).

    Sampai ketemu lagi di cerita berikutnya! Dadaaah..

    ---
    [Jakarta, 19 Desember 2018, pukul 05.46 WIB]
    Di kamar kos sambil menunggu kakak-kakak kos yang lain pada bangun.
    Continue Reading
    “Pendidikan hanya sebagian yang diperlukan hidup. Hal lainnya adalah integritas, kejujuran, disiplin dan kesungguhan”
    (Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia)


        Huiih, malem-malem nulis beginian sambil berharap saya bisa ketemu sama Ibu Susi suatu hari nanti (ini ngarep beneran hihihi). Assalamualaikum teman-teman.. dua minggu saya harus menunda untuk posting blog edisi bulan ini. Berhubung sejak akhir Oktober, Alhamdulillah saya sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan (tertunda) dan sudah mulai beres satu persatu di pertengahan bulan ini, maka sehabis itu saya harus segera menuntaskan janji. Janji posting hihi.
        Sebenarnya mulai dari saya padat-padatnya kegiatan, saya sudah kepikiran mau ceritakan segala keseruannya. Tapi apa daya, pulang sampai di rumah pun saya harus membuka laptop untuk melanjutkan pekerjaan dan semangat saya menulis agak sedikit terkuras karena rasa lelah (halah, lemah banget yak wkwk). Meskipun begitu, Alhamdulillah saya selalu bersyukur. Bersyukur masih diberikan kepercayaan untuk menyibukkan diri dengan hal-hal bermanfaat, bersyukur masih diberikan amanah oleh orang-orang yang MasyaAllah berperan sekali membantu saya mengukir sejarah-sejarah baru dalam hidup saya.
        Kadang kalau tengah bercermin, saya suka senyum-senyum sendiri memperhatikan banyak perubahan yang Allah titipkan kepada saya. Dari segi berpakaian, jilbab, pilihan warna, cara pandang, dan karakter saya yang entah kenapa semakin hari semakin memaknai rasa bahagia dengan sederhana *ciaaa hahaha. Tapi emang bener sih, makin kemari saya banyak disadarkan, makin tahulah prioritas sesungguhnya itu apa, dan tentunya makin diingatkan bagaimana menjadi manusia.
        Yoo.. ini akan ada kaitannya dengan perjalanan studi saya. Hehe, kebetulan saya sekarang sudah semester 7 jenjang pendidikan Strata 1, semester dimana mata kuliah sudah tidak ada lagi dan fokus mengerjakan skripsweet (seram-seram jambu ya kalau nulis ini hihi). Apa yang kemudian membuat saya kepikiran menuliskan judul ini ?
        Jadi, selama 11 bulan terakhir ini saya memang menyandang predikat ‘remaja usia 20 tahun’. Sejak ulang tahun saya di Januari lalu, saya sudah memikirkan bahwa usia ini enggak main-main, bukan lagi waktunya buat canda-canda recehan, dan bukan masanya lagi kebiasaan baper (bawa perasaan) dibawa kemana-mana. Dan beneran, semuanya terjadi di usia 20 tahun ini, di tahun ketiga perjalanan studi Strata 1 saya.
        Di tengah keterbatasan saya sebagai seorang hamba, maka perjalanan sederhana ini tidak lepas dari nikmat Allah yang tiada henti. Sementara saya tengah berjibaku untuk memantapkan apa-apa yang sudah saya niatkan, maka Allah enggak segan-segan membantu saya, merangkul saya dan skenario-Nya mengantarkan saya (Insya Allah) jadi lebih baik. Poin-poin di bawah ini pun saya share dalam rangka menuliskan sejarah untuk diri saya sendiri. Tidak ada maksud lain, hanya sekadar berbagi cerita dan pengalaman.
        Maret 2017, saya dihubungi oleh seorang kakak angkatan 2012. Beliau ini bisa dibilang teman senasib sewaktu membangun kembali organisasi yang sempat redam di kampus kami. Meski beda latar belakang ilmu karena beliau dari jurusan Antropologi Sosial, tentu saja tidak membuat kami harus berpencar dan nyatanya kami punya visi misi yang sama. Sama-sama mencintai dunia pendidikan. Kami sudah hampir 2 tahun tidak bertemu dan bersapa, Alhamdulillah di bulan itu beliau tiba-tiba menawarkan sebuah pekerjaan.
        Ya, saya diberi tawaran untuk mengajar Aritmatika Sempoa untuk adik-adik Rumah Pintar dari sebuah NGO asal Korea, tepatnya lembaga dimana beliau bekerja. Untuk di Medan sendiri, lembaga kursus Sempoa memang sudah banyak, namun biaya belajarnya masih terlalu tinggi. Alhamdulillah, dulu saya sempat belajar di lembaga kursus Sempoa itu sewaktu SD. Maka dari itu, beliau langsung kepikiran untuk menawarkan itu ke saya dan sifat bekerjanya adalah relawan. Perjalanan dari kota Medan menuju lokasi mengajar juga lumayan jauh karena harus memakan waktu sekitar 2 jam dengan naik motor. Saya tidak segan-segan mengiyakan ajakan beliau dan jadilah saya mengajar 2 kali seminggu sampai bulan Mei 2017 (karena memang di kontrak selama 3 bulan saja).
    Momen saya dengan dua murid yang selalu girang hihi terima kasih, adik-adik.
         April 2017, atas izin-Nya saya diberikan sebuah bonus yaitu sebagai satu dari 10 orang perempuan Sumatera Utara yang berhak menerima penghargaan dalam rangka Hari Kartini. Sedikit infonya, bisa dibaca ‘disini’.
        Dan di akhir April 2017 itu juga Alhamdulillah paper saya dan 3 orang teman saya dari Persma PIJAR USU lolos seleksi menjadi finalis dalam rangka Journalist Days di Universitas Indonesia. Bisa dibilang, ini adalah ajang kompetisi paper tahunan bergengsi yang dikhususkan untuk Pers Mahasiswa di universitas se-Indonesia. Maka, Allah berangkatkan kami menuju Jakarta dan qadarallah tim USU berhasil mendapatkan posisi Top 4th setelah Universitas Brawijaya, Universitas Riau dan Universitas Gajah Mada. Sedangkan posisi kelima diperoleh tuan rumah, Universitas Indonesia. Perjalanan ini adalah perjalanan pertama saya bersama tim. Biasanya kalau lomba paper saya sendirian dan enggak menyangka tahun ini teman-teman menghangatkan perjalanan saya. Sangat senang, Allahu Akbar! Tetap bersahajalah kita, teman-teman.
    Para finalis Journalist Days 2017

    Tim dari Pers Mahasiswa PIJAR USU *maaf fotonya dipilih yang blur aja deh hihi
        Juni 2017, Alhamdulillah saya diberikan kesempatan untuk bisa berbagi kepada teman-teman sesama awak media di pers mahasiswa Garda Media USU. Menjadi pemateri dalam Pelatihan Wartawan (LAWAN) dengan tema “Dare to be a Professional Journalist” di BtBs Masjid Dakwah Medan. Ya, Persma Garda Media USU ini adalah pers kampus di bawah naungan Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Ad-Dakwah USU. Hasil beritanya sudah ditulis oleh teman-teman Garda Media USU 'disini'.
        Juli dan September 2017, ini pengalaman pertama saya bisa dibilang. Ya, seorang dosen menawarkan saya untuk menjadi enumerator survei oleh Polmark Research Center dan disini saya kembali bertemu dengan macam-macam karakter masyarakat dari berbagai kalangan usia. Luar biasa, Allah kasih saya skenario yang begitu baik. Disini saya banyak belajar mendewasakan diri dan tentunya keluar dari zona nyaman karena survei sendiri dilaksanakan di luar kota Medan.
        Oktober 2017, saya juga melanjutkan penelitian dari sebuah lembaga penelitian yang bisa dikatakan sudah punya nama di tingkat nasional. Alhamdulillah, perjalanan dari satu kota ke kota lainnya membuat saya benar-benar..... lupa skripsi !! hahahaha.. Skripsi saya yang baru saja masuk bab-bab awal, mau tak mau dikesampingkan dulu demi lancarnya penelitian saya. Mudah-mudahan dosen pembimbing saya tetap sabar menghadapi satu mahasiswi bimbingannya ini yang masih haus akan ilmu. Janji, habis ini saya bakal fokus skripsian hihihi.
        Bulan Oktober ini pun adalah bulan teraneh bagi saya hehehe (saya mau ketawa dulu nih). Pasalnya, di bulan ini Allah seperti mengetuk hati saya tentang beberapa hal penting yang sering saya lewatkan. Jujur, ini adalah keputusan ekstrim pertama yang membuat beberapa teman dekat merasa kecewa, marah, kesal, bahkan sedih. Sungguh, saya minta maaf sedalam-dalamnya kepada kalian. Tak ada niat hati untuk melukai, tapi ini adalah bagian dari proses. Ya, saya memutuskan untuk uninstall Instagram. Sedikit celotehan mengenai alasannya, sudah saya posting bulan lalu ‘disini’. Yang saya butuhkan adalah support dan doa-doa kalian. Semoga Allah jadikan saya menjadi manusia amanah dan menjaga prinsip yang sudah saya pilih.
      Di bulan Oktober ini juga, qadarullah Allah rezekikan saya untuk menjadi bagian dari Focus Group Discussion (FGD) tentang "Mencari Model Rating Publik di Indonesia : Telaah Atas Rapotivi" bersama Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) dan Indonesia Melek Media. Kalau yang ini sebenarnya saya agak kaget karena merasa masih belum ada apa-apanya hehe, tapi ternyata saya belajar bahwa di momen ini karena diizinkan untuk belajar langsung dari orang-orang yang sudah berkompeten di bidangnya. Ulasan ceritanya, juga sudah saya posting ‘disini’.


        November 2017, setelah siap menghadapi segala macam konsekuensi yang harus saya terima akibat keputusan saya bulan lalu hahaha, saya pun lebih siap menghadapi tantangan-tantangan baru kedepannnya. Insya Allah, selalu ada jalan bagi yang sungguh-sungguh. Saya yakin dengan janji Allah untuk niat-niat baik umat-Nya. Mohon doanya juga ya, teman-teman.
        Bulan November yang masih berlangsung hingga saya menyelesaikan tulisan di postingan ini, telah memberikan saya space yang tak kalah menarik. Sampai membuat saya berdegup, takut kalap hehe. Tapi mudah-mudahan tidak ya. Alhamdulillah, beberapa waktu lalu saya berkesempatan menjadi pemateri dalam Kegiatan Pelatihan Menulis tentang "Feature, Editorial, dan Press Release" untuk organisasi saya sendiri, yaitu Public Relations Komunikasi Universitas Sumatera Utara (PRASTA). Dan kembali diundang kedua kalinya sebagai pemateri dalam kegiatan Pelatihan Wartawan (LAWAN) dengan tema "Menulis Artikel" oleh Persma Garda Media USU.
     
        Lalu, dosen di kampus juga memberikan saya kepercayaan untuk mengerjakan beberapa hasil penelitian dan ikut serta dalam FGD Panel Ahli dalam rangka Survei Indeks Kualitas Penyiaran oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Ini merupakan kedua kalinya di tahun 2017 (sekaligus diskusi terakhir di tahun ini) dan Universitas Sumatera Utara dipilih menjadi salah satu dari 12 universitas yang bekerjasama dalam kegiatan ini dengan KPI.
     
        Daaaan... bonus tambahan dari Allah di bulan ini adalah saya diizinkan untuk mengisi Seminar Nasional bersama penulis yang bisa dibilang, “siapa sih yang enggak kenal beliau ? Apalagi para kids zaman now hehehe". Qadarullah Insya Allah saya akan mengisi disini, teman-teman.

     
        Bagi yang berkenan hadir dan masih di wilayah sekitar Medan, kita bisa sharing nanti selama seminar. Mudah-mudahan saya bisa maksimal semaksimal Uda Boy Chandra hihihi. Agak deg-degan soalnya disandingkan dengan penulis yang namanya sudah seantero begitu. Ah tapi gak apa-apa kan ya, mana tahu saya bisa kecipratan hal-hal baik dari beliau. Amin Ya Allahu Yusahhil.. Sampai ketemu yak disana! *lambai-lambaikan tangan hihihi...

    Tertunda traveling Jawa.
        Sebenarnya, kalau ditanya mengapa ini saya masukkan ke bagian postingan ini karena niat saya di tahun 2017 ini inginnya keliling Jawa. Saya begitu tertarik ingin balik mengunjungi Bandung, naik kereta api menuju Yogyakarta, dan menikmati senja di Malang. Tapi, Allah punya cara lain untuk mewujudkan keinginan saya itu. Ya, beliau mungkin ingin saya fokus menyelesaikan urusan studi saya. Takutnya, saya malah terlena traveling dan kelamaan pulang. Alhasil, apa kabar skripsi saya ? Bisa-bisa terbengkalai begitu lama. Ini saja masih di Medan, saya masih nyentuh skripsinya secuil-cuil alias sambilan hihi.
        Lagi-lagi, saya tidak merasa patah semangat. Digantikan dengan begitu banyak pengalaman baru selama ini, tak patut rasanya jika saya masih juga ngotot atau sebal sama apa yang sudah Allah kasih. Keinginan saya untuk terus belajar dan sekolah semakin didukung dengan hal-hal baru ini. Kurang baik apalagi coba Allah sama kita ya ? hehehe tapi saya sendiri mah kadang masih suka ‘ngeyel’ melaksanakan perintah-Nya. Suka nunda-nunda sih tepatnya. Ini pelajaran, diketuk sayanya supaya sadar sebelum kebablasan terlalu jauh.
        Maka, sebenarnya pun saya selalu menekankan kepada diri sendiri dan teman-teman dekat di kampus, bahwa segimanapun keadaannya selama niat kita baik Lillahi ta’alaa, Insya Allah yang namanya rezeki enggak akan lari kemana. Begitupun, keinginan saya traveling keliling Jawa mudah-mudahan tetap bisa terwujud di tahun 2017 ini, entahpun bisa jadi Allah hadiahkan itu sebagai bonus perjalanan untuk penghujung akhir tahun. Ah, pasti tak kalah seru dengan rencana sebelumnya! Sabar, semua akan ada waktunya.


    Menyempatkan menulis di tengah deadline paper dan skripsi yang berkeliaran.
    Medan, 01.30 WIB.
    Continue Reading
    Bapak saya, Agusman R. Sitanggang (kanan)

    “Bapak, kenapa Bapak selalu berprinsip untuk jadi orang sederhana?,” tanya saya pada Bapak lepas Isya di lantai teras rumah.
    “Karena bagi Bapak sederhana itu tidak pernah menyulitkan. Alhamdulillah pilihan Bapak masuk Islam pun sederhana, Dek. Karena Bapak yakin janji Allah itu tidak pernah ingkar. Bahkan sebelum Bapak kenal Mamak pun, keinginan untuk mendalami Islam sudah ada,” jawab Bapak.

    [Mengenang Bapak]
    Sudah lima tahun Bapak kembali ke Sang Khalik, selama itu juga saya tidak pernah tidak merindukan Bapak. Hari-hari ingat Bapak, saya seringkali jadi anak ‘cengeng’ hehe. Saya tidak cukup berani untuk menampilkan hal-hal yang tak mesti orang lain tahu. Kendatipun orang lain tahu, pun tak ada yang benar-benar paham bagaimana saya begitu mencintai Bapak. Bapak, saya rindu. Rindu sekali.

    Hari ini saya kembali menulis tentang Bapak. Tidak ada hari yang begitu baik selain hari-hari saya diantar dan dijemput sekolah sama Bapak, tertawa di atas motor sederhana Bapak, sholat Maghrib berjamaah bareng Bapak dan Mamak, ditemani belajar sampai Bapak tertidur sendiri di samping meja belajar saya karena tugas saya tidak kelar-kelar sampai tengah malam hahaha. Ketika Bapak diam-diam masuk ke kamar saya hanya untuk mengecek saya tidurnya nyaman atau tidak dan kemudian Bapak cium kening saya. Sebenarnya saya tahu dan sadar setiap kali Bapak masuk ke kamar saya, tapi saya tidak mau merubah suasana. Saya ingin Bapak melakukan itu setiap hari bahkan sampai saya besar dan ketika anak-anak seusia saya mulai malu kalau Bapaknya memperlakukan anak perempuannya semanja itu di depan teman-teman atau bahkan calon pendamping hidup si anak. Hahaha momen yang selalu saya bayangkan begitu lucu dan unik, sekaligus absurd.

    Bapak, saya begitu mengagumimu. Kan sudah saya bilang, bahkan kagum saja pun tidak cukup. Sejak dulu, sudah saya pastikan bahwa saya tidak akan pernah malu kalau Bapak peluk-peluk saya di depan teman-teman saya. Bapak itu kebanggaan saya. Tapi dulu saya masih malu bilang itu semua dan hanya berani mendaratkan kata-kata ejekan ke Bapak.

    “Bapak jelek! Bapak gendut! Bapak hitam!,” ledek saya setiap kali Bapak memeragakan gaya sok tampan di depan saya.
    “Ih Bapak ganteng gini dibilang jelek, gendut, hitam. Bapak paling gantenglah, Dek. Buktinya Mamak sampai cinta mati sama Bapak hahaha,” tawa Bapak sambil memainkan mata ke arahku dan Mamak.

    ***
    [Malam itu, Bapak saya roboh. Malam itu, terakhir kali kami makan malam bersama]
    Saya masih ingat di malam terakhir kita bertiga makan malam selepas Maghrib. Menu makanannya pecel lele, kesukaan saya dan Bapak. Waktu itu Bapak makan lahap sekali sampai tidak ingat kalau Bapak baru-baru saja sembuh dari sakit. Kata Bapak, pecel lele itu nikmat sekali. Enggak seperti biasa-biasanya sampai Bapak harus mengambil nasi tambah ke piring makannya. Lalu saking terburu dan semangatnya mencocol kuah pecel lele ke piring nasi, kuahnya malah menciprat mengenai mata Bapak.

    “Aduh, kuahnya ciprat! Perih!,” rintih Bapak saat itu.
    “Alah, Pak. Makannya pelan-pelan ajalah. Masih banyaknya lagi pecel lelenya, Bapak habiskan semua nanti ya,” kata Mamak menyahuti.

    Bapak ‘ngucek-ngucek’ mata dan karena tidak ada hasilnya, Bapak pun melangkah ke kamar mandi. Selang beberapa menit Bapak ke kamar mandi (sedangkan saya dan Mamak masih lanjut menghabiskan makanan di piring kami), terdengar jeritan Bapak dari belakang.

    “IKA!!! MAMAK!! Perih kali mata Bapak!!,” teriaknya tak karuan. Tidak seperti biasanya.

    Saya dan Mamak langsung bergegas menuju kamar mandi. Kami lihat posisi Bapak sudah terjongkok di dapur. Melihat kondisi itu, Mamak langsung mendekat dan saya terdiam. Kalau boleh jujur, waktu itu saya cuma bisa merasakan kalau Bapak memang tidak seperti biasanya. Perasaan saya tidak enak.

    Tak lama Mamak mendekati Bapak, langsung tubuh Bapak roboh dan Bapak terkulai. Mamak yang posisi tubuhnya dekat dengan punggung Bapak, seketika rubuh karena tertimpa badan Bapak yang memang paling besar di rumah. Selang badan Bapak roboh, Bapak langsung ‘mengorok’. Seperti ada yang menyangkut di tenggorokan Bapak dan saat itu juga Bapak benar-benar tidak sadarkan diri.

    “Ika panggilkan tetangga! Sekarang! Cepat!,” pinta Mamak saat itu juga dengan mata yang terlihat mulai tergenang air mata dan tak bisa dibohongi kalau wajah Mamak pucat pasi. Mamak panik dan tidak pernah sepanik itu.

    Saya bergegas membuka pintu dan berlari ke pintu tetangga.
    “Ibuu.. Om... Assalamualaikuuum Bu.. Om....,” teriak saya menggedor pintu dan tidak lagi berpikir apakah tetangga saya itu terganggu atau tidak.
    Tanpa menunggu lama, pintu terbuka. “Ya Ika? Ada apa?,” tanya tetangga saya.
    “Bapak, Om. Bapak jatuh! Tolong Om!,” teriak saya yang saat itu tidak bisa membendung tangis saya lagi.

    Seberes kemudian, rumah saya sudah ramai dengan orang-orang termasuk didalamnya ada Nenek saya yang dihubungi Mamak. Kebetulan rumah Nenek tidak begitu jauh dari rumah kami, sekitar 10 menitan. Kondisi Bapak masih mengorok dan tidak sadarkan diri. Bapak sudah digotong oleh para tetangga ke ruang tamu kami.

    “Iya Gus, iyaaa.. kujaga anakmu. Kujaga anakmu,” kata Nenek yang mengucapkan kata-kata itu seolah Bapak bisa mendengar. Entah apa maksud Nenek bilang begitu sambil terisak.

    Saat itu, saya hanya termangu melihat kondisi Bapak sedangkan yang lain terus membaca ayat-ayat Qur’an untuk menenangkan suasana. Ibu saya tidak berhenti menangis sambil ikut membacakan ayat-ayat berharap kemudian kepada siapapun yang sekiranya bisa membangunkan dan memulihkan kondisi suami tercintanya.

    Pikiran saya kosong. Belum bisa mengerti kenapa bisa tiba-tiba seperti itu. Saya terduduk dan termangu dengan bolak-balik memerhatikan Bapak dan orang-orang yang ramai sekali di rumah waktu itu. Saya bingung dan satu hal pertama yang saya sadari malam itu adalah dari ujung mata Bapak saya temui bulir air keluar dan mengalir mengenai kerah bajunya. Bapak menangis tapi Bapak masih tetap mengorok dan tidak mengatakan apapun. Kulihat juga lidah Bapak sudah menggulung ke dalam. Saat itu, saya ingat kata guru agama waktu SD. Katanya, itu termasuk tanda-tanda seseorang hendak dijemput oleh-Nya.

    Tak berapa lama dari kondisi kebingungan itu, seorang tetangga yang kami mintai tolong untuk dipinjam mobilnya, langsung memecahkan hiruk pikuk.
    “Cepat bawa Bapak Ika ke rumah sakit sekarang. Naik mobil saya. Ayo Ika, kita bawa Bapak ke rumah sakit ya, Nak,” kata tetangga itu yang biasa kupanggil ‘Wak’.

    Semua tetangga mengangkat tubuh Bapak. Kulihat Mamak tidak lepas dari samping Bapak. Mamak memangku tubuh Bapak di urutan kedua bangku mobil. Sedangkan saya duduk di samping Wak. Sebelum mobil menderu maju, saya memalingkan tubuh melihat Mamak yang kini matanya sudah banjir air mata dan kali ini jauh lebih terisak dari sebelumnya. Bapak saya masih mengorok, tidak tahu kapan berhenti dan kemudian membuka matanya seperti biasa. Tangan kanannya terkulai dan saya meraih tangan itu. Saya genggam tangan beliau, begitu kuat. Dan detik itu juga saya rasakan kalau Bapak merespon dengan mengeratkan genggaman saya. Eh? Bapak masih sadar, detak saya dalam hati.

    “Bapak, saya genggam tangannya ya. Kita sekarang ke rumah sakit. Disana ada dokter yang bakal nangani dan Bapak pasti sembuh. Sabar ya, Pak,” gumam saya dalam hati, berusaha menyampaikan itu ke Bapak yang saya tahu tidaklah bisa mendengar apa yang saya katakan.

    Mobil menderu dengan cepat menuju rumah sakit. Klakson mobil berulang kali dibunyikan menandakan bahwa kami butuh jalan selebar mungkin dan tidak ingin terhalang oleh apapun. Kami harus segera sampai di rumah sakit. Minggir!!, begitu kira-kira maksud mobil.

    ***
    [Saya pegang baju Bapak yang dikoyak dokter]
    Mobil langsung berhenti di depan pintu IGD RS. Sembiring Deli Tua. Dekat dari rumah kami, sekitar 10 menitan. Tanpa pikir panjang, Bapak pun langsung dinaikkan ke tanduh dorong rumah sakit dan masuk ke dalam ruangan IGD. Mamak berjalan di depan. Saya ikut dari belakang setelah mengucapkan terima kasih kepada Wak yang sudah berbaik hati tidak dibayar untuk menolong Bapak saya. Oh tidak, menolong saya dan Mamak juga. Menolong banyak orang malam itu.

    Kulihat Mamak hendak keluar dari ruangan IGD.
    “Ika lihat Bapak. Mamak bentar ngurus administrasi rumah sakit,” kata Mamak yang tanpa saya tanya langsung mengerti pertanyaan dari mata saya. Saya cuma mengangguk dan menuju tirai dimana Bapak saya dikoyak bajunya oleh dokter.

    Saya tak mungkin marah melihat baju Bapak dikoyak karena memang hanya itu satu-satunya cara. Sedangkan Bapak tidak sadarkan diri dan masih terus mengorok. Tak berselang lama, sebuah alat lebih tepatnya mirip ‘gosokan baju’ mendarat ke bagian dada Bapak. Tubuh Bapak tergoncang-goncang naik turun. Serasa ada magnet di bagian bawah alat itu yang membuat tubuh Bapak seperti disetrum, naik-turun. Saya berusaha tidak menangis melihat kondisi Bapak saya seperti itu. Yang saya harapkan adalah Bapak bisa sadar kembali, apapun caranya.

    Menunggu Mamak kembali dari ruangan administrasi, saya memutuskan duduk di bangku sambil memegangi baju Bapak yang dikoyak dokter. Bajunya basah karena keringat Bapak dan saya masih bisa mencium aroma parfum Bapak. Kenso Daun, itu nama wangi parfum Bapak. Itu kongsian dengan saya karena kami selalu punya rasa, warna, dan hal-hal lainnya yang sama. Jadi beli satu bisa kongsi berdua.

    ***
    [Pembuluh darah otak besar Bapak pecah]
    Sekembalinya Mamak ke ruang IGD, membuat hati saya makin debar karena disitu juga kami langsung dihadapkan dengan hasil ronsen bagian kepala Bapak. Tepatnya, dihadapkan pada satu kenyataan bahwa ada pendarahan di bagian dalam otak Bapak. Ya, pembuluh darah otak besarnya telah mengalami pendarahan. Itu sebabnya Bapak mengorok dan tidak sadarkan diri. Tensinya mencapai 270 per 140. Tinggi sekali. Memang, Bapak sejak dulu punya riwayat hipertensi (tensi tinggi) turunan.

    Melihat keadaan Bapak itu, dokter langsung menyarankan untuk dilakukan scanning lanjutan. Saya lupa nama jenis scanning itu apa karena namanya benar-benar biologis sekali. Langsung Mamak mengiyakan itu tanpa memikirkan biaya yang harus kami bayar untuk memproses itu.

    “Upayakan yang terbaik untuk suami saya, Dok. Berapapun akan saya bayar,” kata Mamak.

    Ternyata, Allah punya rencana lain malam itu. Seorang sahabat lama Bapak yang mengetahui kejadian itu dari telepon Mamak saat mengurus administrasi tadi, langsung menyambangi rumah sakit. Namanya Azwar Rismawardi, biasanya saya panggil ‘Om Azwar’. Sejak saya kecil pun, Om itu selalu jadi sahabat setia Bapak. Bahkan di tengah-tengah kondisi Bapak pernah diberikan ujian berat sama Allah, Om Azwar-lah yang menjadi orang pertama mengunjungi Bapak. Masya Allah.

    “Lakukan upaya yang terbaik. Soal biaya, biar saya yang urus. Yang penting si Agus (nama Bapak saya) bisa sembuh. Berapapun akan dibayar,” kata Om Azwar malam itu. Saya akan selalu ingat itu dan suatu saat Insya Allah akan saya balas dengan kabar-kabar baik dari saya dan Mamak. Amin ya Allahu Yusahhil.

    Hampir dua jam lebih kami semua menunggu di luar ruangan scanning. Mamak masih terlihat belum bisa tenang sebelum kabar baik diterima dari dalam ruangan dimana suaminya sedang diselamatkan nyawanya. Melihat jam sudah masuk pukul 10 malam, Mamak langsung mendekati saya.

    “Nak, pulang sama Nenek ya. Ini kunci rumah, pulang ke rumah dan ambil pakaian seperlunya untuk sekolah dan ganti baju besok. Tidur di rumah Nenek ya. Besok sekolahnya diantar sama Om Anto. Mamak biar jaga disini sampai kondisi Bapak aman. Tetap sekolah ya, Nak,” kata Mamak sambil memberikan kunci rumah kepada saya.

    Saya tak banyak bicara dan hanya bisa mengangguk. Kemudian saya berpamitan pada Mak, pada Om Azwar, dan semua orang yang menunggu hasil scanning Bapak.

    Malam itu, saya tidur di rumah Nenek. Malam itu, tugas sekolah saya belum kelar dan saya tidak ingin melanjutkannya. Malam itu, saya memutuskan untuk langsung tidur sesampai di rumah Nenek. Malam itu, saya terakhir tahu kalau Bapak masih belum sadarkan diri. Malam itu, saya terlalu banyak diam.
    Bapak koma.

    ***
    [Bukan jemputan sekolah seperti biasa]
    Pagi itu saya tidak begitu semangat. Mungkin efek tadi malam. Tapi saya tetap berusaha tidak menunjukkan apa yang tak mesti orang lain tahu. Bapak saya cuma sakit, pasti sembuh dan segera sadarkan diri, gumam saya dalam hati saat masuk ke dalam kelas.

    Teman-teman saya sibuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang seharusnya dikerjakan malam sebelumnya. Memang kebiasaan. Meski saya juga belum menyelesaikan PR, tapi saya tak hiraukan itu. Biar saja kali ini dihukum guru, pasrah saya.

    Kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasa. Namun, entah nasib baik atau bukan, hari itu dimana saya belum selesaikan tugas sekolah, justru sekolah dikabarkan untuk segera membawa para siswa menuju Lapangan Lanud Soewondo untuk menyaksikan sejumlah acara berhubungan dengan Angkatan Udara. Kebetulan memang sekolah saya ini milik Angkatan Udara tapi bukan juga sekolah berbasis angkatan.

    Maka, kami pun dibariskan di lapangan sekolah dan menunggu giliran bus angkatan untuk menjemput kami. Saya dapat giliran di bus ketiga dan jujur saja saya tidak sesemangat teman-teman lainnya yang gembira karena ditiadakannya kegiatan belajar mengajar. Saya merasa biasa saja.

    Setelah menyaksikan beberapa kegiatan di lapangan tempur angkatan udara itu, kami pun diantarkan kembali menuju sekolah dengan bus yang sama. Ada yang tidak enak di hati saya. Menjanggal tapi berusaha saya kaburkan.

    Tiba di sekolah dan dari balik kaca jendela bus, saya langsung melihat wajah Om Anto (adik laki-laki dari Mamak) sudah duduk di kantin sekolah. Ada apa Om Anto datang ke sekolah, tanya saya dalam hati. Saya cepat-cepat turun dari bus dan menemui Om Anto. Saya bisa lihat mata Om Anto sembab dan merah seperti habis menangis. Tidak biasanya dia pakai peci hitam dan baju koko. Oh mungkin habis dari kantornya ada kegiatan kali, pekik saya lagi.

    “Ika, kita pulang sekarang ya. Lihat Bapak di rumah sakit. Om uda permisikan Ika sama guru piket,” kata Om pada saya.
    Mendengar kata ‘Bapak’, saya langsung semangat karena bisa jadi saya dijemput cepat karena Bapak saya sudah sadarkan diri dan pengen ketemu saya. Giranglah saya saat itu, “Ohiya Om, bentar ya bentar Ika ambil tas di kelas dulu,” kata saya kemudian.

    Sebelum pulang, saya pamit dengan guru piket dan saya ingat waktu itu seorang guru bernama Pak Irwan yang memang dekat dengan saya, tiba-tiba mendatangi saya.
    “Yang sabar ya, Nak. Yang kuat ya,” kata Pak Irwan sambil tersenyum dan menepuk pundak saya.
    “Terima kasih, Pak. Saya pamit pulang duluan ya, Pak. Assalamualaikum,” jawab saya.
    “Wa’alaikumsalam,” balas beliau.

    ***
    [Yang meninggal itu adalah Bapak saya]
    Sepanjang perjalanan dari sekolah menuju rumah, Om Anto berlaku tidak seperti biasanya. Ia menanyakan seputar bagaimana sekolah saya, aman atau tidak, seru atau tidak, nilainya bagus atau tidak. Biasanya, Om Anto orang yang hanya mau bertanya hal demikian pada Mamak saja. Meski sejak saya kecil, Om Anto sudah seperti Bapak kedua saya, tapi tetap saja hari itu tidak seperti biasanya. Dari balik punggung Om di atas motor, sesekali saya bisa lihat Om Anto menyingkapkan lengan baju kokonya ke sudut matanya. Kupikir juga ada debu karena memang tidak terlihat dari balik kaca spion. Alias kaca spionnya entah kenapa sengaja dibalikkan Om. Tapi saya tak mau terlalu banyak bertanya. Yang ada di benak saya sekarang adalah saya hanya ingin lihat Bapak.

    Mendekati arah menuju rumah, saya mulai melihat ada bendera merah tergantung di pinggir gang samping rumah Nenek. Loh kok ke rumah Nenek sih, tanya saya dalam hati. Lalu, saya menyimpulkan cepat bahwa mungkin saya harus ganti baju dulu. Iya juga sih, masa mau ke rumah sakit jenguk Bapak harus pakai seragam sekolah.

    Namun semakin mendekati rumah, saya mulai tak yakin dengan kemungkinan itu semua. Pikiran saya mulai ngawur.
    “Siapa yang meninggal Om ?,” tanya saya spontan pada Om.
    “Om siapa yang meninggal ?,” tanya saya kedua kalinya.

    Om Anto tidak menjawab, malah langsung minggir dan meminta saya segera turun.
    “Udah Ika turun aja sekarang. Jalan dari sini,” katanya dengan suara bergetar seperti berusaha menahan tangis.

    Tidak melihat wajah Om lagi, saya langsung lari menuju rumah Nenek. Kursi-kursi plastik tengah disusun oleh beberapa warga dan saya lihat teman-teman Bapak duduk di antara kursi-kursi itu. Mata saya langsung mengarah ke pintu rumah. Disana, Mamak dengan kerudung hitam menutupi kepala, tengah tenggelam dalam tangisan sambil memeluk seorang sahabat lamanya yang juga saya kenal.

    Tak jauh dari tempat Mamak menangis, mata saya harus benar-benar kuat melihat apa yang saya lihat di sejurusan tempat saya berdiri. Dari depan pintu rumah, ada kain putih terbujur kaku diletakkan di atas matras berbalut kain panjang bermotif batik Jawa.

    Bapak. Itu Bapak saya.
    Saya cuma bisa ucapkan dua kalimat itu dan segera mencampakkan sepatu sekolah saya. Tanpa memikirkan siapa yang berjaga di dekat pintu, saya langsung berhambur mendekati kain putih itu. Ada yang harus saya temui disana. Saya jerit kuat sekali sampai mungkin kalau bisa mencapai bagian suara terakhir, pun akan saya kandaskan habis. Rasanya pecah. Tidak tahu saya harus bilang apa. Semua kemungkinan yang saya pertanyakan di sekolah dengan Pak Irwan, di bus angkatan udara yang saya naiki, di lapangan tempur, di atas sepeda motor Om Anto, di jalan dan semua terjawab di rumah.

    Kalau harus menyumpah serapah apa yang ada di otak saya atas kemungkinan itu, saya mau melakukannya. Sayangnya saya tidak cukup kuat untuk memarahi diri sendiri. Bukan salah siapa-siapa, bukan salah Mak, bukan salah saya, dan bukan salah Om Anto yang tidak beritahu sejak awal jemputan yang tidak biasa itu. Ini cuma saya yang belum bisa menerima kalau benar besok-besok saya tidak akan punya teman curhat terbaik lagi. Kalau besok-besok saya tidak akan tahu lagi bagaimana caranya tertawa dari hasil mengejeki orang-orang di jalanan. Dan besok-besok saya akan belajar sendirian bahkan tidur pulas sampai pagi tanpa harus pura-pura tidur menunggu siapa yang akan membukakan pintu kamar saya dan mencium kening saya. Saya akan berbagi kisah pada diri sendiri atau jika memungkinkan bertanya pendapat pada Mak.

    Mak, akan menjadi sangat sepi hatinya. Maka saya tidak akan pernah memperbolehkan hati saya sepi karena saya harus meramaikan hati Mak kapanpun selama itu mungkin. Saya dan Mak akan bergandengan berdua, saya genggam tangan Mak kemana ia ingin dan Mak akan jadi satu-satunya perwakilan diri saya untuk naik ke atas podium kalau suatu ketika kenakalan saya berubah menjadi wujud karya yang diapresiasi.

    ***
    [Saya janji tidak nangis sembarangan]
    Sejak itu, saya berjanji pada diri bahwa tidak akan menangis untuk hal-hal biasa kecuali berkaitan dengan Mak, saya, dan keluarga. Saya tidak akan lupa mengapresiasi apapun dan siapapun di sekeliling saya. Sederhana akan jadi prinsip hidup saya dan berbagi seperti Bapak dulu akan terus saya ikat. Mak dan saya akan jadi dua perempuan yang saling menguatkan. Yang terakhir, Bapak pun sudah tahu kalau kepergiannya tidak menyulitkan siapa-siapa dan kehilangan sosok Bapak akan terus dikenang baik oleh semua orang. Terbukti, hingga detik saya menuliskan tulisan ini, Allah selalu menghadirkan kenyataan bahwa setiap orang yang saya temui sepanjang kaki ini melangkah, mereka tidak kabur mengingat tentang Bapak. Meski sampai saat ini pun saya tidak pernah benar-benar tahu bagaimana Bapak mengabdikan dirinya kepada orang-orang sampai mereka selalu terisak ketika mendengar berita duka itu.

    “Pak Agus benaran sudah meninggal ? Masya Allah, dia pernah bantu saya”.
    “Ah seriuslah, Dek. Bang Agus meninggal kapan ?”.
    “Innalillahi.. Bapakmu meninggal muda. Bapakmu itu orang baik. Kalau bukan karena beliau, saya ini entah gimana, Dek”

    Atau bahkan ada orang yang menyangkal fakta itu dengan penyesalan karena terlambat mengetahui kabar itu. Tapi tak apa, karena di hidup saya Bapak memanglah orang baik. Bapak tetap jadi kebanggaan saya dan nasihat-nasihat Bapak terus saya tularkan kepada orang-orang jika suatu hari ada yang menanyakan mengapa saya menaruh kecintaan pada ilmu pengetahuan dan agama. Semoga apa-apa yang Bapak tuai selalu menjadi tabungan kebaikan untuk saya, Mak, dan Bapak sendiri di surga Allah. Doakan saya menjadi anak sholeha dan bermanfaat, Pak. Jangan biarkan saya tenggelam dari kesedihan duniawi karena pun di hari yang tepat, Bapak-Saya-Mak akan berkumpul bersama lagi.

    Seperti judul di tulisan ini, sedari dulu Bapak bukan tipe orang yang mengusik kehidupan orang lain. Baginya, masih ada begitu banyak PR bagi setiap insan untuk memahami diri sendiri ketimbang mengurusi orang lain. Bukan, bukan Bapak namanya kalau ia bertalang hidup pada hal-hal yang bukan bagian dari dirinya dan pada kata-kata ‘kasihan’ dari orang lain. Kerjakan apa yang jadi tanggung jawab, kerjakan apa yang bisa jadi manfaat, kerjakan apa yang memang baik.

    “Hidup sederhana terkadang perih dan menjadikan kita berbeda. Tapi Allah tidak berhenti pada orang-orang sederhana dan tidak menyia-nyiakan mereka. Maka, Nak.. jadilah sederhana dan pemimpin yang cerdas dimulai dari diri sendiri. Niscaya itu akan tarik-menarik pada kebermanfaatan dan kebaikan yang lainnya,” nasihat Bapak.

    ***

    [Tulisan ini saya dedikasikan untuk Mak dan Almarhum Bapak saya. Berkat beliau berdua, saya terus semangat bersekolah hingga hari ini. Dalam rangka Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2017, semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi dan semangat bagi para pemuda yang kelak akan menjadi pemimpin amanah di negeri ini]

    Mak dan Almarhum Bapak saya.

    Continue Reading
    Older
    Stories

    Searching

    • ABOUT ME

    Media Sosial

    • Tumblr
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram

    HUBUNGI SAYA DENGAN EMAIL

    Nama

    Email *

    Pesan *

    Pengunjung

    Pict of Me

    Pict of Me

    Catatan Berkarya



    Recent Post

    • Esai Seleksi Beasiswa Karya Salemba Empat
    • Esai Diri (Program Friendship From Indonesia 2017, China - Malaysia)

    Arsip Blog

    • ▼  2022 (1)
      • ▼  Januari (1)
        • Welcome 'Twenty Five', I Am Fine!
    • ►  2021 (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juni (1)
    • ►  2019 (8)
      • ►  Desember (2)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (2)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2017 (21)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (3)
      • ►  Maret (1)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2015 (3)
      • ►  Agustus (3)

    Label

    • Blog Competition
    • Cerita Rizka
    • Diurna Rizka
    • Esai
    • Pendidikan
    • Petualangan
    • Rizka Gusti Anggraini Sitanggang
    • Tulisan
    • Writing Competition
    Instagram LinkedIn

    Created with MRIL BeautyTemplatesDistributed By Rizka Sitanggang

    Back to top