• Home
    • Akademik
    • Diurna Rizka
    • Tulisan
    • _Writing Competition
    • _Blog Competition
    • _Writing Project
    • Petualangan


    "Every time I face big problems, of course I call immediately is a young child"
    (Umar bin Khattab R.A)

        Youth is the most important-post or golden period for everyone to prepare the best things that will be enjoyed in the old days. Especially in globalization era, a variety of modern communication tools make more free for youth access data, such as internet, mobile phones, television and so forth. Thus, a variety of cultures and entertainment around the world were able to enjoyed. In the end, it will affects their character and mindset.
        Facing these challenges, an Islamic youth is required to be proactive and productive. To realize that, the youth has two roles that is responsible for themselves and contribute to the social community. As the youth, need a total ethical re-orientation. Firstly, youth has to really see themselves as part of the problem. Secondly, youth need to be sincere in the dealings and constantly has to remind themselves that for everything do will a record kept with Allah for accountability.
        In addition, an Islamic youth should stand firm in the values of truth. Youth has to be very vocal, vociferous and define what principles their uphold. So, youth can speak up, stand up, and take action for the truth where ever they are and people will dare not approach their with any corrupt mindset, which in essence will provide a buffer zone between youth and corrupt people. Youth has to inculcate within their bosom the spirit of change.
        In the golden days of youth, it is necessary to instill good habits in order to become a positive culture in youth. The life of a youth is like a young plant, at that tender age attitudes and habits are malleable, so youth could adjust it how they want it.
    In general, there are some things that need to be considered in changing the mindset and behavior of youth today, including:
    1. Inspiration. In the science of da'wah, one of the best ways of preaching is by qudwah hasanah or good example. If youths are able to imitate one of the figures owned in the nation, so the nation will not experience difficulties in the future because there will always be regeneration of these figures.
    2. Motivation. One of the driving force of a person can be more advanced in all aspects of the existence of motivation or advice to support every step he took. When someone is no longer motivated, then the dynamics he does will falter, even stop. Positive things will never happen, except with the interaction with each other.
    3. Maturity. Need to be underlined, maturity is an attitude of someone who has been able to distinguish between truth and ugliness, able to use the heart and common sense in deciding a case and be able to guide himself to stay on the rails that should be or independent.
    4. Leadership. Learning about leadership must be trained periodically and sustainably. One of them, with frequent meetings such as youth conference. It can makes a youth able to flourish outside the comfort zone and thinking 'out of the box'.
    5. Learn for getting knowledge. Seeking knowledge is very important in the society and the Muslims. By understanding knowledge, society will find an understanding and truth.
    6. Community. It is very important for the youth because it is able to sharpen the rhetoric in expressing opinions, exercising patience and great heart when youth opinion contradicts the opinions of others or when rejected, sharpen critical power and social sensitivity. If the youth has chosen his community according to his interests and talents, then any activity and however he will be happy to do. Like Uncle Sam's advice, "do what you love, love what you do".
        Based on some of the points above, Islamic youth has tremendous potential to be the main pioneers in bringing change to a better direction, especially the morale of youth and generally the morale of Indonesian society. With a morality based on Al-Quran, Islamic youth will understand how to solve problems experienced by other youths.
    ***
    (Tulisan ini diikutsertakan dalam Essay Competition di ajang International Conference On Islamic Youth Leader yang diselenggarakan pada 06 Desember 2017 di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan berhasil mendapatkan Juara 1 Essay Competition)
    Continue Reading
    Bapak saya, Agusman R. Sitanggang (kanan)

    “Bapak, kenapa Bapak selalu berprinsip untuk jadi orang sederhana?,” tanya saya pada Bapak lepas Isya di lantai teras rumah.
    “Karena bagi Bapak sederhana itu tidak pernah menyulitkan. Alhamdulillah pilihan Bapak masuk Islam pun sederhana, Dek. Karena Bapak yakin janji Allah itu tidak pernah ingkar. Bahkan sebelum Bapak kenal Mamak pun, keinginan untuk mendalami Islam sudah ada,” jawab Bapak.

    [Mengenang Bapak]
    Sudah lima tahun Bapak kembali ke Sang Khalik, selama itu juga saya tidak pernah tidak merindukan Bapak. Hari-hari ingat Bapak, saya seringkali jadi anak ‘cengeng’ hehe. Saya tidak cukup berani untuk menampilkan hal-hal yang tak mesti orang lain tahu. Kendatipun orang lain tahu, pun tak ada yang benar-benar paham bagaimana saya begitu mencintai Bapak. Bapak, saya rindu. Rindu sekali.

    Hari ini saya kembali menulis tentang Bapak. Tidak ada hari yang begitu baik selain hari-hari saya diantar dan dijemput sekolah sama Bapak, tertawa di atas motor sederhana Bapak, sholat Maghrib berjamaah bareng Bapak dan Mamak, ditemani belajar sampai Bapak tertidur sendiri di samping meja belajar saya karena tugas saya tidak kelar-kelar sampai tengah malam hahaha. Ketika Bapak diam-diam masuk ke kamar saya hanya untuk mengecek saya tidurnya nyaman atau tidak dan kemudian Bapak cium kening saya. Sebenarnya saya tahu dan sadar setiap kali Bapak masuk ke kamar saya, tapi saya tidak mau merubah suasana. Saya ingin Bapak melakukan itu setiap hari bahkan sampai saya besar dan ketika anak-anak seusia saya mulai malu kalau Bapaknya memperlakukan anak perempuannya semanja itu di depan teman-teman atau bahkan calon pendamping hidup si anak. Hahaha momen yang selalu saya bayangkan begitu lucu dan unik, sekaligus absurd.

    Bapak, saya begitu mengagumimu. Kan sudah saya bilang, bahkan kagum saja pun tidak cukup. Sejak dulu, sudah saya pastikan bahwa saya tidak akan pernah malu kalau Bapak peluk-peluk saya di depan teman-teman saya. Bapak itu kebanggaan saya. Tapi dulu saya masih malu bilang itu semua dan hanya berani mendaratkan kata-kata ejekan ke Bapak.

    “Bapak jelek! Bapak gendut! Bapak hitam!,” ledek saya setiap kali Bapak memeragakan gaya sok tampan di depan saya.
    “Ih Bapak ganteng gini dibilang jelek, gendut, hitam. Bapak paling gantenglah, Dek. Buktinya Mamak sampai cinta mati sama Bapak hahaha,” tawa Bapak sambil memainkan mata ke arahku dan Mamak.

    ***
    [Malam itu, Bapak saya roboh. Malam itu, terakhir kali kami makan malam bersama]
    Saya masih ingat di malam terakhir kita bertiga makan malam selepas Maghrib. Menu makanannya pecel lele, kesukaan saya dan Bapak. Waktu itu Bapak makan lahap sekali sampai tidak ingat kalau Bapak baru-baru saja sembuh dari sakit. Kata Bapak, pecel lele itu nikmat sekali. Enggak seperti biasa-biasanya sampai Bapak harus mengambil nasi tambah ke piring makannya. Lalu saking terburu dan semangatnya mencocol kuah pecel lele ke piring nasi, kuahnya malah menciprat mengenai mata Bapak.

    “Aduh, kuahnya ciprat! Perih!,” rintih Bapak saat itu.
    “Alah, Pak. Makannya pelan-pelan ajalah. Masih banyaknya lagi pecel lelenya, Bapak habiskan semua nanti ya,” kata Mamak menyahuti.

    Bapak ‘ngucek-ngucek’ mata dan karena tidak ada hasilnya, Bapak pun melangkah ke kamar mandi. Selang beberapa menit Bapak ke kamar mandi (sedangkan saya dan Mamak masih lanjut menghabiskan makanan di piring kami), terdengar jeritan Bapak dari belakang.

    “IKA!!! MAMAK!! Perih kali mata Bapak!!,” teriaknya tak karuan. Tidak seperti biasanya.

    Saya dan Mamak langsung bergegas menuju kamar mandi. Kami lihat posisi Bapak sudah terjongkok di dapur. Melihat kondisi itu, Mamak langsung mendekat dan saya terdiam. Kalau boleh jujur, waktu itu saya cuma bisa merasakan kalau Bapak memang tidak seperti biasanya. Perasaan saya tidak enak.

    Tak lama Mamak mendekati Bapak, langsung tubuh Bapak roboh dan Bapak terkulai. Mamak yang posisi tubuhnya dekat dengan punggung Bapak, seketika rubuh karena tertimpa badan Bapak yang memang paling besar di rumah. Selang badan Bapak roboh, Bapak langsung ‘mengorok’. Seperti ada yang menyangkut di tenggorokan Bapak dan saat itu juga Bapak benar-benar tidak sadarkan diri.

    “Ika panggilkan tetangga! Sekarang! Cepat!,” pinta Mamak saat itu juga dengan mata yang terlihat mulai tergenang air mata dan tak bisa dibohongi kalau wajah Mamak pucat pasi. Mamak panik dan tidak pernah sepanik itu.

    Saya bergegas membuka pintu dan berlari ke pintu tetangga.
    “Ibuu.. Om... Assalamualaikuuum Bu.. Om....,” teriak saya menggedor pintu dan tidak lagi berpikir apakah tetangga saya itu terganggu atau tidak.
    Tanpa menunggu lama, pintu terbuka. “Ya Ika? Ada apa?,” tanya tetangga saya.
    “Bapak, Om. Bapak jatuh! Tolong Om!,” teriak saya yang saat itu tidak bisa membendung tangis saya lagi.

    Seberes kemudian, rumah saya sudah ramai dengan orang-orang termasuk didalamnya ada Nenek saya yang dihubungi Mamak. Kebetulan rumah Nenek tidak begitu jauh dari rumah kami, sekitar 10 menitan. Kondisi Bapak masih mengorok dan tidak sadarkan diri. Bapak sudah digotong oleh para tetangga ke ruang tamu kami.

    “Iya Gus, iyaaa.. kujaga anakmu. Kujaga anakmu,” kata Nenek yang mengucapkan kata-kata itu seolah Bapak bisa mendengar. Entah apa maksud Nenek bilang begitu sambil terisak.

    Saat itu, saya hanya termangu melihat kondisi Bapak sedangkan yang lain terus membaca ayat-ayat Qur’an untuk menenangkan suasana. Ibu saya tidak berhenti menangis sambil ikut membacakan ayat-ayat berharap kemudian kepada siapapun yang sekiranya bisa membangunkan dan memulihkan kondisi suami tercintanya.

    Pikiran saya kosong. Belum bisa mengerti kenapa bisa tiba-tiba seperti itu. Saya terduduk dan termangu dengan bolak-balik memerhatikan Bapak dan orang-orang yang ramai sekali di rumah waktu itu. Saya bingung dan satu hal pertama yang saya sadari malam itu adalah dari ujung mata Bapak saya temui bulir air keluar dan mengalir mengenai kerah bajunya. Bapak menangis tapi Bapak masih tetap mengorok dan tidak mengatakan apapun. Kulihat juga lidah Bapak sudah menggulung ke dalam. Saat itu, saya ingat kata guru agama waktu SD. Katanya, itu termasuk tanda-tanda seseorang hendak dijemput oleh-Nya.

    Tak berapa lama dari kondisi kebingungan itu, seorang tetangga yang kami mintai tolong untuk dipinjam mobilnya, langsung memecahkan hiruk pikuk.
    “Cepat bawa Bapak Ika ke rumah sakit sekarang. Naik mobil saya. Ayo Ika, kita bawa Bapak ke rumah sakit ya, Nak,” kata tetangga itu yang biasa kupanggil ‘Wak’.

    Semua tetangga mengangkat tubuh Bapak. Kulihat Mamak tidak lepas dari samping Bapak. Mamak memangku tubuh Bapak di urutan kedua bangku mobil. Sedangkan saya duduk di samping Wak. Sebelum mobil menderu maju, saya memalingkan tubuh melihat Mamak yang kini matanya sudah banjir air mata dan kali ini jauh lebih terisak dari sebelumnya. Bapak saya masih mengorok, tidak tahu kapan berhenti dan kemudian membuka matanya seperti biasa. Tangan kanannya terkulai dan saya meraih tangan itu. Saya genggam tangan beliau, begitu kuat. Dan detik itu juga saya rasakan kalau Bapak merespon dengan mengeratkan genggaman saya. Eh? Bapak masih sadar, detak saya dalam hati.

    “Bapak, saya genggam tangannya ya. Kita sekarang ke rumah sakit. Disana ada dokter yang bakal nangani dan Bapak pasti sembuh. Sabar ya, Pak,” gumam saya dalam hati, berusaha menyampaikan itu ke Bapak yang saya tahu tidaklah bisa mendengar apa yang saya katakan.

    Mobil menderu dengan cepat menuju rumah sakit. Klakson mobil berulang kali dibunyikan menandakan bahwa kami butuh jalan selebar mungkin dan tidak ingin terhalang oleh apapun. Kami harus segera sampai di rumah sakit. Minggir!!, begitu kira-kira maksud mobil.

    ***
    [Saya pegang baju Bapak yang dikoyak dokter]
    Mobil langsung berhenti di depan pintu IGD RS. Sembiring Deli Tua. Dekat dari rumah kami, sekitar 10 menitan. Tanpa pikir panjang, Bapak pun langsung dinaikkan ke tanduh dorong rumah sakit dan masuk ke dalam ruangan IGD. Mamak berjalan di depan. Saya ikut dari belakang setelah mengucapkan terima kasih kepada Wak yang sudah berbaik hati tidak dibayar untuk menolong Bapak saya. Oh tidak, menolong saya dan Mamak juga. Menolong banyak orang malam itu.

    Kulihat Mamak hendak keluar dari ruangan IGD.
    “Ika lihat Bapak. Mamak bentar ngurus administrasi rumah sakit,” kata Mamak yang tanpa saya tanya langsung mengerti pertanyaan dari mata saya. Saya cuma mengangguk dan menuju tirai dimana Bapak saya dikoyak bajunya oleh dokter.

    Saya tak mungkin marah melihat baju Bapak dikoyak karena memang hanya itu satu-satunya cara. Sedangkan Bapak tidak sadarkan diri dan masih terus mengorok. Tak berselang lama, sebuah alat lebih tepatnya mirip ‘gosokan baju’ mendarat ke bagian dada Bapak. Tubuh Bapak tergoncang-goncang naik turun. Serasa ada magnet di bagian bawah alat itu yang membuat tubuh Bapak seperti disetrum, naik-turun. Saya berusaha tidak menangis melihat kondisi Bapak saya seperti itu. Yang saya harapkan adalah Bapak bisa sadar kembali, apapun caranya.

    Menunggu Mamak kembali dari ruangan administrasi, saya memutuskan duduk di bangku sambil memegangi baju Bapak yang dikoyak dokter. Bajunya basah karena keringat Bapak dan saya masih bisa mencium aroma parfum Bapak. Kenso Daun, itu nama wangi parfum Bapak. Itu kongsian dengan saya karena kami selalu punya rasa, warna, dan hal-hal lainnya yang sama. Jadi beli satu bisa kongsi berdua.

    ***
    [Pembuluh darah otak besar Bapak pecah]
    Sekembalinya Mamak ke ruang IGD, membuat hati saya makin debar karena disitu juga kami langsung dihadapkan dengan hasil ronsen bagian kepala Bapak. Tepatnya, dihadapkan pada satu kenyataan bahwa ada pendarahan di bagian dalam otak Bapak. Ya, pembuluh darah otak besarnya telah mengalami pendarahan. Itu sebabnya Bapak mengorok dan tidak sadarkan diri. Tensinya mencapai 270 per 140. Tinggi sekali. Memang, Bapak sejak dulu punya riwayat hipertensi (tensi tinggi) turunan.

    Melihat keadaan Bapak itu, dokter langsung menyarankan untuk dilakukan scanning lanjutan. Saya lupa nama jenis scanning itu apa karena namanya benar-benar biologis sekali. Langsung Mamak mengiyakan itu tanpa memikirkan biaya yang harus kami bayar untuk memproses itu.

    “Upayakan yang terbaik untuk suami saya, Dok. Berapapun akan saya bayar,” kata Mamak.

    Ternyata, Allah punya rencana lain malam itu. Seorang sahabat lama Bapak yang mengetahui kejadian itu dari telepon Mamak saat mengurus administrasi tadi, langsung menyambangi rumah sakit. Namanya Azwar Rismawardi, biasanya saya panggil ‘Om Azwar’. Sejak saya kecil pun, Om itu selalu jadi sahabat setia Bapak. Bahkan di tengah-tengah kondisi Bapak pernah diberikan ujian berat sama Allah, Om Azwar-lah yang menjadi orang pertama mengunjungi Bapak. Masya Allah.

    “Lakukan upaya yang terbaik. Soal biaya, biar saya yang urus. Yang penting si Agus (nama Bapak saya) bisa sembuh. Berapapun akan dibayar,” kata Om Azwar malam itu. Saya akan selalu ingat itu dan suatu saat Insya Allah akan saya balas dengan kabar-kabar baik dari saya dan Mamak. Amin ya Allahu Yusahhil.

    Hampir dua jam lebih kami semua menunggu di luar ruangan scanning. Mamak masih terlihat belum bisa tenang sebelum kabar baik diterima dari dalam ruangan dimana suaminya sedang diselamatkan nyawanya. Melihat jam sudah masuk pukul 10 malam, Mamak langsung mendekati saya.

    “Nak, pulang sama Nenek ya. Ini kunci rumah, pulang ke rumah dan ambil pakaian seperlunya untuk sekolah dan ganti baju besok. Tidur di rumah Nenek ya. Besok sekolahnya diantar sama Om Anto. Mamak biar jaga disini sampai kondisi Bapak aman. Tetap sekolah ya, Nak,” kata Mamak sambil memberikan kunci rumah kepada saya.

    Saya tak banyak bicara dan hanya bisa mengangguk. Kemudian saya berpamitan pada Mak, pada Om Azwar, dan semua orang yang menunggu hasil scanning Bapak.

    Malam itu, saya tidur di rumah Nenek. Malam itu, tugas sekolah saya belum kelar dan saya tidak ingin melanjutkannya. Malam itu, saya memutuskan untuk langsung tidur sesampai di rumah Nenek. Malam itu, saya terakhir tahu kalau Bapak masih belum sadarkan diri. Malam itu, saya terlalu banyak diam.
    Bapak koma.

    ***
    [Bukan jemputan sekolah seperti biasa]
    Pagi itu saya tidak begitu semangat. Mungkin efek tadi malam. Tapi saya tetap berusaha tidak menunjukkan apa yang tak mesti orang lain tahu. Bapak saya cuma sakit, pasti sembuh dan segera sadarkan diri, gumam saya dalam hati saat masuk ke dalam kelas.

    Teman-teman saya sibuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang seharusnya dikerjakan malam sebelumnya. Memang kebiasaan. Meski saya juga belum menyelesaikan PR, tapi saya tak hiraukan itu. Biar saja kali ini dihukum guru, pasrah saya.

    Kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasa. Namun, entah nasib baik atau bukan, hari itu dimana saya belum selesaikan tugas sekolah, justru sekolah dikabarkan untuk segera membawa para siswa menuju Lapangan Lanud Soewondo untuk menyaksikan sejumlah acara berhubungan dengan Angkatan Udara. Kebetulan memang sekolah saya ini milik Angkatan Udara tapi bukan juga sekolah berbasis angkatan.

    Maka, kami pun dibariskan di lapangan sekolah dan menunggu giliran bus angkatan untuk menjemput kami. Saya dapat giliran di bus ketiga dan jujur saja saya tidak sesemangat teman-teman lainnya yang gembira karena ditiadakannya kegiatan belajar mengajar. Saya merasa biasa saja.

    Setelah menyaksikan beberapa kegiatan di lapangan tempur angkatan udara itu, kami pun diantarkan kembali menuju sekolah dengan bus yang sama. Ada yang tidak enak di hati saya. Menjanggal tapi berusaha saya kaburkan.

    Tiba di sekolah dan dari balik kaca jendela bus, saya langsung melihat wajah Om Anto (adik laki-laki dari Mamak) sudah duduk di kantin sekolah. Ada apa Om Anto datang ke sekolah, tanya saya dalam hati. Saya cepat-cepat turun dari bus dan menemui Om Anto. Saya bisa lihat mata Om Anto sembab dan merah seperti habis menangis. Tidak biasanya dia pakai peci hitam dan baju koko. Oh mungkin habis dari kantornya ada kegiatan kali, pekik saya lagi.

    “Ika, kita pulang sekarang ya. Lihat Bapak di rumah sakit. Om uda permisikan Ika sama guru piket,” kata Om pada saya.
    Mendengar kata ‘Bapak’, saya langsung semangat karena bisa jadi saya dijemput cepat karena Bapak saya sudah sadarkan diri dan pengen ketemu saya. Giranglah saya saat itu, “Ohiya Om, bentar ya bentar Ika ambil tas di kelas dulu,” kata saya kemudian.

    Sebelum pulang, saya pamit dengan guru piket dan saya ingat waktu itu seorang guru bernama Pak Irwan yang memang dekat dengan saya, tiba-tiba mendatangi saya.
    “Yang sabar ya, Nak. Yang kuat ya,” kata Pak Irwan sambil tersenyum dan menepuk pundak saya.
    “Terima kasih, Pak. Saya pamit pulang duluan ya, Pak. Assalamualaikum,” jawab saya.
    “Wa’alaikumsalam,” balas beliau.

    ***
    [Yang meninggal itu adalah Bapak saya]
    Sepanjang perjalanan dari sekolah menuju rumah, Om Anto berlaku tidak seperti biasanya. Ia menanyakan seputar bagaimana sekolah saya, aman atau tidak, seru atau tidak, nilainya bagus atau tidak. Biasanya, Om Anto orang yang hanya mau bertanya hal demikian pada Mamak saja. Meski sejak saya kecil, Om Anto sudah seperti Bapak kedua saya, tapi tetap saja hari itu tidak seperti biasanya. Dari balik punggung Om di atas motor, sesekali saya bisa lihat Om Anto menyingkapkan lengan baju kokonya ke sudut matanya. Kupikir juga ada debu karena memang tidak terlihat dari balik kaca spion. Alias kaca spionnya entah kenapa sengaja dibalikkan Om. Tapi saya tak mau terlalu banyak bertanya. Yang ada di benak saya sekarang adalah saya hanya ingin lihat Bapak.

    Mendekati arah menuju rumah, saya mulai melihat ada bendera merah tergantung di pinggir gang samping rumah Nenek. Loh kok ke rumah Nenek sih, tanya saya dalam hati. Lalu, saya menyimpulkan cepat bahwa mungkin saya harus ganti baju dulu. Iya juga sih, masa mau ke rumah sakit jenguk Bapak harus pakai seragam sekolah.

    Namun semakin mendekati rumah, saya mulai tak yakin dengan kemungkinan itu semua. Pikiran saya mulai ngawur.
    “Siapa yang meninggal Om ?,” tanya saya spontan pada Om.
    “Om siapa yang meninggal ?,” tanya saya kedua kalinya.

    Om Anto tidak menjawab, malah langsung minggir dan meminta saya segera turun.
    “Udah Ika turun aja sekarang. Jalan dari sini,” katanya dengan suara bergetar seperti berusaha menahan tangis.

    Tidak melihat wajah Om lagi, saya langsung lari menuju rumah Nenek. Kursi-kursi plastik tengah disusun oleh beberapa warga dan saya lihat teman-teman Bapak duduk di antara kursi-kursi itu. Mata saya langsung mengarah ke pintu rumah. Disana, Mamak dengan kerudung hitam menutupi kepala, tengah tenggelam dalam tangisan sambil memeluk seorang sahabat lamanya yang juga saya kenal.

    Tak jauh dari tempat Mamak menangis, mata saya harus benar-benar kuat melihat apa yang saya lihat di sejurusan tempat saya berdiri. Dari depan pintu rumah, ada kain putih terbujur kaku diletakkan di atas matras berbalut kain panjang bermotif batik Jawa.

    Bapak. Itu Bapak saya.
    Saya cuma bisa ucapkan dua kalimat itu dan segera mencampakkan sepatu sekolah saya. Tanpa memikirkan siapa yang berjaga di dekat pintu, saya langsung berhambur mendekati kain putih itu. Ada yang harus saya temui disana. Saya jerit kuat sekali sampai mungkin kalau bisa mencapai bagian suara terakhir, pun akan saya kandaskan habis. Rasanya pecah. Tidak tahu saya harus bilang apa. Semua kemungkinan yang saya pertanyakan di sekolah dengan Pak Irwan, di bus angkatan udara yang saya naiki, di lapangan tempur, di atas sepeda motor Om Anto, di jalan dan semua terjawab di rumah.

    Kalau harus menyumpah serapah apa yang ada di otak saya atas kemungkinan itu, saya mau melakukannya. Sayangnya saya tidak cukup kuat untuk memarahi diri sendiri. Bukan salah siapa-siapa, bukan salah Mak, bukan salah saya, dan bukan salah Om Anto yang tidak beritahu sejak awal jemputan yang tidak biasa itu. Ini cuma saya yang belum bisa menerima kalau benar besok-besok saya tidak akan punya teman curhat terbaik lagi. Kalau besok-besok saya tidak akan tahu lagi bagaimana caranya tertawa dari hasil mengejeki orang-orang di jalanan. Dan besok-besok saya akan belajar sendirian bahkan tidur pulas sampai pagi tanpa harus pura-pura tidur menunggu siapa yang akan membukakan pintu kamar saya dan mencium kening saya. Saya akan berbagi kisah pada diri sendiri atau jika memungkinkan bertanya pendapat pada Mak.

    Mak, akan menjadi sangat sepi hatinya. Maka saya tidak akan pernah memperbolehkan hati saya sepi karena saya harus meramaikan hati Mak kapanpun selama itu mungkin. Saya dan Mak akan bergandengan berdua, saya genggam tangan Mak kemana ia ingin dan Mak akan jadi satu-satunya perwakilan diri saya untuk naik ke atas podium kalau suatu ketika kenakalan saya berubah menjadi wujud karya yang diapresiasi.

    ***
    [Saya janji tidak nangis sembarangan]
    Sejak itu, saya berjanji pada diri bahwa tidak akan menangis untuk hal-hal biasa kecuali berkaitan dengan Mak, saya, dan keluarga. Saya tidak akan lupa mengapresiasi apapun dan siapapun di sekeliling saya. Sederhana akan jadi prinsip hidup saya dan berbagi seperti Bapak dulu akan terus saya ikat. Mak dan saya akan jadi dua perempuan yang saling menguatkan. Yang terakhir, Bapak pun sudah tahu kalau kepergiannya tidak menyulitkan siapa-siapa dan kehilangan sosok Bapak akan terus dikenang baik oleh semua orang. Terbukti, hingga detik saya menuliskan tulisan ini, Allah selalu menghadirkan kenyataan bahwa setiap orang yang saya temui sepanjang kaki ini melangkah, mereka tidak kabur mengingat tentang Bapak. Meski sampai saat ini pun saya tidak pernah benar-benar tahu bagaimana Bapak mengabdikan dirinya kepada orang-orang sampai mereka selalu terisak ketika mendengar berita duka itu.

    “Pak Agus benaran sudah meninggal ? Masya Allah, dia pernah bantu saya”.
    “Ah seriuslah, Dek. Bang Agus meninggal kapan ?”.
    “Innalillahi.. Bapakmu meninggal muda. Bapakmu itu orang baik. Kalau bukan karena beliau, saya ini entah gimana, Dek”

    Atau bahkan ada orang yang menyangkal fakta itu dengan penyesalan karena terlambat mengetahui kabar itu. Tapi tak apa, karena di hidup saya Bapak memanglah orang baik. Bapak tetap jadi kebanggaan saya dan nasihat-nasihat Bapak terus saya tularkan kepada orang-orang jika suatu hari ada yang menanyakan mengapa saya menaruh kecintaan pada ilmu pengetahuan dan agama. Semoga apa-apa yang Bapak tuai selalu menjadi tabungan kebaikan untuk saya, Mak, dan Bapak sendiri di surga Allah. Doakan saya menjadi anak sholeha dan bermanfaat, Pak. Jangan biarkan saya tenggelam dari kesedihan duniawi karena pun di hari yang tepat, Bapak-Saya-Mak akan berkumpul bersama lagi.

    Seperti judul di tulisan ini, sedari dulu Bapak bukan tipe orang yang mengusik kehidupan orang lain. Baginya, masih ada begitu banyak PR bagi setiap insan untuk memahami diri sendiri ketimbang mengurusi orang lain. Bukan, bukan Bapak namanya kalau ia bertalang hidup pada hal-hal yang bukan bagian dari dirinya dan pada kata-kata ‘kasihan’ dari orang lain. Kerjakan apa yang jadi tanggung jawab, kerjakan apa yang bisa jadi manfaat, kerjakan apa yang memang baik.

    “Hidup sederhana terkadang perih dan menjadikan kita berbeda. Tapi Allah tidak berhenti pada orang-orang sederhana dan tidak menyia-nyiakan mereka. Maka, Nak.. jadilah sederhana dan pemimpin yang cerdas dimulai dari diri sendiri. Niscaya itu akan tarik-menarik pada kebermanfaatan dan kebaikan yang lainnya,” nasihat Bapak.

    ***

    [Tulisan ini saya dedikasikan untuk Mak dan Almarhum Bapak saya. Berkat beliau berdua, saya terus semangat bersekolah hingga hari ini. Dalam rangka Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2017, semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi dan semangat bagi para pemuda yang kelak akan menjadi pemimpin amanah di negeri ini]

    Mak dan Almarhum Bapak saya.

    Continue Reading


    Bagaimana bisa kita dengan jelas melihat seseorang kalau ia tak ada bedanya dengan orang yang lalu lalang ?
    “Bukankah melelahkan jika selalu ikut tren, apalagi hanya agar dianggap keren”
    (Najwa Shihab)

                Tulisan ini saya buka dengan kalimat penguat dari seorang jurnalis perempuan Indonesia yang tidak diragukan lagi kiprahnya di dunia jurnalis. Mengingat kata-katanya itu, saya pun merasakan sedikit demi sedikit. Benar juga ya, pekik saya dalam hati. 
                Terjun benar-benar dalam kehidupan seorang pewarta berita bukanlah main-main. Ini bukan soal keren-kerenan. Ya, ini yang akan saya ceritakan sedikit dalam tulisan ini. Pengalaman menjadi seorang jurnalis profesional sesuai kode etik jurnalistik dan bekerja atas dasar hati nurani, tentunya. Meski ini bukan hal baru, akan berbeda rasanya. Sebelumnya, saya sudah berkecimpung di bidang jurnalistik sejak SMA. Saat ini, selain bergabung di dua organisasi kampus yang sama-sama mendorong saya untuk produktif menulis dan liputan lapangan, saya juga mengisi waktu usai kuliah dengan menjadi kontributor di beberapa media cetak dan online. Buat nambah uang kuliah, tak apa ye hehe.
                Saat ini saya memasuki masa Praktik Kerja Lapangan (PKL) atau bisa disebut magang. Untuk disiplin ilmu lain ada yang menamakannya dengan sebutan Program Pengalaman Lapangan (PPL) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Itu semua berbeda tergantung program studi yang ditekuni.

    Memilih tempat PKL
                Saya dan dua orang teman sudah membicarakan soal bakal dimana kami akan menghabiskan 1-3 bulan menyelesaikan 3 SKS untuk mata kuliah PKL, sejak Maret 2017. Kami mulai dari tanya-tanya dengan senior.
                “Kak / bang, PKL dimana?”
                “Kemaren kakak/abang PKL disitu gimana pengalamannya?”
    “Rekomen nggak kira-kira kalau kami PKL di tempat kakak/abang waktu itu?”

                Hingga dari beberapa senior yang kami tanyai, keinginan kami pun mulai berlabuh pada sebuah surat kabar di Ibukota Jakarta. Dari tiga orang dalam satu tim ini, saya ditugaskan untuk mengumpulkan berkas-berkas semua anggota tim. Mulai dari Curriculum Vitae (CV), Surat Lamaran PKL, dan Surat Rekomendasi dari kampus. Kemudian, saya diarahkan oleh seorang senior untuk menghubungi bagian HRD dari media tujuan kami. Saya pun mengirimkan keseluruhan berkas ke email HRD.
                Selama hampir 3 bulan, kami tidak mendapatkan kepastian akan diterima di media tersebut, meskipun email pertama saya dibalas.
                Akan saya kabari lagi setelah bagian redaksi mengkonfirmasi.
                Begitulah balasan email dari HRD.
    ***
                Pikir pikir lagi, bukan saya tidak sabar menunggu, hanya saja persiapan untuk segala keperluan PKL harus saya pikirkan. Tapi dari semua itu, kondisi kesehatan Ibu saya yang sering naik turun jadi alasan paling penting. Berat hati untuk meninggalkan beliau dalam jangka waktu 1-3 bulan.



    Kalau saya PKL di Medan, saya masih bisa bantu Mamak walau gak banyak. Tak apalah PKL disini, nanti Insya Allah selesai PKL dan kondisi Mamak membaik, saya bisa izin merantau jauh, pikir saya dalam hati.
    Alhasil, dengan ikhlas saya mengundurkan diri dari media tersebut dan mencari alternatif secepat mungkin. Sedangkan, dua teman saya tetap menunggu panggilan.
    Tabarakallah, ternyata Allah menjawab doa saya. Di tengah penantian itu, seorang tetangga saya menawarkan posisi magang bagian redaksi di media tempat ia bekerja. Ya, media tersebut bernama Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA.
                Takjub saya ketika mendengar kata “ANTARA”. Jika kita telusuri sejarah perkembangan media dan informasi di negeri ini, maka akan kita temukan ANTARA sebagai lembaga berita terbesar di Indonesia dan usianya lebih tua daripada Kemerdekaan Republik Indonesia. Didirikan pada 13 Desember 1937 oleh A.M Sipahoetar, Mr. Soemanang, Adam Malik, dan Pandoe Kartawigoena.
                Setelah saya pertimbangkan kembali, maka bulatlah tekad saya mendaratkan surat lamaran PKL untuk menimba ilmu selama 1 bulan lebih di Kantor Berita ANTARA Provinsi Sumatera Utara. Meski bukan di ANTARA Pusat, tentu binaan yang ditempah akan tetap sama. Intinya, jurnalis itu harus punya idealis yang tinggi sesuai dengan kode etik jurnalistik. Sebab, tugasnya bukan semata untuk perut sendiri, melainkan untuk masyarakat dan negara.

    Day 1 (Hari Pertama)
                Tanggal 17 Juli 2017, saya dan dua orang teman (Muna Fadhiah dan Novita Arum) memulai hari pertama masa PKL di LKBN ANTARA Sumut. Mereka berdua saya ajak untuk bergabung.
                Hari pertama berjalan lancar. Kami datang  pukul 09.30 WIB sesuai dengan aturan jam masuk kantor dan mengenakan pakaian bebas rapi (kelebihan disini anak magangnya tidak mesti pakai putih hitam dan almamater).
    Sekitar 30 menit menunggu, datanglah seorang wartawan ANTARA bernama Munawar. Ya, Pak Munawar kemudian bercerita panjang lebar tentang pengalamannya menjadi seorang wartawan. Pahit getir asam manis pedas, semua rasa telah ia guyur. Beliau ditugaskan khusus meliput terkait peristiwa-peristiwa kriminal dan kasus-kasus yang diungkap oleh POLDA dan Pengadilan. Luar biasa, dalam hati saya.
    Tak lama lagi, kami berkenalan dengan seorang wartawan foto bernama Septianda. Beliau ini sudah melalang buana dengan hobi fotonya.
    Dan kemudian kami juga berkenalan dengan Pak Akung (pemimpin redaksi), Pak Juraidi (redaktur), Pak Irwan Arfa (wartawan), Eva Siregar (wartawan), Bu Endang (administrasi), dan Pak Tengku Amri (administrasi).
    Hal pertama yang saya temukan disini adalah ramah tamah dan kekeluargaan.
    Semua saling tegur sapa, lempar senyum dan tawa, serta menasihati layaknya orang tua kami. Saya berdoa semoga tempat ini akan menjadi rumah tempat saya pulang sejauh dan sekeras apapun saya bertempur di lapangan.
    Hari pertama belum ada tugas dikarenakan kami harus menunggu Bapak Suparmono (Kepala Biro ANTARA Sumut) untuk mendapatkan amanah tugas selama berstatus magang. Namun, kami tidak bertemu karena beliau sedang ada acara di Kabupaten Langkat dan akan pulang malam hari. Karena itu, Pak Amri meminta kami untuk kembali lagi esok hari.

    Day 2 (Hari Kedua)
                Selasa, 18 Juli 2017, pukul 10.00 WIB.
                Akhirnya, kami bertemu dengan Kabiro. Boleh dikatakan, usia beliau sudah seperti kakek saya. Tapi tidak menutupi tangguhnya beliau terlihat dari caranya berbicara.
                “Selamat datang di ANTARA, adik-adik. Seharusnya kalian ini anak-anak saya karena anak kandung saya pun seusia kalian”, kata beliau.
                Hari ini masih berisi wejangan dan berbagi pengalaman. Jadi, selama sebulan ke depan kami akan ditugaskan untuk meliput Program Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dibawah binaan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan.
                Siap tempur apapun kondisinya dan dilempar kemana saja, pesan yang saya ambil dari perkataan Pak Suparmono.
     
     
    Day 3 (Hari Ketiga)
                Hari pertama liputan ini sebenarnya masih meraba bagaimana alur bekerja di media ini. Alhasil, kami yang datang memang lebih pagi daripada wartawan dan pegawai kantor lainnya, memilih untuk membaca koran pagi. Surat kabar yang bertumpuk di meja rapat utama berasal dari media-media yang berlangganan berita dengan ANTARA. Hampir semua media di Sumut menjadi pelanggan berita disini.
                Tak lama kami menunggu di ruang tamu, Pak Suparmono datang dan berekspresi kaget melihat kami.
                “Loh apalagi ? Kenapa tidak turun ke lapangan ?”, tanya beliau.
                “Kami menunggu arahan, Pak. Meliput UMKM yang bekerjasama dengan Diskop ada datanya sama Bu Endang”, jawab saya memberanikan diri.
                “Yah, cemananya kalian ini? Kalau masih Kabiro juga yang mengarahkan kalian, kecil sekali lah. Inisiatif. Kan kemaren kata Kak Eva ada Pameran UMKM di PRSU. Apalagi yang kalian bilang tidak tahu mau meliput apa?”, kata beliau lagi.
                Wah, sungguh itu kata-kata ringan yang menusuk bagi saya. Tanpa berpikir panjang, apalagi memikirkan Surat Tugas Liputan, saya akhirnya berdiri.
                “Pak, saya gerak ke lapangan dulu”, kata saya yang selepas kemudian meninggalkan dua teman saya di belakang.
                Mereka mengikuti langkah saya ke luar kantor dan kami berunding beberapa menit.
                “Ka, aku enggak bawa motor hari ini. Arum juga enggak ada motor”, kata Dea.
                “Naik grabcar aja kita yok. Liputan ke PRSU kan kita?”, tambah Dea.
                *(PRSU = Pekan Raya Sumatera Utara)

                Saya mengangguk cepat dan Dea bertugas memesan GoCar.
    Yang penting liputan tentang UMKM. Udah titik, gak usah banyak tingkah, pekik saya dalam hati dengan emosi tak karuan. Saya hanya tidak ingin dinilai ‘malas’ dan kurang tanggap dalam bertugas. Tapi, ini pelajaran buat saya. Besok harus bisa cepat pelajari situasi kondisi dan alur bekerja disini.
                Setibanya di PRSU, ternyata bukan pameran seperti yang digambarkan oleh Kabiro di kantor tadi. Melainkan memang sudah ada gedung Pusat Promosi dan UMKM yang baru didirikan Pemprovsu untuk para pelaku UMKM.
     
     
                Pukul 11.00 WIB kami mulai menunggu keramaian di gedung tersebut. Namun, tidak berhasil banyak karena memang sepi sekali. Bahkan, pelaku UMKM yang menjaga stan produk disitu pun hanya satu orang. Terlihat juga masih banyak bagian-bagian gedung yang sedang direnovasi.
                “Udalah, daripada tidak ada berita sama sekali. Mending kita liput aja ini”, kata saya sambil menunjuk sebuah stan produk lokal dari Batok Kelapa.
                Ada seorang Ibu, Suami, dan anaknya yang menggantungkan beberapa pajangan produk.
    “Permisi, Bu. Perkenalkan, nama saya Rizka, ini Dea dan Arum. Kami anak magang dari Kantor Berita ANTARA Sumut. Ingin meliput produk Ibu. Boleh kami ganggu waktunya sebentar, Bu?”, tanya saya dengan hati-hati.
    Respon baik oleh si Ibu bernama Erlinda tersebut. Kami pun mulai wawancara.
    Habislah sekitar 1 jam bercengkrama ramah dan ditutup dengan dokumentasi.
    Saat Dea mewawancarai Ibu Erlinda (40), pengusaha UMKM Coco n' Art
    Saya pun membeli sebuah celengan dari batok dan serat kelapa produk Ibu Erlinda sebagai bentuk apresiasi waktu yang telah diberikan.
    Kami pulang ke kantor menggunakan fasilitas transportasi umum, Bus Damri.
    Sangking kesenangannya, saya pun sibuk mengabadikan momen ketika naik bus. Maklum, keseharian saya naik motor kemana-mana. Terakhir naik angkutan umum pun waktu masih sekolah hehehe. Efek mungkin rumah jauh dari kota dan sulit mendapatkan angkutan umum dari rumah, maka alternatif cepatnya adalah dengan sepeda motor. Hemat uang bensin juga.
     

    Sekitar pukul 3 sore, kami tiba di kantor.
    Setibanya, kami melihat Kabiro duduk di ruang rapat utama dan kami memutuskan segera naik ke ruang redaksi di lantai 2.
                Pak Munawar pun tiba di kantor tidak lama setelah kami mengetik beberapa kalimat berita. “Yak, apa berita kalian hari ini?”, tanya beliau dengan nada besar.
                Singkatnya, Pak Munawar membantu kami dan menjelaskan beberapa SOP disini.
                “Jangan karena suara saya keras jadi kalian tersinggung dan takut. Enggak, saya enggak marah. Ini memang suara saya begini. Buat kalian juganya ini, bukan buat saya. Makanya, kerjalah dengan ikhlas. Karena jurnalis ini kan uangnya tak banyak. Tapi memang kepuasan batinnya dapat, jika kalian lakukan dengan hati”, jelas Pak Munawar.
                Setelah ditatar habis-habisan dengan beliau, kami pun mengerti ternyata pekerjaan ini tidak sembarangan. Kebenaran harus tetap dikuak dan diluar sana kebenaran tengah dinanti untuk terus diinformasikan.
                Hari ini, saya mendapatkan pelajaran :
    1.      Berani, tanggap, dan inisiatif di lapangan.
    2.      Siap mental kalau wartawan senior ngomong pakai nada tinggi. Itu tandanya mereka sedang membagikan ilmunya. Telan sampai kenyang!
    3.      Tetap gembira dilempar kemana saja dan apapun kondisinya. Dilarang keras mengeluh!
    4.      Tak ada yang langsung hebat, semuanya dari bawah dulu. Belajar hidup susah, karena belajar senang itu gampang.
    5.      Tetaplah rendah hati. Kita gini mau sombong, memang kita ini siapa? Bukan siapa-siapa!
    6.      Kalau ada yang memilih terjun di dunia ini agar terlihat keren, sungguh saya tidak membenarkan hal demikian. Sebab, pekerjaan ini tidak main-main dan bukan semata keren-kerenan.

    Selain itu, hari ini kami pun resmi mendapatkan Surat Tugas dan pembagian katalog produk UMKM yang akan kami liput beberapa hari kedepan.

    Day 4 (Hari Keempat)
                Datang pukul 09.30 WIB. Buka kantor dan baca koran. Laporan ke Kabiro, turun ke lapangan, balik ke kantor, menulis berita, kirim ke redaktur, dan pulang ke rumah.
                Hari keempat saya sudah menemukan alur bekerja disini. Kurang lebih seperti yang saya jelaskan di atas. Ya, meski masih baru, tapi disini dibina untuk berpikir cepat dan mengolah pikiran sebaik mungkin. Karena kalau lambat sedikit saja, kita bisa ketinggalan.
                “Pak, berita kami sudah naik semalam, Pak”, lapor saya kepada Kabiro.
                “Ohiya? Bagus itu. Mantap kan sudah naik ke portal. Bisa jadi kalau berita kalian bagus, bisa naik ke nasional. Lumayan kan nilai tambah. Nanti akan saya baca beritanya”, jawab Pak Suparmono.
                “Apa berita kalian hari ini?”, tanya Pak Suparmono.
                “Saya akan meliput Rehani Collection di Jalan Tuasan Krakatau, Pak”, jawab saya.
                “Saya dengan Arum belum dapat, Pak. Karena narasumber yang mau kami wawancarai sedang tidak bisa”, jawab Dea.
                Tanpa menunggu lama, pukul 10.30 WIB saya pun bergerak menuju lokasi dikarenakan sudah melakukan janji dengan narasumber, Bu Rehani.  Saya pun pamit dengan Kabiro dan dua teman saya.
     
     
                Ternyata sepulang saya liputan, dua teman saya bercerita bahwa mereka mendapatkan tugas liputan ke Pasar Sambu. Liputan tentang ‘monza’ (pakaian bekas dari luar negeri). Wah, keren sekali. Cukup menantang.
                Di hari keempat ini, berita kami tidak lagi diperbaiki banyak oleh Pak Munawar. Paling masih dibantu untuk membuat judul berita yang menarik. Ya, Pak Munawar tetap seperti biasanya memberikan wejangan di sela-sela waktu sore itu.
                Pelajaran yang saya dapat memang sederhana. Hanya nasihat, tapi itu sangat berarti.
               
    “Simpan beritamu itu bukan di hape canggihmu, tapi di bukumu. Catat di buku kecil dan rekam situasinya di kepalamu. Kalau mengandalkan hape canggihmu, apa bedanya kau sama yang lain itu? Jadi, nanti biar kau yang pintar, bukan hapemu. Lima tahun lagi pasti kau rasakan manfaat dari yang kubilang ini”

    “Kalau pun mau kau todong narasumber itu, etikamu tunjukkan yang manusiawi. Jangan pula kau berkacak pinggang. Bukan hebat kau macem gitu. Gak dihargai orang kau nanti. Kita harus tetap jaga sopan santun”

    Day 5 (Hari Kelima)
                Hari kelima tetap hadir ke kantor, baca koran, dan laporan ke Kabiro tentang hasil berita kemarin. Alhamdulillah, berita saya sudah naik 3. Meski masih sangatlah sedikit, tapi itu memompa semangat saya untuk terus produktif. Silahkan dibaca hehehe.

    http://antarasumut.com/berita/167502/kerajinan-batok-tembus-pasar-tiongkok 
    http://antarasumut.com/berita/167534/pelaku-umkm-harapkan-kurikukum-di-sekolah
    http://antarasumut.com/berita/167535/malaysia-minati-batik-tenun-sumut

                Namun, kami yang masih canggung dan segan untuk memulai pembicaraan karena takut terkesan mengganggu, alhasil kami bungkam pagi itu. Tenggelam dalam berita surat kabar yang kami baca
                Tiba-tiba, Pak Munawar membuka dengan sentakan sapaan yang cukup kuat.
                “Yah! Kok diam-diaman kalian ini? Sudah laporan ke Kabiro tentang berita kalian kemarin? Waaah, kalau saya-saya juga nanti yang ngomong duluan tentang kalian, kapan kalian beraninya. Ngomonglah, bilang sama Kabiro”, kata Pak Munawar di depan Kabiro.
                Saya, Dea, dan Arum mulai pandang-pandangan. Siapa duluan yang ngomong?, begitulah arti dari isyarat mata kami.
                Akhirnya, Dea mulai bicara.
                “Hari ini saya mau meliput di sekitaran Lapangan Merdeka Medan, Pak”, kata Dea.
                “Kalau saya hari ini ke Ringroad, Pak”, tambah saya.
                “Saya hari ini ke daerah Danau Siombak, Pak”, tambah Arum lagi.
                Tepat pukul 11.00 WIB, saya pun izin duluan karena sudah janji dengan narasumber, Bu Lidya Panggabean seorang pengusaha muda.
                Cobaan di hari kelima ini adalah ketika tiba di Ringroad dan ternyata narasumber saya sudah pindah rumah sejak bulan 4 lalu ke daerah Jalan Bilal Ujung No.169, Brayan.
                Usai membaca pesan dari narasumber, saya langsung menelan ludah. Siang itu pukul setengah 12 siang. Sebentar lagi terik matahari akan bergerak tepat di atas kepala saya.
                Luar biasa. Dari ringroad ke brayan bisa makan waktu hampir 1 jam. Belum lagi saya harus cari rumahnya”, kata saya dalam hati.
                Baju saya mulai basah, keringat saya bergumul di dalam jilbab yang ketutup dengan helm, dan kulit tangan saya terasa terbakar karena saya lupa pakai sarung tangan. Tak apa, semua pasti terlewati. Dan saya menggunakan bantuan peta elektronik (Google Map) untuk menuju lokasi. Pukul 12.30 WIB saya tiba di rumah Bu Lidya dengan kondisi kehausan hehehe. Untunglah saya bawa minum dari rumah. Sembari menunggu Bu Lidya di ruang tamunya, saya meneguk setengah botol air minum.
    ***
                Hari ini, saya kembali ke kantor agak lama. Karena saya harus ke kampus siang itu setelah saya mendapatkan pesan dari Kak Maya (administrator jurusan) via Whatsapp.
    Dek Rizka, ada undangan dari DAAI TV untuk Rizka, begitu isi pesannya.
    Ya, saya ke kampus untuk mengambil undangan dari sebuah stasiun televisi swasta lokal di Medan. Dalam rangka ulang tahun media tersebut, Alhamdulillah saya diundang hadir. Jadi, undangannya langsung diantar ke jurusan.
    Rasa rindu saya dengan kampus pun mendorong kuat keinginan saya mampir sebentar kesana. Tak terasa, sudah 3 tahun saya menimba ilmu di kampus tercinta. Biasanya setiap ke kampus, wajah teman-teman selalu menyapa mulai dari di parkiran sepeda motor sampai menuju kelas. Tapi siang itu tidak seperti biasanya. Teman-teman juga sedang berjuang di tempat PKL masing-masing. Alhasil, saya langsung ke Departemen Komunikasi dan bertemu dengan Kak Emilia, dosen sekaligus Sekretaris Departemen terpilih baru-baru ini.
    Tanpa segan, saya pun minta izin untuk makan siang di ruangan Departemen. Sudah seperti rumah bagi saya. Sambil menikmati nasi bungkus dengan lauk ayam semur sebagai menu makan siang, saya pun berbincang dengan Kak Emil. Ya, suatu nikmat yang tak pernah membuat saya menyesal ada disini adalah kekeluargaan. Beda sekali cara mereka mendidik kami. Layaknya kakak dan adik, bukan seperti guru dan murid. Asal tetap sopan dan tahu batasan.
    Usai sholat Dzuhur di mushollah kampus, saya pun membantu pengumpulan jurnal senior karena kebetulan saya diamanahkan menjadi Pengurus Jurnal Flow Komunikasi. Jadi, mahasiswa yang sudah wisuda dan ingin mengambil ijazah harus mengumpulkan jurnal terlebih dahulu sebagai syaratnya.
                Jam setengah 4 sore, saya kembali ke kantor. Dea, Arum, Pak Munawar, dan Pak Juraidi, sudah di ruang redaksi dengan raut wajah serius menulis berita. Saya memelankan langkah kaki agar tak mengganggu konsentrasi mereka dan langsung mengeluarkan laptop.
                Tak lama kemudian, Pak Irwan datang dan duduk selisih satu meja dari depan saya.
                “Apa berita kalian hari ini?”, tanya beliau.
                Kami bergantian menjawab.
                “Sudah selesai beritanya? Kalau sudah, kirimkan ke email saya. Saya mau periksa berita kalian”, tambahnya.
                Debar jantung saya ketika mengklik ‘Send’ pada kotak pesan baru di email.
                Alhamdulillah, respon Pak Irwan sangat baik. Beliau pun mulai memperbaiki bagian-bagian yang kurang pas.
                “Tulisan kalian ini sudah bagus sekali untuk taraf pemula. Pastikan di alinea 1,2, dan 3 sudah menjawab pertanyaan 5W dalam ketentuan menulis berita. Sudah, sudah mantap ini. Teruskan ya. Belajar terus untuk menambah kosakata agar tulisanmu lebih luwes”, kata Pak Irwan.
                Kalau katanya pujian bisa membuat seseorang melambung dan berbunga-bunga, tapi tidak dengan pujian ini. Saya tidak merasa ingin terbang usai mendengar kata-kata Pak Irwan. Justru, saya semakin terpompa lebih semangat. Pujian justru membuat saya harus lebih bertanggungjawab pada apa yang saya liput dan tulis. Ah, semoga semangat ini tidak luntur bahkan terus meningkat sampai seterusnya.
                Terima kasih, Pak Irwan. Saya sangat mengapresiasi cara Bapak mendidik kami.
            Berikut di bawah ini adalah hasil liputan hari kelima. Di berita kali ini, saya tandem dengan Pak Irwan. “Saya ambil beritamu ya”, katanya.
                Sebenarnya saya tak paham maksudnya apa hahaha. Selama itu baik, tak masalah menurut saya. Tapi melihat ekspresi wajah saya bingung setelah mendengar kata Pak Irwan, langsung Kak Eva angkat suara.
    “Kalau tulisanmu bagus dan nilai beritanya luas, bisa naik jadi berita nasional di antaranews.com”, katanya.
    Oooh begitu toh, jawab saya dalam hati yang kemudian hanya bisa terealisasi dengan anggukan kepala. Belum cukup berani saya bersuara banyak.
    http://www.antarasumut.com/berita/167570/produk-fashion-ukm-medan-diminati-internasional

                Ya, sebelum saya tutup cerita #PKLSeries Day 1-Day 5 berhubung Sabtu tidak masuk kantor (hasek, gaya bangetlah cara ngomong Rizka ini. Sok berasa uda jadi wartawan ANTARA aja yaelah Amin-kan ajayaaa hehehe), saya akan kasih poin pentingnya.

                “Baca koran setiap pagi sebelum berangkat ke lapangan. Jadi tahu situasi terkini”, kata Pak Munawar yang menjadi wartawan pertama yang datang setiap pagi.

                “Wartawan itu harus kritis, teliti, dan detail. Harus berprinsip dan berpegang teguh pada kode etik jurnalistik supaya tidak gampang diadu domba saat di lapangan. Belajar ilmu lapangan itu tidak gampang. Perlu kebiasaan dan keikhlasan”, kata Kabiro ANTARA Sumut, Pak Suparmono.
               
                “Yang bisa membuatmu cepat berkembang adalah pengalaman dan relasi. Pengalaman, mengajarkanmu banyak hal tentang kehidupan dan beragam watak orang sebenarnya. Relasi, mendorongmu semakin dekat dengan kesuksesan dan profesionalisme. Yang penting diingat, berteman dengan siapa saja boleh, tapi tetap berhati-hatilah”, kata Bu Lidya Panggabean, narasumber saya di liputan hari kelima.
    ***
                Terima kasih untuk seminggu ini. Semoga minggu kedua, ketiga, dan keempat, berjalan lebih baik. Tetap semangat dan sampai jumpa di #PKLSeries berikutnya.
                
     
    Setiap pekerjaan punya resiko. Sekalipun itu pekerjaan yang membuat badanmu bau matahari, tak jarang menemukan kecaman, dan tidak membuatmu kaya secara finansial, tetap kerjakan dengan hati tulus dan ikhlas. Jadilah manusiawi.
    -Rizka Sitanggang-
    Continue Reading
    Older
    Stories

    Searching

    • ABOUT ME

    Media Sosial

    • Tumblr
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram

    HUBUNGI SAYA DENGAN EMAIL

    Nama

    Email *

    Pesan *

    Pengunjung

    Pict of Me

    Pict of Me

    Catatan Berkarya



    Recent Post

    • Esai Seleksi Beasiswa Karya Salemba Empat
    • Esai Diri (Program Friendship From Indonesia 2017, China - Malaysia)

    Arsip Blog

    • ▼  2022 (1)
      • ▼  Januari (1)
        • Welcome 'Twenty Five', I Am Fine!
    • ►  2021 (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juni (1)
    • ►  2019 (8)
      • ►  Desember (2)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (2)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2017 (21)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (3)
      • ►  Maret (1)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2015 (3)
      • ►  Agustus (3)

    Label

    • Blog Competition
    • Cerita Rizka
    • Diurna Rizka
    • Esai
    • Pendidikan
    • Petualangan
    • Rizka Gusti Anggraini Sitanggang
    • Tulisan
    • Writing Competition
    Instagram LinkedIn

    Created with MRIL BeautyTemplatesDistributed By Rizka Sitanggang

    Back to top