• Home
    • Akademik
    • Diurna Rizka
    • Tulisan
    • _Writing Competition
    • _Blog Competition
    • _Writing Project
    • Petualangan


    Hai November, kita ketemu lagi! Sebulan ini ada banyak sekali cerita yang aku tuliskan di buku harian. Awalnya, ingin kuceritakan juga di sini. Tapi sayangnya, aku tidak seberani itu. Pengecut ya namanya? Ah, entahlah apa namanya itu. Ku urungkan niat untuk membongkar itu semua di sini karena ku pikir tidak semua hal harus selalu diungkapkan. Toh seiring waktu berjalan, bakal kelupaan juga sih kalau memang itu sebenarnya enggak penting-penting amat.

    Dalam sebulan terakhir, rasanya campur aduk. Kau tahu kenapa, Kawan? Itu semua karena pikiranku sendiri. Padahal tidak ada yang benar-benar ribet di dunia ini. Yang ribet itu, cuma apa yang ada di dalam otak manusia. Keterbatasan sebagai manusia justru mendorong manusia itu sendiri untuk menerka-nerka apa yang akan terjadi di masa depan.

    Keinginan ini dan itu dibangun sedemikian tinggi, seperti mimpi anak-anak negeri lima menara. Tinggi sekali, membumbung sampai ke langit. Bisa tidak kau gapai itu? Jawabannya, belum tentu. Yang sekali-kali kau rasa mampu, nyatanya bukan itu yang terbaik. Kau rasa mampu sekali, tak serta-merta jadi milikmu begitu mudah.

    Aku ingin. Inginku besar sekali, seperti hari-hariku yang megah karena lebih banyak berbesar hati. Kau tau mengapa harus demikian? Karena kalau tidak begitu, aku tidak bisa merawat diri. Inginku banyak sekali, seolah yakin matahari pagi esok hari masih setia jadi penanda bahwa aku masih numpang di Bumi.

    Petualangan besar adalah inginku. Meski besar-kecil itu relatif dan besar dalam artianku berbeda. Aku ingin berpetualang besar hingga aku sendiri lelah, kehabisan bensin, minta istirahat. Tapi ada ketakutan bersemayam. Kau tau apa itu? Itu adalah kodrat.

    Terlahir sebagai perempuan adalah kodratku, walau aku tak pernah meminta atau menolaknya. Aku bersyukur. Karena dengan mengingat kodrat, inginku jadi punya batas. Inginku jadi punya prioritas, inginku tidak sembarangan dibangun, inginku ada alasan dan nanti inginku pasti akan ada habisnya. Habis, tepatnya ketika ruh tidak lagi bisa mengerdipkan mata atau mengendus bau dengan hidung.

    Dicintai adalah inginku, demikian kata kodratku, walau aku tak pernah bilang begitu. Tapi aku juga enggan membantahnya. Setidaknya kalau pun boleh meminta, aku ingin segala sesuatu terbagi sesuai porsi. Begitu pula dengan hari-hari di mana nanti aku akan bilang, "kita terlahir di dunia sebagai manusia dan segala persoalannya di Bumi, bisakah kita berjalan bersama tanpa harus ada pengakuan 'aku' atau pun 'kau'?"

    Bergandengan dan sejajar adalah inginku berikutnya. Sebab bagiku, semua manusia itu sama di hadapan Tuhan. Aku ingin, manusia tidak bercerai-berai karena ego. Cukuplah hanya Javasentris milik Ibu Pertiwi yang sulit ditebak apa maunya. Ia diperhatikan tapi seolah 'tidak tahu berterima kasih'. Bak anak emas, apa-apa dituruti dan apa-apa diramaikan.

    Dari semua inginku, menjadi bahagia ada di urutan puncak. Perasaan campur aduk, mimpi membumbung tinggi, petualangan besar, kodrat, bagi-membagi, kewajiban-hak-tanggung jawab, dan sebagainya, bermuara pada satu tujuan. Untuk menjadi manusia yang bahagia. Bahagia bagiku adalah bebas. Aku ingin bebas meramu dan menyusun bahagia. Menanam benih seluas-luasnya, lalu memetik ia di kemudian hari.

    Aku ingin. Sungguh, aku benar-benar ingin.
    Continue Reading

    Sebenarnya, istilah nokturnal lebih tepat diperuntukkan bagi hewan. Hewan giat malam atau hewan nokturnal adalah hewan yang tidur pada siang hari, dan aktif pada malam hari. Aktivitas yang merupakan kebalikan dari perilaku manusia (diurnal). Tapi aku masih belum tahu apa nama lain untuk menyebutkan perilaku manusia yang aktif pada malam hari, tapi tidak tidur di siang hari -sebab bekerja dari pagi hingga sore-. Sulit sekali cara berpikirku, ah sudahlah.

    Semasa kuliah, aku termasuk orang yang aktif pada malam hari, terlalu aktif bahkan. Aku bisa tiba-tiba menggambar, melukis di kanvas, bermain tinta, atau juga menulis di tengah kesunyian saat orang-orang tertidur pulas. Ya, seperti yang kulakukan saat ini. Menulis di saat orang merebahkan tubuh di kasur untuk melepas penat seharian beraktivitas.

    Ada yang mengatakan bahwa seseorang dengan jam tidur lebih sedikit, memiliki pola pikir lebih tajam, atau kata lainnya orang itu cenderung cerdas. Tapi, kalau berkaca dari pernyataan itu dan melihat kepada kebiasaanku yang punya jam tidur lebih sedikit setiap hari, rasanya aku masih jauh dari kata 'cerdas'.

    Sedari duduk di bangku SMP, aku mulai terbiasa tidur di atas jam 12 malam. Alasannya, karena belajar. Dan lagi, dulu itu tugas-tugas sekolah seabrek. Aku bahkan heran melihat masa sekolah di zamanku dengan di zaman sekarang yang notabene para siswanya lebih doyan main ketimbang belajar. Sempat berpikir, "kok sekarang anak-anak sekolah uda mulai menurun minat belajarnya?".

    Tapi lagi-lagi, aku tidak bisa menyamakan semuanya seperti pikiranku itu. Bisa jadi, ada banyak anak-anak sekolah di luar sana yang belajar mati-matian dan merelakan waktu bermainnya demi sekadar membuka buku, barang satu atau dua halaman per hari. Aku termasuk yang demikian, sedari dulu tidak pernah punya jam bermain spesifik. Almarhum Bapakku bilang, "bermain itu bisa kapan saja, sampai tutup usia juga bisa bermain, tapi apa manfaatnya? nggak ada. Jadi mending belajar saja, itu bisa mengantarkan kita dengan hal-hal tidak terduga lainnya, dan bisa jadi amal jariyah kalau sudah tiada."

    Aku mengamini kata-kata Bapak sampai sekarang. Karena itu jugalah, aku masih sering kurang tidur. Padahal saat ini aku sudah bekerja dengan jam kerja teratur. Masuk kerja jam sembilan pagi dan pulang jam lima sore. Energi terkuras selama delapan jam bekerja dan malamnya ditambah dengan kegiatan amburadul versiku sendiri. Entah apa namanya itu, hobi atau memang kurang kerjaan, sepertinya beda tipis.

    Seperti malam ini pula, aku menulis 'apa namanya ini' hanya untuk sekadar menghibur diri. Padahal pekerjaanku pun setiap harinya menulis. Selalu menulis. Memangnya kerja menulis selama delapan jam di kantor itu kurang banyak? Wah, bukan kurang banyak sih, tapi lebih tepatnya cukup banyak hehe. Tapi semuanya harus disyukuri, toh sadar atau tidak, kita ini hidup memang lebih banyak mengeluh ketimbang bersyukur.

    Belakangan ini pun aku kurang tidur dan tentu berpengaruh pada fokus pekerjaan di kantor. Sempat merasa mengantuk ketika memasuki 'waktu kritis' selesai makan siang dan salat Dzuhur. Enaknya tidur, tapi enggak bisa karena kudu kerja! Pokoknya kerja terus sampai kandas, semuanya dilakukan demi kerja, hidup kerja! (sindiran).

    Di awal-awal bekerja, aku termasuk hidup teratur. Selesai salat Isya, pasti langsung tidur dan bangun Subuh keesokan harinya (tapi kadang bangunnya bisa lebih cepat). Anjuran tidur delapan jam sehari untuk orang dewasa pun mulai aku terapkan. Tapi nampaknya akhir-akhir ini ada saja pekerjaan tambahan di malam hari yang membuatku terpaksa mengurungkan niat untuk tidur awal. Entah sampai kapan kebiasaan buruk ini bisa diredam, tapi semoga saja ada jalan keluarnya. Ya, setidaknya hidup bisa lebih tenang, teratur, dan sehat.
    Continue Reading
    "Are you okay?", semakin bertambah usiamu, maka semakin sedikit pula kamu mendengar pertanyaan ini dari orang-orang di sekitarmu. Sekali pun pada mereka yang mungkin selama ini kamu anggap yang terdekat dan paling mengerti.

    "Are you okay?", diksi yang sering diabaikan, padahal maknanya sama seperti kamu mengobati lukamu sendiri. Teduh sekali rasanya ketika ada yang menanyakan apakah kamu baik-baik saja atau tidak, sekali pun dia hanya sekadar ingin tahu saja dan tidak berniat memberimu 'payung' supaya kamu tidak kehujanan.

    "Are you okay?", kapan terakhir kali kamu tanyakan ini pada dirimu sendiri atau pada mereka yang kamu sayangi-menyayangimu? Pasti kamu sendiri hampir lupa, bukan? Padahal kamu mengaku perjalananmu sudah panjang sekali, tapi menanyakan kabar orang sekitarmu saja kamu sering abai. Atau bahkan, kamu sendiri tidak tahu harusnya pertanyaan ini ditujukan kepada orang lain atau dirimu sendiri? Pasalnya, kamu pun menunggu pula orang bertanya hal itu padamu.

    Sebab "Are you okay?" menjadi alasan mengapa aku tidak suka dengan orang 'dingin', tapi tidak berarti pula aku senang bergaul dengan mereka yang suka mengumbar tawa. Yang sedang-sedang sajalah. Ketika berbicara, obrolan saling bersahutan. Ketika diajak bercanda, tertawa dicukupkan. Sama seperti berdoa, yang sering dikatakan orang "berdoa selesai", padahal berdoa tidak pernah selesai, melainkan hanya "dicukupkan".

    "Are You okay?", teguran untuk diri sendiri. Mungkin karena aku jarang bertanya demikian pada orang sekitar, itu pula jadi alasan aku jarang ditanya demikian. Oh, atau mungkin pernah kudapatkan, hanya saja aku ingkar membalasnya. Manusia, suka ingkar pada kata-kata dan prinsipnya sendiri, seringkali.

    Mulai besok, bisakah kamu berjanji? Berjanji untuk lebih peka pada orang-orang di sekitarmu? Bukan untuk menuai pujian, hanya sebagai pengingat bahwa nalurimu sebagai manusia masih ada. Bertanyalah, toh bertanya tidak pernah dilarang, bukan? Lapor padaku jika ada yang demikian, biar kita doakan bersama.

    Mulai besok, bantu ingatkan aku jika ternyata ada sesuatu yang lupa kutanya kabarnya. "Are you okay?," bahkan tidak menguras waktu-tenaga-pikiran. "Are you okay?", bahkan hanya meminjam 2-3 detik saja dari waktumu, sisanya terserah padamu.

    Tapi, ada satu hal yang harus kamu ingat. Jika nanti seandainya kamu sedang membutuhkan "Are you okay?" dari orang-orang di sekitarmu dan kamu tidak mendapatkannya saat itu juga, maka katakan "Are you okay?" pada siapa saja di sekitarmu saat itu. Dengan begitu, kamu sudah menabung kata-kata itu untuk waktu mendatang, mungkin ketika kamu sedang sakit parah, dirundung masalah, atau salah satu orang terkasihmu pergi lebih dulu.
    Continue Reading


    Sejak Ibu dikabarkan sakit pada Februari 2019, aku menjadi orang yang sensitif dengan kata ‘Ibu’. Meski demikian, aku berusaha menjadi orang yang periang, seperti orang-orang menilai di perkenalan pertama. Di sini, aku belajar cara melakoni peran ketika menjadi orang dewasa, anak remaja, kakak, adik, atau bahkan bisa jadi saingan bagi orang lain. Bukankah hidup ini panggung sandiwara di mana setiap orang diberi peran masing-masing?

    Bicara soal Ibu, kalau boleh dibilang, aku dan Ibu menjadi lebih dekat semenjak Bapak meninggal. Karena aku anak satu-satunya dan perempuan pula, maka aku mawas diri bahwa sepeninggal Bapak, hidupku bergantung pada diriku sendiri. Kendati begitu, aku tetap manusia biasa yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Namun kuharap dan berdoa, selagi diriku mampu, semoga aku tidak jadi orang yang merepotkan orang lain, barang sekecil apapun itu.

    Judul tulisan ini ada kaitannya dengan perkataan Ibu. Lebih tepatnya, itu memang perkataan Ibu. Ya, Ibu minta maaf berkali-kali padaku, bahkan sampai detik ini jika pembahasan itu tak sengaja jadi bahan obrolan kami berdua. Ibu minta maaf, sebab dia merasa bersalah lantaran aku memutuskan pulang dari tanah perantauan, demi merawat Ibu di kampung halaman.

    Pikirku, untuk apa dapat pekerjaan hebat di kota orang, tapi Ibu sendiri aku harus berpikir dua kali. Maka kuputuskan pulang, setidaknya sampai kondisi Ibu cukup membaik, kalaupun nanti aku ingin melanjutkan perantauan lagi.

    Memang, keinginan untuk merantau lagi sangatlah besar. Tujuanku tidak muluk-muluk, aku hanya ingin sekolah lagi. Itu saja. Setelah sekolah selesai, aku berniat ingin pulang ke kampung halaman lagi dan mencari pekerjaan layak di sini. Tapi ternyata, Allah berkata lain, dan memintaku menjeda cita-cita itu. Ada tugas lebih penting daripada itu.

    Sejak itulah, Ibu merasa punya salah besar pada anaknya. Sudah kubilang, tidak apa-apa. Tapi ternyata itu jadi pikiran Ibu berhari-hari, sampai hari ini. “Maaf ya, Nak, cita-citamu untuk lanjut sekolah belum tercapai,” kata Ibu.

    Kondisi Ibu sekarang sudah cukup membaik, Alhamdulillah. Hanya, tanpa Ibu sadari atau tidak, sejak kejadian Ibu operasi saat aku masih di perantauan, itu jadi pukulan telak buat anaknya. Aku jadi lebih tertutup pada siapapun, meski kalau orang-orang melihat sepertinya biasa saja. Tapi bukankah kesedihan memang sebaiknya tidak perlu diumbar-umbar toh? Sedih dan bahagia itu tidak jauh berbeda, bahkan hampir mirip. Datangnya suka tiba-tiba, terkadang tanpa harus ada alasan, dan tidak baik kalau diumbar ke banyak orang.

    Beberapa tulisan terakhir di blog memang isinya tidak jauh-jauh dari ini, sedikit banyaknya hampir mengarah kepada hal yang sama. Semua tentang ‘kapal berlayar’, terkena ombak pasang-surut, berpegangan pada poros kompas, dan melaju dengan berani. Hebat betul ‘kapal’ itu kalau seandainya bisa berlabuh dengan selamat, tidak hancur. Aku mau seperti itu!

    Kalau boleh aku bercerita, setiap Minggu aku punya satu kebiasaan yang tidak pernah kuceritakan pada Ibu sejak kepulanganku dari perantauan. Setiap Minggu pagi, aku sempatkan bertandang ke ‘rumah’ Bapak. Letaknya paling sudut sebelah kanan, tepat di bawah pohon rimbun. Rumah Bapak teduh betul, andai kau tahu. Dindingnya semua terlapis warna putih, sesuai permintaan Bapak. Tanpa bunga dan air, aku datang saja sekadar mampir. Di balik nisan yang tersemat namanya itu, aku berbisik, “Pak, bagaimana satu pekanmu? Aku baik-baik saja. Pekerjaanku pun baik-baik saja. Semoga pekanmu juga begitu baik ya, Pak.”

    Di ujung nisannya, aku berjongkok dengan menadahkan kedua tangan. Beberapa hafalan yang mulai kudapat dari Ummi (guru mengajiku setiap Minggu), kulafalkan untuk keteduhan Bapak di rumahnya. Bapak dengar, Bapak rasa. Sebelum ku tutup doaku, pesan yang selalu ku sematkan, “Allah Satu Yang Maha Tahu, aku ingin sekolah lagi, mewujudkan cita-cita Bapak yang satu itu. Supaya Ibu tidak merasa bersalah lagi pada anaknya. Tolong, bantu dan bimbing aku untuk melangkah lagi.”

    Setiap kali pulang dari persinggahan itu, aku merasa lega. Mungkin, rasa bersalah Ibu akan sulit terobati, sampai akhirnya nanti aku benar-benar bisa sekolah lagi. Semoga Allah jabah doa Ibu.

    Satu lagi, belum lama ini Ibu berpesan banyak untukku yang sudah semakin dewasa. Kata Ibu, “Sekiranya ada yang berniat baik padamu, izinkan dia datang ke rumah ya, Ibu mau lihat dulu. Jangan tutup hatimu, jangan pikirkan juga kesendirian Ibu. Cukup cita-cita sekolahmu yang tertunda, tapi urusan hatimu jangan. Itu manusiawi, anak Ibu juga butuh teman bertukar pikiran, kan? Masa mau terus-terusan cerita sama ibu-ibu begini sih.”

    Ibuku, begitulah wataknya. Berbeda sangat jauh daripada anaknya. Aku lebih tertutup, sementara Ibu sangat terbuka. Aku mampu menahan tangis, tapi Ibu tak bisa bendung air matanya. Aku suka hal-hal unik dan menantang, Ibu justru suka hal-hal pasti dan kerap menghindari bahaya. Aku punya segudang pertanyaan, sementara Ibu memilih zona nyaman.

    Untuk Ibu, aku sudah tidak apa-apa. Jangan lagi meminta maaf, sebab bukan salahmu juga. Aku diminta belajar lagi, kurasa Dia sedang memberiku soal-soal ujian lanjutan, tapi belum tahu kapan soal itu akan dibagikan. Kuharap, aku bisa menjawab setiap soal, sekalipun itu yang tersulit. Sekarang ini, sedang kucari kisi-kisi untuk menjawab soal itu. Aku mulai tahu caranya, sedikit  lagi hampir sampai. Doakan aku, itu saja sudah lebih dari cukup.

    Ibu, sehat-sehatlah selalu. Jangan khawatir, anakmu akan segera sekolah lagi dalam waktu dekat. Percaya. Bukankah Dia selalu jadi yang utama? Bukankah Dia selalu punya kejutan?
    Continue Reading

    Setiap detik seseorang bisa menjadi orang yang baru. Setiap detik seseorang bisa menjadi mesin waktu.

    Boleh dibilang, ini murni 'random thought' versi anak usia 22 tahun. Iseng saja sebenarnya dan nggak ada isi yang terlalu serius, menurut saya. Satu paket sudut pandang, seperti  tertulis di judul tulisan ini, berawal dari pikiran liar yang setiap malam selalu bertambah. Bingung juga mau mulainya dari mana.

    Belakangan ini, saya -mungkin bukan cuma saya- merasa seperti seorang pemain sepak bola tanpa 'supporter'. Entah karena saya yang tidak peka atau bagaimana, yang jelas saya semakin sulit terbuka pada orang-orang baru. Terkesan eksklusif ya? Iya, mungkin seperti itu.

    "Semestaku semakin mengecil," kata-kata ini kerap berputar di kepala. Sungguh, pernah ada rasa takut setiap kali kalimat itu terlintas. Tapi nampaknya, itu memang tidak bisa dipungkiri. Beberapa kali saya merasa hidup saya benar-benar hidup. Hidung saya lega setiap kali menghirup nikmat udara. Meski berjalan sendiri, saya tidak masalah. Meski tidak ada pendukung yang bersorak-sorai, toh saya baik-baik saja.

    Ada satu titik ketika saya merasa seperti tali layang-layang. Tarik ulur dengan realita dan masa lalu. Beruntungnya, belum lama ini saya telah menuntaskan 'utang' di masa lalu. Utang itu adalah cerita lampau yang sering membuat emosi saya naik-turun. Saya tidak punya tempat untuk menuangkan itu. Sekalipun ada, saya memilih tidak membagikannya secara cuma-cuma karena yang tahu caranya cuma saya sendiri. Jadi, untuk apa berbagi?

    Hal-hal tidak terduga selalu hadir di depan saya tanpa ketuk pintu terlebih dahulu. Ia masuk begitu saja, nyelonong dan duduk sesuka hati di mana saja yang ia mau. Sebuah kesialan karena saya seringkali tidak punya persiapan. Kaget pasti. Tapi setelah berhasil melaluinya, saya diberi kebebasan memetik 'buah' mana yang saya mau dan dibawa 'pulang' untuk bekal.

    Saya sulit terbuka, padahal dulu saya dikenal sangat cerewet. Saya pikir, "ah, sudahlah, mending aku tidur saja." Benar, hari-hari saya dipenuhi penat. Untuk protes pada ketidakadilan yang sering saya lihat di jalanan pun sulit saya komentari. Paling-paling, saya cuma ngomel sendiri di buku catatan, hanya supaya hati saya baik-baik saja.

    Tidak bisa sesuka hati. Meskipun takdir sering datang sesuka hati, tapi saya tidak bisa sesuka hati itu pula. Lagi-lagi, ada yang tidak adil di sini. Tapi nggak apa-apa, justru dari sini saya belajar menjadi orang asing setiap hari. Saya seperti buah, perlu dikupas kulitnya dengan rapi untuk tahu rasa buahnya manis atau tidak. Saya perlu dikupas habis oleh si takdir itu, supaya ke depannya saya tahu rasa manis dan pahit. Supaya saya tidak merasa cuma hidup saya yang keras. Semua orang tengah berjuang, kau harus tahu itu.

    Semua rencana dirombak habis. Habis-habisan. Inilah patah hati kedua yang saya punya setelah patah hati pertama kehilangan Bapak. Kau tahu, rasanya tak terbilang. Setengah mati saya kecewa pada takdir. Sungguh, saya berani bersumpah. Tapi sejak itu, saya tahu bagaimana mengobati luka saya sendiri, kemudian berdiri lagi, dan berlari dengan jujur dimulai dari garis awal. Sejak itu, saya tahu bagaimana tumbuh menjadi dewasa. Meski ini tak pernah saya minta, tapi beginilah cara Tuhan menjawab doa-doa saya. Jalannya terjal sekali, Kawan, dan sekali lagi kau harus tahu itu.

    Tak pernah terpikir untuk membuat orang lain kagum. Ini receh. Suatu hari -belum lama ini-, saya tulis dalam buku catatan, "mengapa banyak sekali orang yang memuji, tapi sedikit sekali orang yang menawarkanmu pedang?". Artinya, orang-orang yang memberi pujian itu saya anggap hanya lalu. Sebaliknya, orang yang menawarkan saya pedang adalah sahabat karib. Saya berteman padanya, sekalipun dia tidak pernah meminta untuk menjadi teman saya.

    Jujur pada diri sendiri itu seperti harta karun. Penemuan baru saya ini sangat mengobati luka. Saya pikir, masih sedikit orang yang punya ini karena kebanyakan orang mulai hidup untuk menuruti tingginya permintaan orang lain padanya. Orang-orang berbondong membuat dirinya seperti cermin untuk orang lain. Semua ramai minta dilihat, diperhatikan, diselamatkan, diabadikan, hingga disanjung. Padahal, hakikat hidup sebagai makhluk sosial tidak seperti itu? Iya, kan? Coba koreksi jika saya salah.

    Bahagia saya sederhana. Bahagia saya adalah Ibu. Bahagia saya adalah adik-adik. Bahagia saya adalah berjalan sendiri, menikmati udara segar, tertawa tanpa ragu, dan bersyukur setiap hari. Bahagia saya adalah setiap kali bercerita pada-Nya selagi mampu, tentang apapun. Bahagia saya adalah memandang apa saja yang membuat orang lain bahagia. Bahagia saya adalah mendoakan kebahagiaan orang lain, karena itu sudah cukup.
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Searching

    • ABOUT ME

    Media Sosial

    • Tumblr
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram

    HUBUNGI SAYA DENGAN EMAIL

    Nama

    Email *

    Pesan *

    Pengunjung

    Pict of Me

    Pict of Me

    Catatan Berkarya



    Recent Post

    • Esai Seleksi Beasiswa Karya Salemba Empat
    • Esai Diri (Program Friendship From Indonesia 2017, China - Malaysia)

    Arsip Blog

    • ▼  2022 (1)
      • ▼  Januari (1)
        • Welcome 'Twenty Five', I Am Fine!
    • ►  2021 (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juni (1)
    • ►  2019 (8)
      • ►  Desember (2)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (2)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2017 (21)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (3)
      • ►  Maret (1)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2015 (3)
      • ►  Agustus (3)

    Label

    • Blog Competition
    • Cerita Rizka
    • Diurna Rizka
    • Esai
    • Pendidikan
    • Petualangan
    • Rizka Gusti Anggraini Sitanggang
    • Tulisan
    • Writing Competition
    Instagram LinkedIn

    Created with MRIL BeautyTemplatesDistributed By Rizka Sitanggang

    Back to top