• Home
    • Akademik
    • Diurna Rizka
    • Tulisan
    • _Writing Competition
    • _Blog Competition
    • _Writing Project
    • Petualangan
    “Pendidikan hanya sebagian yang diperlukan hidup. Hal lainnya adalah integritas, kejujuran, disiplin dan kesungguhan”
    (Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia)


        Huiih, malem-malem nulis beginian sambil berharap saya bisa ketemu sama Ibu Susi suatu hari nanti (ini ngarep beneran hihihi). Assalamualaikum teman-teman.. dua minggu saya harus menunda untuk posting blog edisi bulan ini. Berhubung sejak akhir Oktober, Alhamdulillah saya sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan (tertunda) dan sudah mulai beres satu persatu di pertengahan bulan ini, maka sehabis itu saya harus segera menuntaskan janji. Janji posting hihi.
        Sebenarnya mulai dari saya padat-padatnya kegiatan, saya sudah kepikiran mau ceritakan segala keseruannya. Tapi apa daya, pulang sampai di rumah pun saya harus membuka laptop untuk melanjutkan pekerjaan dan semangat saya menulis agak sedikit terkuras karena rasa lelah (halah, lemah banget yak wkwk). Meskipun begitu, Alhamdulillah saya selalu bersyukur. Bersyukur masih diberikan kepercayaan untuk menyibukkan diri dengan hal-hal bermanfaat, bersyukur masih diberikan amanah oleh orang-orang yang MasyaAllah berperan sekali membantu saya mengukir sejarah-sejarah baru dalam hidup saya.
        Kadang kalau tengah bercermin, saya suka senyum-senyum sendiri memperhatikan banyak perubahan yang Allah titipkan kepada saya. Dari segi berpakaian, jilbab, pilihan warna, cara pandang, dan karakter saya yang entah kenapa semakin hari semakin memaknai rasa bahagia dengan sederhana *ciaaa hahaha. Tapi emang bener sih, makin kemari saya banyak disadarkan, makin tahulah prioritas sesungguhnya itu apa, dan tentunya makin diingatkan bagaimana menjadi manusia.
        Yoo.. ini akan ada kaitannya dengan perjalanan studi saya. Hehe, kebetulan saya sekarang sudah semester 7 jenjang pendidikan Strata 1, semester dimana mata kuliah sudah tidak ada lagi dan fokus mengerjakan skripsweet (seram-seram jambu ya kalau nulis ini hihi). Apa yang kemudian membuat saya kepikiran menuliskan judul ini ?
        Jadi, selama 11 bulan terakhir ini saya memang menyandang predikat ‘remaja usia 20 tahun’. Sejak ulang tahun saya di Januari lalu, saya sudah memikirkan bahwa usia ini enggak main-main, bukan lagi waktunya buat canda-canda recehan, dan bukan masanya lagi kebiasaan baper (bawa perasaan) dibawa kemana-mana. Dan beneran, semuanya terjadi di usia 20 tahun ini, di tahun ketiga perjalanan studi Strata 1 saya.
        Di tengah keterbatasan saya sebagai seorang hamba, maka perjalanan sederhana ini tidak lepas dari nikmat Allah yang tiada henti. Sementara saya tengah berjibaku untuk memantapkan apa-apa yang sudah saya niatkan, maka Allah enggak segan-segan membantu saya, merangkul saya dan skenario-Nya mengantarkan saya (Insya Allah) jadi lebih baik. Poin-poin di bawah ini pun saya share dalam rangka menuliskan sejarah untuk diri saya sendiri. Tidak ada maksud lain, hanya sekadar berbagi cerita dan pengalaman.
        Maret 2017, saya dihubungi oleh seorang kakak angkatan 2012. Beliau ini bisa dibilang teman senasib sewaktu membangun kembali organisasi yang sempat redam di kampus kami. Meski beda latar belakang ilmu karena beliau dari jurusan Antropologi Sosial, tentu saja tidak membuat kami harus berpencar dan nyatanya kami punya visi misi yang sama. Sama-sama mencintai dunia pendidikan. Kami sudah hampir 2 tahun tidak bertemu dan bersapa, Alhamdulillah di bulan itu beliau tiba-tiba menawarkan sebuah pekerjaan.
        Ya, saya diberi tawaran untuk mengajar Aritmatika Sempoa untuk adik-adik Rumah Pintar dari sebuah NGO asal Korea, tepatnya lembaga dimana beliau bekerja. Untuk di Medan sendiri, lembaga kursus Sempoa memang sudah banyak, namun biaya belajarnya masih terlalu tinggi. Alhamdulillah, dulu saya sempat belajar di lembaga kursus Sempoa itu sewaktu SD. Maka dari itu, beliau langsung kepikiran untuk menawarkan itu ke saya dan sifat bekerjanya adalah relawan. Perjalanan dari kota Medan menuju lokasi mengajar juga lumayan jauh karena harus memakan waktu sekitar 2 jam dengan naik motor. Saya tidak segan-segan mengiyakan ajakan beliau dan jadilah saya mengajar 2 kali seminggu sampai bulan Mei 2017 (karena memang di kontrak selama 3 bulan saja).
    Momen saya dengan dua murid yang selalu girang hihi terima kasih, adik-adik.
         April 2017, atas izin-Nya saya diberikan sebuah bonus yaitu sebagai satu dari 10 orang perempuan Sumatera Utara yang berhak menerima penghargaan dalam rangka Hari Kartini. Sedikit infonya, bisa dibaca ‘disini’.
        Dan di akhir April 2017 itu juga Alhamdulillah paper saya dan 3 orang teman saya dari Persma PIJAR USU lolos seleksi menjadi finalis dalam rangka Journalist Days di Universitas Indonesia. Bisa dibilang, ini adalah ajang kompetisi paper tahunan bergengsi yang dikhususkan untuk Pers Mahasiswa di universitas se-Indonesia. Maka, Allah berangkatkan kami menuju Jakarta dan qadarallah tim USU berhasil mendapatkan posisi Top 4th setelah Universitas Brawijaya, Universitas Riau dan Universitas Gajah Mada. Sedangkan posisi kelima diperoleh tuan rumah, Universitas Indonesia. Perjalanan ini adalah perjalanan pertama saya bersama tim. Biasanya kalau lomba paper saya sendirian dan enggak menyangka tahun ini teman-teman menghangatkan perjalanan saya. Sangat senang, Allahu Akbar! Tetap bersahajalah kita, teman-teman.
    Para finalis Journalist Days 2017

    Tim dari Pers Mahasiswa PIJAR USU *maaf fotonya dipilih yang blur aja deh hihi
        Juni 2017, Alhamdulillah saya diberikan kesempatan untuk bisa berbagi kepada teman-teman sesama awak media di pers mahasiswa Garda Media USU. Menjadi pemateri dalam Pelatihan Wartawan (LAWAN) dengan tema “Dare to be a Professional Journalist” di BtBs Masjid Dakwah Medan. Ya, Persma Garda Media USU ini adalah pers kampus di bawah naungan Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Ad-Dakwah USU. Hasil beritanya sudah ditulis oleh teman-teman Garda Media USU 'disini'.
        Juli dan September 2017, ini pengalaman pertama saya bisa dibilang. Ya, seorang dosen menawarkan saya untuk menjadi enumerator survei oleh Polmark Research Center dan disini saya kembali bertemu dengan macam-macam karakter masyarakat dari berbagai kalangan usia. Luar biasa, Allah kasih saya skenario yang begitu baik. Disini saya banyak belajar mendewasakan diri dan tentunya keluar dari zona nyaman karena survei sendiri dilaksanakan di luar kota Medan.
        Oktober 2017, saya juga melanjutkan penelitian dari sebuah lembaga penelitian yang bisa dikatakan sudah punya nama di tingkat nasional. Alhamdulillah, perjalanan dari satu kota ke kota lainnya membuat saya benar-benar..... lupa skripsi !! hahahaha.. Skripsi saya yang baru saja masuk bab-bab awal, mau tak mau dikesampingkan dulu demi lancarnya penelitian saya. Mudah-mudahan dosen pembimbing saya tetap sabar menghadapi satu mahasiswi bimbingannya ini yang masih haus akan ilmu. Janji, habis ini saya bakal fokus skripsian hihihi.
        Bulan Oktober ini pun adalah bulan teraneh bagi saya hehehe (saya mau ketawa dulu nih). Pasalnya, di bulan ini Allah seperti mengetuk hati saya tentang beberapa hal penting yang sering saya lewatkan. Jujur, ini adalah keputusan ekstrim pertama yang membuat beberapa teman dekat merasa kecewa, marah, kesal, bahkan sedih. Sungguh, saya minta maaf sedalam-dalamnya kepada kalian. Tak ada niat hati untuk melukai, tapi ini adalah bagian dari proses. Ya, saya memutuskan untuk uninstall Instagram. Sedikit celotehan mengenai alasannya, sudah saya posting bulan lalu ‘disini’. Yang saya butuhkan adalah support dan doa-doa kalian. Semoga Allah jadikan saya menjadi manusia amanah dan menjaga prinsip yang sudah saya pilih.
      Di bulan Oktober ini juga, qadarullah Allah rezekikan saya untuk menjadi bagian dari Focus Group Discussion (FGD) tentang "Mencari Model Rating Publik di Indonesia : Telaah Atas Rapotivi" bersama Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) dan Indonesia Melek Media. Kalau yang ini sebenarnya saya agak kaget karena merasa masih belum ada apa-apanya hehe, tapi ternyata saya belajar bahwa di momen ini karena diizinkan untuk belajar langsung dari orang-orang yang sudah berkompeten di bidangnya. Ulasan ceritanya, juga sudah saya posting ‘disini’.


        November 2017, setelah siap menghadapi segala macam konsekuensi yang harus saya terima akibat keputusan saya bulan lalu hahaha, saya pun lebih siap menghadapi tantangan-tantangan baru kedepannnya. Insya Allah, selalu ada jalan bagi yang sungguh-sungguh. Saya yakin dengan janji Allah untuk niat-niat baik umat-Nya. Mohon doanya juga ya, teman-teman.
        Bulan November yang masih berlangsung hingga saya menyelesaikan tulisan di postingan ini, telah memberikan saya space yang tak kalah menarik. Sampai membuat saya berdegup, takut kalap hehe. Tapi mudah-mudahan tidak ya. Alhamdulillah, beberapa waktu lalu saya berkesempatan menjadi pemateri dalam Kegiatan Pelatihan Menulis tentang "Feature, Editorial, dan Press Release" untuk organisasi saya sendiri, yaitu Public Relations Komunikasi Universitas Sumatera Utara (PRASTA). Dan kembali diundang kedua kalinya sebagai pemateri dalam kegiatan Pelatihan Wartawan (LAWAN) dengan tema "Menulis Artikel" oleh Persma Garda Media USU.
     
        Lalu, dosen di kampus juga memberikan saya kepercayaan untuk mengerjakan beberapa hasil penelitian dan ikut serta dalam FGD Panel Ahli dalam rangka Survei Indeks Kualitas Penyiaran oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Ini merupakan kedua kalinya di tahun 2017 (sekaligus diskusi terakhir di tahun ini) dan Universitas Sumatera Utara dipilih menjadi salah satu dari 12 universitas yang bekerjasama dalam kegiatan ini dengan KPI.
     
        Daaaan... bonus tambahan dari Allah di bulan ini adalah saya diizinkan untuk mengisi Seminar Nasional bersama penulis yang bisa dibilang, “siapa sih yang enggak kenal beliau ? Apalagi para kids zaman now hehehe". Qadarullah Insya Allah saya akan mengisi disini, teman-teman.

     
        Bagi yang berkenan hadir dan masih di wilayah sekitar Medan, kita bisa sharing nanti selama seminar. Mudah-mudahan saya bisa maksimal semaksimal Uda Boy Chandra hihihi. Agak deg-degan soalnya disandingkan dengan penulis yang namanya sudah seantero begitu. Ah tapi gak apa-apa kan ya, mana tahu saya bisa kecipratan hal-hal baik dari beliau. Amin Ya Allahu Yusahhil.. Sampai ketemu yak disana! *lambai-lambaikan tangan hihihi...

    Tertunda traveling Jawa.
        Sebenarnya, kalau ditanya mengapa ini saya masukkan ke bagian postingan ini karena niat saya di tahun 2017 ini inginnya keliling Jawa. Saya begitu tertarik ingin balik mengunjungi Bandung, naik kereta api menuju Yogyakarta, dan menikmati senja di Malang. Tapi, Allah punya cara lain untuk mewujudkan keinginan saya itu. Ya, beliau mungkin ingin saya fokus menyelesaikan urusan studi saya. Takutnya, saya malah terlena traveling dan kelamaan pulang. Alhasil, apa kabar skripsi saya ? Bisa-bisa terbengkalai begitu lama. Ini saja masih di Medan, saya masih nyentuh skripsinya secuil-cuil alias sambilan hihi.
        Lagi-lagi, saya tidak merasa patah semangat. Digantikan dengan begitu banyak pengalaman baru selama ini, tak patut rasanya jika saya masih juga ngotot atau sebal sama apa yang sudah Allah kasih. Keinginan saya untuk terus belajar dan sekolah semakin didukung dengan hal-hal baru ini. Kurang baik apalagi coba Allah sama kita ya ? hehehe tapi saya sendiri mah kadang masih suka ‘ngeyel’ melaksanakan perintah-Nya. Suka nunda-nunda sih tepatnya. Ini pelajaran, diketuk sayanya supaya sadar sebelum kebablasan terlalu jauh.
        Maka, sebenarnya pun saya selalu menekankan kepada diri sendiri dan teman-teman dekat di kampus, bahwa segimanapun keadaannya selama niat kita baik Lillahi ta’alaa, Insya Allah yang namanya rezeki enggak akan lari kemana. Begitupun, keinginan saya traveling keliling Jawa mudah-mudahan tetap bisa terwujud di tahun 2017 ini, entahpun bisa jadi Allah hadiahkan itu sebagai bonus perjalanan untuk penghujung akhir tahun. Ah, pasti tak kalah seru dengan rencana sebelumnya! Sabar, semua akan ada waktunya.


    Menyempatkan menulis di tengah deadline paper dan skripsi yang berkeliaran.
    Medan, 01.30 WIB.
    Continue Reading
    Assalamualaikum..
    Halo sahabat inspirasi muda Indonesia!! Masih semangat ? Nah, Rizka punya cerita nih dan pengalaman baru yang luar biasa. Yuk, baca yaaa.. :)

    Alhamdulillah, beberapa minggu lalu Rizka dinyatakan lolos seleksi TnT#2 (Traveling and Teaching) 1000 Guru Medan. Sudah pada tahu belum itu apa? Nah, sesuai dengan kepanjangannya yaitu Traveling and Teaching, pastinya berkaitan dengan pergerakan sosial. Iya, bener sekali! Tapi kali ini ada yang berbeda, teman-teman.. Bedanya adalah para relawan yang dinyatakan lolos seleksi berkas dan interview akan berangkat ke pelosok desa, menetap beberapa hari disana, mengajar anak-anak di desa tersebut, memberikan donasi, melakukan penyuluhan dan pengobatan gratis untuk pengabdian masyarakat dan PANTANG MENGELUH!

    Tujuan TnT#2 - 1000 Guru Medan kali ini adalah Sekolah MIS Al-Ittihadiyah di Desa Karang Gading, Dusun 15, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Pernah nonton film Laskar Pelangi ? Sekolah yang kami kunjungi itu percis seperti sekolah Muhammadiyah yang ada di film Laskar Pelangi itu. Tak disangka ! Butuh waktu kurang lebih 4 jam dari kota Medan menuju tempat tujuan. Siapa sangka dibalik hiruk pikuk gedung tinggi di Kota Medan, ternyata (masih) ada tempat yang harus kita lihat, teman-teman.. Tempat dimana generasi bangsa yang hebat dan luar biasa terlahir dari sini. Siapa sangka dibalik enaknya tidur siang dan tidur malam kita, ternyata (masih) ada yang harus tidur beralaskan kain tipis. Siapa sangka dibalik segarnya air yang kita nikmati, ternyata (masih) ada yang susah mendapatkan air bersih. 










    Dalam TnT ini, ada beberapa bagian yaitu tim pengajar, tim pengabdian masyarakat, tim penyuluhan dan pengobatan gratis. Alhamdulillah lagi, aku diberi kesempatan untuk menjadi Tim Pengajar dan bertugas mengajar di kelas 5 bersama rekan Dimas. Materi yang kami sampaikan adalah Kegiatan Sehari-hari. Awal masuk, anak-anak sulit untuk menyebarkan senyum. Aku dan bang Dimas berusaha untuk melakukan yang terbaik. Senyum! 
    Kami kemudian menyelipkan permainan, nyanyian dan yel-yel untuk anak-anak supaya mereka tidak bosan. Perlahan tapi pasti, mereka sudah mulai berani untuk maju ke depan. Luar biasa!







    Banyak cerita tersalur hangat dari para generasi bangsa di desa ini. Terdengar kata-kata mereka 'Aku ingin jadi pemain bola. Mau jadi guru bahasa Indonesia, guru Matematika. Mau jadi Koki dan sebagainya'. Di akhir kegiatan belajar mengajar, ada sesi Pohon Harapan. Apa itu ? Itu adalah sesi dimana anak-anak menulis nama dan cita-citanya di sebuah kertas origami berbentuk daun yang kemudian ditempelkan di Pohon Harapan tersebut. 




    Setelah itu, seluruh relawan dan panitia mengajak adik-adik bermain sebuah permainan "Bersyukur". Kami membentuk sebuah lingkaran besar. Relawan dan anak-anak saling bergandengan tangan. Permainan dipimpin oleh kak Dortiala Manurung, pembina dari 1000 Guru Medan dan dibantu oleh bang Arif Wardiman, ketua panitia TnT 1000 Guru Medan. Permainannya adalah menendang bola. Tapi jangan salah, apa yang berbeda ? Ini dia ! Salah seorang anak bernama Umam, ditutup matanya dan mencoba mencari bola dengan mendengar panduan dari teman-teman yang ada di sekelilingnya. Seluruhnya menyoraki "Kiri kanan kiri kanan depan depan depan lagi, mundur mundur....", begitulah sorakan dari teman-temannya untuk membantu Umam menemukan bola yang akan ditendangnya. Di akhir permainan, kak Dorti menyampaikan "bagaimana rasanya berjalan dan melakukan suatu kegiatan dengan kehilangan salah satu dari indera kalian? enak atau enggak?". Anak-anak menjawab "Tidak enak Bu!". Lalu kak Dorti bertanya lagi "Kalau begitu, katakan pada Tuhan, "Ya Tuhan, terima kasih atas mataku, atas telingaku, atas kedua tanganku, atas kedua kakiku, atas mulutku, atas hidungku, atas semua yang kau beri". Anak-anak serempak mengikuti kata-kata yang disampaikan oleh kak Dorti tersebut.







    Kemudian, setelah permainan usai. Anak-anak diarahkan untuk masuk ke ruangan kelas masing-masing. Dan mulailah sesi Heart to Heart, dimana relawan memilih 3-4 orang anak untuk diajak curhat dari hati ke hati secara mendalam. Tentang apa ? Tentang apa saja keluh kesah dan perasaan yang ada di hati anak-anak. Aku mendapatkan 4 orang anak dari kelas 4. Banyak hal yang kutanyakan pada mereka. Tersentuh hatiku.



    Salah seorang anak bernama Tika, kelas 4 SD. Anak pertama yang menangis pada Rizka saat sesi Heart to Heart. Ketika Rizka bertanya "Kamu pengen jadi apa?". Tika menjawab "mau jadi juru masak, Bu. Biar makan enak setiap hari. Ibu saya sudah tidak ada dari saya kecil. Bapak saya kerja Mokat. Saya senang sekali Ibu dan Bapak Guru mau datang. Saya merasa tidak sendiri. Jangan pulang, Bu. Disini saja Ibu sama saya. Ibu mau kan tinggal sama saya ?". Disaat semua sudah keluar kelas, dia tarik tanganku, "Saya mau peluk Ibu. Boleh?". Dan aku pun merebahkan tanganku kemudian memeluknya erat. Di tengah pelukan itu, Tika yang luar biasa menangis di punggungku. Terdengarku dia menarik 'ingus' yang meleleh jatuh. Bajuku basah. Lalu dia katakan "Bu, terima kasih". Aku tak kuat menahan haru dan air mataku. Aku memeluk ia semakin erat. Tikaaa, kamu anak baik. Sangat baik sekali.. (dalam hatiku yang tak terucap). Kemudian, aku hapus air mataku di balik punggungnya sebelum melepas pelukannya. 

    Kemudian, panitia memanggil untuk keluar kelas. Aku bergegas bersama Tika untuk keluar bersama. Di luar kelas, aku meminta teman untuk mengabadikan momenku bersamanya. Suatu saat nanti, alasanku ingin kembali adalah Tika, si anak yang luar biasa. Tika.... Ibu berdoa untuk kamu :') Sukses! "Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu!" (Andrea Hirata)


    "Baik-baiklah sekolah. Bangun desa kalian dengan pendidikan. Jangan terbelenggu karena keterbatasan yang ada. Jadilah yang memang baik!". Ketika kalian harus menembus berbagai belenggu dengan berlari tiada henti untuk mengejar asa yang lama telah terpatri, kalian harus percaya mimpi itu akan kalian raih walau harus berlari tiada letih. Manusia punya hak untuk bermimpi, tetapi manusia juga punya kewajiban untuk mengejar mimpi-mimpinya itu. Tidak ada kesulitan yang tidak akan mengandung kemudahan dan tidak ada kemudahan yang semuanya indah. Karena tidak ada mimpi yang terlalu besar dan kandas sia-sia. PERCAYA!




    Bersyukur tiada akhir telah diberi kesempatan untuk berbagi kisah suka dan duka bersama kalian, adik-adik hebat dan luar biasa. Bersyukur tiada akhir telah memberikan kami pelajaran sebagai manusia bahwa "SYUKUR ITU PENTING", bahwa "MIMPI DAN CITA-CITA PUNYA SIAPA SAJA", bahwa "KETERBATASAN TIDAK MENGHALANGI MIMPI", bahwa "MENJADI GURU ITU TIDAK MUDAH". Terima kasih banyak adik-adik. Semoga kedepannya, kita semua bisa lebih banyak merenung tentang 'APA YANG SEHARUSNYA KITA LIHAT DARI SEKARANG' dan 'APA YANG SEHARUSNYA KITA LAKUKAN SEJAK SEKARANG'. Hati berdoa semoga Allah SWT memanjangkan langkah, rezeki dan umur untuk hadir bersama kalian kembali. Dan harapan terbesar, agar semakin banyak dari kita yang IKUT dan BERGERAK untuk sama-sama bangun Indonesia!




    Buka mata, turun tangan, ayo ikut dan bergerak. Dengan cara apapun yang menurut kita nyaman, itu tidak masalah. Kita semua pasti punya cara sendiri. Bukan harus menuntut kesempurnaan dulu utk bergerak. Sekecil apapun itu, perbanyak buka tangan dan kuatkan kaki untuk siap menopang kiri dan kanan kita.




    Sampai jumpa lagi, anak-anak hebat dan luar biasa. Bergegaslah capai mimpi kalian.
    Salam Indonesia. Salam inspirasi muda!
    Continue Reading
    DPR DALAM KONTRIBUSI PEMBANGUNAN
    Dewasa ini, pembangunan di Indonesia mengalami kemerosotan dari berbagai aspek. Mulai dari aspek pendidikan, sosial budaya, hukum, ekonomi sampai aspek perubahan zaman. Kemerosotan pembangunan dipicu oleh kemerosotan lingkungan global yang terus berlangsung. Sebagai contoh, terjadinya krisis kekurangan air di seluruh dunia,  tersainginya paradigma pembangunan berkelanjutan dengan paradigma globalisasi dan krisis pembangunan berkelanjutan dimana-mana.
    Globalisasi dapat terjadi dalam bentuk penyebaran teknologi-teknologi baru, termasuk rekayasa genetika yang berpotensi mempengaruhi lingkungan secara signifikan. Globalisasi telah menenggelamkan tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan dan mengutamakan butir-butir penting usulan-usulan untuk mengatasi sejumlah persoalan dalam kaitannya dengan globalisasi dan pembangunan berkelanjutan. Melihat keadaan ini, perlu dilakukannya pengelolaan global yang sesuai dan demokratis serta kesadaran dari seluruh warga negara.
    Pembangunan harus berlangsung dalam situasi parameter yang terus-menerus berubah, yang secara sinambung menimbulkan perubahan persyaratan bagi pemeliharaan ketertiban dan kestabilan. Diinginkan atau tidak, pembangunan berarti urbanisasi dengan skala besar dan mobilitas yang lebih besar pada umumnya. Ini berarti terciptanya barisan tenaga kerja yang disiplin dan sangat banyak kelompok masyarakat melalui transportasi dan melalui media. Pembangunan berkelanjutan juga mencakup kepentingan sarana-prasarana sosial suatu negara. Satu kondisi penting bagi pertumbuhan itu sendiri, sama sekali tanpa memandang sistem politik atau ideologi. Lalu, ada satu titik pada proses pembangunan yang momentumnya tidak bisa dipertahankan kecuali jika terdapat keikutsertaan dan prakarsa yang aktif dan sukarela dari pihak petani serta pihak wiraswasta kecil di daerah pedesaan dan kota-kota.
    Pembangunan prasarana sosial juga memerlukan desentralisasi, baik pada usaha perencanaan dan pembangunan suatu proses yang membutuhkan sangat banyak waktu serta usaha dan melibatkan banyak risiko. Akan tetapi, jantung permasalahan pembangunan terletak pada kesulitan mempertemukan kebutuhan-kebutuhan pihak pusat untuk menjatahkan secara paling rasional dan efisien sumber-sumber pembangunan dari bawah dengan unsur-unsur otonomi dan kepercayaan pada diri sendiri.
    Kemudian, pembangunan berkelanjutan dari aspek pendidikan juga mengalami kemerosotan. Masalah pendidikan di Indonesia yang akhir-akhir ini muncul kepermukaan banyak berkaitan dengan mutu pendidikan baik dalam dimensi proses maupun hasilnya. Masalah ini semakin dirasakan sebagai krisis pendidikan yang meresahkan, karena banyak pendekatan pembangunan pendidikan hanya memfokuskan pada masalah kuantitas, sehingga usaha mencerdaskan kehidupan bangsa cenderung dipersempit dalam lingkup pendidikan formal dan pembelajaran yang terbatas pada perhitungan kuantifikasi dengan mengabaikan kualitas. Walaupun sekarang ini telah dilancarkan pengembangan pendidikan yang menyangkut pemerataan, kualitas, produktivitas dan relevansi, namun masalah pendidikan terus berkembang makin rumit dan terbelenggu dalam sistem yang tengah terstruktur.
    Pemberlakuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Kabupaten/Kota sebagai Daerah Otonom membawa implikasi terhadap pelaksanaan otonomi dan demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Salah satu pesan yang tertuang dalam UU No. 22/1999 adalah bahwa daerah berkewajiban menangani pendidikan yang rambu-rambunya telah dijabarkan dalam PP No. 25/2000. Persoalan mendasar dalam desentralisasi pengelolaan pendidikan adalah mengenai apa yang seharusnya dilakukan, oleh siapa hal itu dilakukan, dengan cara bagaimana, dan mengapa demikian. Melalui pengelolaan yang desentralistik, diharapkan pendidikan dapat dilaksanakan dengan lebih baik, bermanfaat bagi kehidupan daerah, bangsa,  dan negara. Melalui desentralisasi diharapkan tidak terjadi kemunduran dalam pendidikan dan tidak juga justru melemahkan semangat integrasi nasional.
    Bagaimana kinerja dari lembaga parlemen yaitu DPR dalam peningkatan pembangunan mutu pendidikan di Indonesia ?. Disini akan saya kupas dari beberapa sumber referensi yang saya dapat.

    Dalam harian online yang saya baca yaitu harian “SUARA MERDEKA” (16/09/13) pemerintah kembali membumikan gerakan membaca di daerah Jawa Tengah. Berikut, dibawah ini isi beritanya:
    Membangun karakter bangsa dapat dilakukan antara lain melalui kebiasaan membaca, hanya pelaksanaannya di Jateng perlu pembaruan. Berkait dengan pengedepanan kembali wacana tersebut, DPR meminta kepada pemerintah pusat dan daerah merevitalisasi secara menyeluruh perpustakaan. (SM, 16/9/13).
    Diharapkan melalui perbaikan pelayanan dan jaminan ketersediaan koleksi buku yang bervariasi pada masingmasing perpustakaan, bisa kembali terbangun budaya membaca pada kalangan masyarakat. Perubahan paradigma itu penting mengingat kebutuhan akan pengetahuan, selain informasi dan huburan, kini menjadi isu penting.
    Dalam kunjungan kerja ke beberapa daerah di Jateng, beberapa anggota Komisi X DPR menyatakan perpustakaan masih dianggap sekadar pelengkap dan atribut pendidikan, termasuk oleh pimpinan daerah. Anggota Komisi X DPR dari daerah pemilihan Jateng Abdul Kadir Karding mengatakan saat ini perpustakaan masih dianggap ’’penampungan’’ pegawai yang kariernya sudah mandek atau mendekati pensiun.
    Penulis mendukung rencana pemerintah merevitalisasi perpustakaan mengingat upaya itu merupakan salah satu langkah tepat untuk bisa merealisasikan tujuan Gerakan Nasional Indonesia Membaca. Gerakan itu saat ini sudah dilaksanakan oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) atau Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI).
    Sehubungan dengan wacana itu, masyarakat perlu kembali memahami hakikat buku sebagai jendela ilmu. Buku bisa memberi kontribusi pada upaya peningkatan kualitas bangsa karena bangsa yang punya minat tinggi membaca pasti memiliki sejumlah keunggulan kompetitif.
    Nilai itulah yang bisa menjadi modal untuk lebih siap bersaing dengan bangsa lain. Karena itu, kita perlu mengampanyekan dan mengajari anak-anak sejak usia dini untuk gemar membaca, dan itu bisa dimulai dari lingkungan keluarga. Bahkan bila koleksi buku di rumah dirasa cukup lengkap, tidak ada salahnya membuat perpustakaan yang juga bisa diakses oleh warga sekitar.

    Perpustakaan yang memiliki pustakawan profesional, dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai, seperti ruang baca luas, koleksi buku lengkap, bersih dan nyaman, memengaruhi minat warga untuk mengunjungi. Terlebih bila dilengkapi bahan bacaan lain, seperti surat kabar, tabloid, majalah, buku fiksi dan nonfiksi.
    Khusus dalam bidang pendidikan di Jateng, secara umum kita melihat kondisi perpustakaan sekolah yang masih perlu pembenahan. Di samping pelayanan yang masih terbatas, koleksi buku sudah ketinggalan zaman, dan tidak bervariasi. Apalagi belum semuanya dilengkapi fasilitas penunjang yang kini dibutuhkan peserta didik, semisal jaringan internet.
    Kita bisa melihat keseriusan pemerintah memberdayakan perpustakaan, salah satu sarana untuk mendukung kesuksesan gerakan membaca. Dalam Laporan Rencana Kerja Anggaran Kementerian Lembaga (RKAKL) 2014, pagu anggaran sementara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dalam RAPBN 2014 sebesar Rp 435 miliar.
    Angka itu naik sekitar 2,5% dari APBN 2013, yakni Rp 424 miliar. Kepala PNRI Sri Sularsih mengajukan usul tambahan anggaran melalui inisiatif baru penganggaran 2014 sebesar Rp 290 miliar. Anggaran itu akan dialokasikan untuk membangun fasilitas layanan Perpusnas Rp 202 miliar, pengembangan perpustakaan digital Rp 17 miliar, dan bantuan pengembangan perpustakaan Rp 18 miliar (SM, 16/9/13).
    Pemda juga perlu lebih mengoptimalkan peran institusi Perpustakaan Daerah (Perpusda) yang melayani masyarakat di pedesaan dengan menggunakan mobil perpustakaan keliling (perpusling) secara terjadwal. Namun di beberapa daerah, jumlah mobil perpusling masih terbatas.
    Seluruh elemen masyarakat di Jateng seyogianya mendukung Gerakan Nasional Indonesia Membaca. Pemda juga harus memberikan dukungan, antara lain dengan merevitalisasi perpustakaan daerah, dan membangun fasilitas itu di kabupaten/kota yang belum memiliki. Termasuk memberdayakan taman bacaan masyarakat
    — Ambijo, pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sanggar Candra Buana Kebumen

    Saya sebagai pelajar di dalam masyarakat yang menginginkan negara Indonesia dapat menjadi negara yang mampu bersaing dalam meningkatkan mutu dari segala aspek di era globalisasi sekarang ini, membuat beberapa kontribusi, jika saya mendapatkan kursi sebagai anggota DPR : (1). Tetap berada pada garis kedaulatan rakyat . Jelas dikatakan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi, yaitu negara yang kekuasaannya ditangan rakyat, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. (2). Meningkatkan mutu pendidikan nasional dan kualitas generasi bangsa dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mampu bersaing dengan kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kualitas suatu negara untuk menjadi maju dilihat dari kualitas para generasi bangsanya.
    Sumber Referensi :
    1. Khor,Martin.2002.Globalisasi & Krisis Pembangunan Berkelanjutan.Yogyakarta
    2. Prof.Dr.Sritua,Arief.2001.Indonesia Tanah Air Beta.Muhammadiyah University Pers

    3. Harian Online “SUARA MERDEKA” (16/09/13)
    Continue Reading

    Searching

    • ABOUT ME

    Media Sosial

    • Tumblr
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram

    HUBUNGI SAYA DENGAN EMAIL

    Nama

    Email *

    Pesan *

    Pengunjung

    Pict of Me

    Pict of Me

    Catatan Berkarya



    Recent Post

    • Esai Seleksi Beasiswa Karya Salemba Empat
    • Esai Diri (Program Friendship From Indonesia 2017, China - Malaysia)

    Arsip Blog

    • ▼  2022 (1)
      • ▼  Januari (1)
        • Welcome 'Twenty Five', I Am Fine!
    • ►  2021 (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juni (1)
    • ►  2019 (8)
      • ►  Desember (2)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (2)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2017 (21)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (3)
      • ►  Maret (1)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2015 (3)
      • ►  Agustus (3)

    Label

    • Blog Competition
    • Cerita Rizka
    • Diurna Rizka
    • Esai
    • Pendidikan
    • Petualangan
    • Rizka Gusti Anggraini Sitanggang
    • Tulisan
    • Writing Competition
    Instagram LinkedIn

    Created with MRIL BeautyTemplatesDistributed By Rizka Sitanggang

    Back to top