• Home
    • Akademik
    • Diurna Rizka
    • Tulisan
    • _Writing Competition
    • _Blog Competition
    • _Writing Project
    • Petualangan



    Penulis : Rizka Gusti Anggraini Sitanggang

    Simpanlah sebagian dari hartamu untuk kebaikan masa depan kamu,
    karena itu jauh lebih baik bagimu.
    (HR. Bukhari)

                Sebuah pembuka dari kalimat di atas telah menggambarkan bahwa satu kebaikan sederhana yang bisa kita lakukan hari ini adalah menyimpan sebagian dari harta kita. Kalau sekarang ini, kita lebih sering menyebutnya dengan kata “menabung”. Defenisi menabung secara umum adalah menyimpan uang atau menyisihkan sebagian dari apa yang kita peroleh. Bicara soal simpan-menyimpan, tak jarang berujung pada rasa ‘was-was’ soal keamanan uang kita. Ya tentu saja siapa yang tidak takut kalau uang yang sudah dikumpulkan dengan penuh kesabaran, nyatanya harus lenyap begitu saja.
    Cerita soal menabung, saya punya pengalaman yang telah mengajarkan betapa nikmatnya mengaplikasikan sebuah slogan lama “hemat pangkal kaya” dan “tidak apa sedikit, toh lama-lama akan menjadi bukit”. Dimulai dari masa kecil saya. Kebanyakan orang tua akan mulai mengajarkan anak-anaknya bagaimana cara menabung. Tentu, demikian juga dengan Mama dan Papa saya. Terhitung di usia 4 tahun saat pertama kali saya masuk Taman Kanak-Kanak (TK), setiap harinya saya selalu diberikan uang saku nominal seribu rupiah. Pada saat itu, jumlah segitu sudah cukup untuk membeli 4 buah gorengan di kantin sekolah. Siapa anak yang tidak akan senang jajan setiap hari, begitu pun terjadi dengan saya. Melihat kebiasaan boros saya yang suka menghabiskan uang saku untuk beli jajanan, Papa mulai memberikan teguran. Tidak sekadar menegur, melainkan menasihati saya.
    “Papa sama Mama kan setiap hari kasih kamu uang jajan. Iya, memang itu boleh dipakai untuk beli jajan. Tapi kalau uangnya cuma dipakai buat jajan saja, kan sayang tuh. Mending kamu jajan secukupnya, terus sisa uangnya ditabung. Kalau nabungnya rajin, nanti kamu bisa punya uang sendiri. Kalau-kalau kamu mau beli sesuatu yang kamu suka, bisa pakai uang sendiri kan. Gimana?”, nasihat Papa diakhiri dengan sebuah pertanyaan yang lebih tepatnya tantangan kepada anaknya sendiri.
                Saya pribadi senang dengan tantangan. Maka, malam itu juga seusai Papa memberi nasihat, saya berbisik padanya, “Pa, besok saya kalau jajan cuma habis gopek saja deh. Setengahnya lagi saya tabung. Tapi besok pulang sekolah, belikan celengan ya, Pa”. Tanpa berpikir panjang, Papa tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Menunggu hari esok rasanya sedikit panjang.

     
                Cerita di atas itu awal mula saya memberanikan diri untuk menjadi ‘berbeda’ dari teman-teman sekolahan yang masih terbiasa dengan jajan banyak. Bulan ke bulan, celengan plastik kecil berbentuk tabung pemberian Papa, mulai berisi dan bunyinya padat. “Asik, uangnya uda banyak nih!”, pekikku dalam hati. Hingga akhirnya, di penghujung masa TK itu –tepat satu tahun-, aku berkeinginan membeli tas sekolah model koper yang lagi tren kala itu. Namun, dengan syarat bahwa tas itu dibeli menggunakan uang sendiri. Mendengar niatan itu, Papa dan Mama sangat senang. “Papa bangga sama kamu. Sudah pandai menabung”, kata Papa.
                Hal kecil yang tak kalah membuat saya semakin bersemangat menabung setelah itu adalah apresiasi dari kedua orang tua dan tentu diri sendiri. Ya, saya mengapresiasi apa yang telah saya putuskan. Meski niat awalnya adalah menjawab tantangan Papa, tapi justru itu menjadi sebuah kebiasaan baik. Satu pelajaran yang saya ambil, bahwa menabung itu akan menyenangkan bila dibiasakan.
                Pun tak hanya menyenangkan, tentu manfaat menabung sejak kecil juga telah saya rasakan. Menabung, membuat saya belajar berhemat dan bertanggung jawab dalam memegang uang hingga mengelola keuangan secara pribadi. Secara tak langsung, saya paham memberikan skala prioritas untuk pemakaian uang. Saya bisa menentukan sendiri seberapa besar dari uang yang diterima akan disisihkan untuk ditabung dan seberapa besar yang akan dibelanjakan. Kemudian, saya jadi memiliki perencanaan keuangan terkait akan digunakan untuk apa hasil tabungannya setelah terkumpul banyak.
                Menghargai uang. Setelah merasakan keseruan menabung sedari dini, saya menyadari bahwa untuk mengumpulkan uang diperlukan pengorbanan dan waktu yang cukup lama. Belajar menabung juga membantu saya belajar disiplin, karena untuk dapat menabung dengan konsisten diperlukan kedisplinan menyisihkan uang secara teratur. Terakhir, menabung membuat saya bangga karena di usia belia saya sudah bisa membeli sesuatu yang saya inginkan menggunakan uang hasil tabungan sendiri. Hal sederhana yang bisa saya lakukan sebagai bentuk pengabdian diri kepada orang tua.
                Beranjak hingga jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), menabung terus menjadi kebiasaan yang tidak pernah saya lewatkan. Hingga akhirnya saat kelas 2 SMP, suatu hari sekolah saya begitu ramai. Biasanya kalau ramai seperti itu tandanya akan ada acara. Ternyata dugaan saya meleset sedikit. Bukanlah sebuah acara besar melainkan semacam sosialisasi. “Wih ada Bank Sumut datang!”, teriak salah satu teman saya.
    Mendengar kata “bank”, saya langsung menyergap ke arah pintu kelas dan melihat kebenarannya. Saya berdecak kagum. Jujur saja, meskipun saya sudah kelas 2 SMP, tapi saya hanya beberapa kali berkesempatan menemani Mama ke bank. Tapi biasanya saya hanya menunggu di parkiran motor karena Mama mengatakan bahwa keperluannya hanya sebentar.
                Pegawai bank dengan seragam khasnya mulai memasuki kelas per kelas untuk memaparkan tujuan kedatangan mereka. Begitu rapi dan runtun penjabarannya sehingga saya tidak ada alasan untuk tidak benar-benar fokus mendengarkan. Mulai dari penjelasan tentang pengertian bank, sistem kerja bank, pengertian nasabah, hingga keuntungan yang diperoleh jika menjadi nasabah di bank tersebut. Menariknya, mereka menyebutkan sebuah program bernama “TabunganKu”, yang memang diperuntukkan untuk pelajar SMP.
    TabunganKu merupakan tabungan untuk perorangan dengan persyaratan mudah dan ringan yang diterbitkan secara bersama oleh bank-bank di Indonesia guna menumbuhkan budaya menabung serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
    Di akhir sosialisasi, seorang pegawai menuturkan, “Bagi adik-adik yang mau langsung mendaftar untuk menjadi nasabah, saat jam istirahat bisa langsung datang ke stand Bank Sumut ya di ujung lobi”.
                Saat jam istirahat, saya ditemani seorang teman langsung menyambangi meja stand Bank Sumut. “Permisi, Bu. Saya mau mendaftar jadi nasabah”, kata saya. Dengan cepat, beliau mengambil sebuah formulir pendaftaran nasabah dan saya mulai mengisi kolom data satu per satu. “Nah, untuk program TabunganKu ini, harus ada tanda tangan orang tua kamu ya. Berkas lainnya seperti fotokopi Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk orang tua kamu juga harap dilengkapi. Jadi, formulir ini kamu bawa pulang dulu dan besok bisa kasih lagi karena stand kita akan buka selama tiga hari disini”, pinta beliau kemudian.
                Malamnya, saya mengutarakan hal yang saya lakukan siang tadi kepada Papa dan Mama. Respon positif dari mereka sesuai dengan ekspektasi saya. Mereka setuju, menandatangani isi formulir dan memberikan saya uang Rp 100.000 sebagai dana awal. Sebenarnya, untuk membuka rekening TabunganKu tidak harus nominal sebesar itu. Hanya dengan setoran awal sebesar Rp 20.000, kita telah memiliki rekening TabunganKu. Untuk setoran selanjutnya minimal Rp 10.000 dan layanan tersedia di seluruh kantor Bank Sumut konvensional.
                Esoknya, saya menyerahkan berkas-berkas yang diminta dan setoran awal ke meja stand Bank Sumut. Saya tiba-tiba tertegun kagum karena tidak lama kemudian, pegawai bank tersebut memberikan sebuah buku tipis berbentuk persegi panjang dengan motif bunga-bunga kuning emas dan di sudut kiri bertuliskan “TabunganKu”.
                “Ini buku tabungan kamu ya. Sudah ada uangnya di dalam sebesar seratus ribu rupiah. Tidak ada uang administrasi bulanan. Jadi, kamu enggak perlu takut kalau misalnya kamu tidak menabung dalam satu bulan. Tidak ada pemotongan dana administrasi apapun juga. Kamu seperti menabung sendiri. Bedanya, ini dipegang oleh Bank Sumut. Nama rekening kamu ‘Agusman Sitanggang QQ Rizka Gusti Anggraini’ ya. Kalau mau ambil uang, harus bersama orang tua kamu. Tapi kalau mau menabung, kamu sendiri saja bisa”, papar beliau.
                Meskipun tanpa kartu ATM karena ini memang program khusus anak-anak di bawah 17 tahun dan pelajar seusia saya, tentu itu bukanlah masalah. Saya semakin tertarik ketika pegawai bank tersebut memaparkan bahwa tabungan ini akan dipegang oleh Bank Sumut. Itu tandanya, keamanan isi tabungan dan segala macamnya tidak perlu dirisaukan.
    Selain itu, dengan bunga simpanan yang menarik, justru lebih menguntungkan dibandingkan dengan menyimpan uang di rumah. Ah, saya semakin bersemangat untuk menabung. Jadi, setiap bulan saya tidak pernah absen menabung walau hanya seratus ribu rupiah. Mama saya selalu menjadi teman ketika menyetor uang.
    Orang tua saya tidak perlu khawatir karena segala hal yang berkaitan dengan data diri di bank adalah dibawah persetujuan mereka. Program rekening TabunganKu bisa digunakan sampai kapanpun nasabah menginginkannya. Jika kemudian hari, si nasabah ingin mengganti menjadi rekening umum dengan menggunakan ATM, tentu sangat bisa. Uang nasabah di rekening TabunganKu tidak akan terpotong selain untuk uang adminitrasi pergantian buku dan pindah rekening. Keuntungan yang tidak perlu dipikirkan dua kali. Apalagi rekening TabunganKu bisa dikatakan rekening pelajar. Jadi, buat orang tua yang ingin mengajarkan anak-anaknya menabung di bank, segeralah ke Bank Sumut terdekat dan daftarkan si anak di program rekening TabunganKu.
    Keunikan di setiap pengalaman menabung tentu menjadi keseruan tersendiri, terutama buat saya. Sejauh ini, menabung di Bank Sumut tidak pernah membuat saya menyesal. Selain pernah memiliki rekening TabunganKu, saya juga membuka rekening umum yang bernama Martabe. Jadi, pengalaman menabung saya semakin mengasyikkan dengan dua rekening. TabunganKu untuk tabungan tanpa takut biaya bulanan, sedangkan Martabe untuk tabungan dengan menggunakan ATM jadi saya bisa tarik uang kapanpun saya butuh.


    Mengutip dari kata bijak seorang B.J. Habibie bahwa salah satu kunci kebahagiaan adalah gunakan uangmu untuk pengalaman, bukan gunakan uangmu untuk keinginan. Nah, buat kamu yang belum menabung sama sekali, jangan tunggu besok-besok. Karena ketika masa muda kita lewati dengan berupaya, masa tua kita akan kaya raya. Muda menabung, tua beruntung.
    Cerita ini didukung oleh Bank Sumut #ayokebanksumut, #banknyaorangsumut!
    Continue Reading



    Kita sepakat untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bukan lantaran habis pahit sepah diperas. Melainkan karena sebuah kecelakaan nurani antara diri sendiri dengan visi misi menjadi manusia. Hingga sampai di tahap aktualisasi diri, tidak sedikit yang harus kita korbankan. Banyak diam, banyak melihat, banyak mendengar, sedikit bicara, sedikit protes, sedikit mengeluh. Tambahkan lagi sering menggunakan kata tanya “bagaimana” untuk sebuah solusi ketimbang “mengapa” untuk menggunduli pikiran dengan sejuta akar-akar yang sebagiannya tidak perlu kita ikut campur tangani. Sungguh, menyelesaikan tulisan ini saja aku harus mengontrol emosi. Tidak bisa aku pungkiri bahwa otakku punya sejuta rasa yang ingin aku sampaikan. Hanya untuk sekadar melunasi tanggung jawab moral sebagai seorang yang berprasangka, berperangai, dan berperasaan. Tak khayal aku juga sering mendengkur dalam diam-diam membaca (saat momen yang kusebut me time menjadi keranjingan untuk stimulasi diri). Ini semakin tercermin dari hari ini, dimana aku dengan dua orang teman melakukan pertemuan bak orang penting, padahal cuma mau menyelesaikan tugas kuliah.

    Tidak tahu mengapa pada akhirnya perbincangan yang diawali tentang “mengapa konsumen atau pelanggan didasari oleh anak-anak muda yang girang melihat tempat nongkrong bak surga internet itu?”, hingga menjalar kepada kekurangan-kelebihan atas perangai di perjalanan akademik kami. Cepat aku tertegun.

    “Kami dulu benci lihat kau. Karena kau dulu sombong.”

    Dadaku panas, mataku perih, batinku teriris, nuraniku kecewa. Sepanjang perjalanan hidup, boleh jadi ini kali pertama pernyataan ini begitu mengenaskan karakterku. Aku merasa bersalah dan gagal telah menjadi pemimpin untuk diri sendiri. Ketika hampir sebagian hal terasa semakin baik dan baik-baik saja, justru ada macam orang-orang yang gigih memperhatikan karakter ini. Allah, aku ingin sekali menangis sore tadi.

    “Apa alasan kalian menganggap aku memiliki perangai sombong?”

    Pertanyaan itu aku utarakan kali ini. Dengan lugas juga pernyataan kemudiannya membuatku ingin menceletukkan diri. “Hanya karena kau dulu terlihat begitu sibuk. Seolah-olah kesibukanmu itu menandakan bahwa kau orang yang begitu sangat penting atau mungkin sangat pintar”. Aku memutar ingatan sedikit dan baru menyadari bahwa saat masa-masa aku pernah menjadi klien dalam sebuah tugas panjang beberapa mantan senior kampusku. Itu memakan waktu 4 bulanan yang seolah-olah menyulapku bak artis sedang naik daun. Kalaulah boleh pada kesempatan ini aku berkata sejujur-jujurnya, sungguh aku tidak menginginkan hal itu dinikmati orang-orang. Untuk apa ? Supaya aku terlihat lebih eksis ? Bahkan untuk memimpikan namaku disebut-sebut di berbagai media cetak, siar, dan  online, tidak pernah terlintas dalam bunga tidurku. Apalagi harus menjadikan itu sebagai sebuah keharusan yang mengikat nama baik dalam sebuah riwayat hidup atau CV untuk melamar pekerjaan. Menjadi orang tenar ? Jangan salah kaprah, Kawan. Itu tidak pernah terlintas.

    Lalu, bulan-bulanan itu aku telan pahit-manis-asam-asin, lantaran sudah mengiyakan kerjasama dengan mantan senior kampusku itu. Niatnya adalah hanya untuk sekadar membantu tugas mata kuliah mereka. Tidak ada yang patut disesalkan. Dengan begitu juga, aku patut mengucapkan terima kasih karena telah menghadirkan pengalaman dan membuatku memperbaiki perangai ini hari demi hari. Tidak ada juga cara yang salah, selagi itu mampu membuat orang lain tidak menjadi “pengulangan”-nya. Hidup ini tidak elegan bila hanya disusun seperti cerita telenovela. Berkesinambungan hingga si pemeran utama mengalami masa-masa kritis. Kemudian di akhir ceritanya ada dua plot. Kalau bukan si pemeran utamanya meninggal akibat kondisi kritisnya, atau malah hidup bahagia sebab penyelamat hidupnya hadir di detik-detik akhir dan merubah segalanya. Seperti Cinderella, happily before after. Itu bacaan zaman kanak-kanakku.

    Hingga pada detik ini-menulis tulisan ini,  aku masih terngiang dengan kata-kata teman sore tadi. Itu seperti pahaku yang terkena knalpot panas sepeda motor Ayahku dulu saat kecil. Perih dan mengoyak. Namun, aku tidak menyalahkan pandangan siapapun termasuk seorang teman sore tadi. Dia bahkan siapapun yang pernah menjadi bagian hidupku, pantas memberi komentar apapun. Kita punya 5 panca indera. Utamanya adalah kita diminta untuk menggunakan kepekaan pada setiap indera-indera itu. Peka.

    Tidak ingin aku melirihkan diri hanya untuk membuatku tidak “membenarkan” kritik dan sarannya. Boleh jadi, itu memang benar-benar ada pada diriku dan aku tidak menyadarinya. Banyak macam cara Allah menghadirkan tegur-sapa untuk sesama umat. Bilamana kita anggap baik, maka baiklah ia. Jika sebaliknya, maka itulah yang akan terjadi pada kita. Berpikirlah sebaik-baik kita mengharapkan niat baik kita berjalan sesuai skenario yang kita inginkan. Ikhtiar dan kemudian serahkan hasil perjuangan kita hanya pada-Nya. Jika pun di tengah jalan ternyata ada batu dan tak sengaja kau tersandung, lantas perih, maka kusarankan janganlah sampai menggerutu. Pindahkan batu itu ke sisi yang lebih aman agar kemudian jika ternyata ada orang lain yang menggunakan jalan setapakmu itu di hari lainnya, ia tidak akan mengalami hal serupa. Setidaknya, kita berupaya memperbaiki diri dan membantu orang lain untuk menjadi baik bersama kita, tanpa harus membuatnya mengalami “pahit dahulu kemudian berubah”.

    Tulisan ini aku hadiahkan sebagai ucapan terima kasih bagi orang-orang yang senantiasa mengingatkan. Tidak ada saudara yang lebih baik daripada kerabat yang tidak lupa menegur untuk menjadikan diri ini tidak “melupa” atau melulu lupa. Tanpa aku sadar atau tidak, mungkin kata-kata dan tulisan-tulisanku seperti menggurui teman-teman atau bahkan senior-senior kampusku. Sematanya, Allah Maha Tahu ketimbang hamba-Nya. Maka, aku lirih menghaturkan permohonan maaf pada kesempatan kali ini. Lillahi Rabbi, semoga niat dan pencapaian kita untuk menjadi “benar-benar” manusia,  semakin dikuatkan. Ini kedepan, jika aku melakukan kesalahan atau apapun yang menyinggung hatimu Kawan, tolong ingatkan dengan versi terbaikmu. Bila pun versi menegurmu sampai menyikut lubuk hatiku, Insya Allah aku akan terus belajar ikhlas dan berpikir terbuka.

    Untuk masa-masa awal pengenalan ada yang ragu atau malah sempat berpikir bahwa aku ini sombong atau apalah itu, semoga ada cara lain untuk kita saling duduk dan berbincang bersama. Supaya kita tahu bahwa duduk lebih dari 1 jam dengan orang baru (lawan bicara), akan membantu kita mengurangi persepsi buruk dan menabung persepsi baru (Insya Allah itu baik) terhadapnya. Kita sama-sama memantau satu sama lain. Jangan biarkan persepsi kita mengerubungi corong pikiran untuk terbuka dengan siapapun.

    “Boleh jadi apa yang baik selama ini menurut kita, belum tentu baik di mata Allah. Sungguh, Allah memberikan apa yang kita butuhkan, tidak sekadar apa yang kita inginkan. Ada hadiah bagi yang senantiasa bersabar dan ikhtiar dalam hal apapun”

    Bantu aku menjadi lebih baik!
    Continue Reading
    [Apa kabar organisasimu? Sudah berjalan sesuai koridor ketetapanNya?]

    Tulisan ini saya buat untuk refleksi bagi diri saya sendiri, kemudian terutama untuk kalian wanita-wanita hebat, teman-temanku di kampus perjuangan. Dan semoga, kalian kaum laki-laki, juga bisa mengambil pandangan baru dari tulisan ini.

    Teman-teman, se aktivis apapun kita, jangan lupa kewajiban utama kita kepada Allah. Beribadah kepadaNya.

    Bismillahirrahmanirrahim.

    Aku berasal dari niat yang sama dengan kalian. Menjadi seutuhnya pembelajar dan memanfaatkan umurku di dunia perkuliahan ini dengan sebaik yang aku mampu. Sayangnya, selama ini aku terlalu memaksakan dan sering melewati batas “mampu“ku.

    Aku mengawali terjun ke dalam dunia organisasi―yang sampai pada akhirnya disebut aktivis kampus atau mahasiswa kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat)―di himpunan tempat pertama kali aku jatuh cinta pada pergerakan mahasiswa. Klise, semua itu berangkat dari proses yang sama-sama kita namai kaderisasi.  Aku jatuh cinta dengan bagaimana Mbak Mas ku menanamkan nilai-nilai budaya ITS. Aku diajari bagaimana berjuang, bagaimana bermanfaat bagi orang lain, bagaimana bicara di depan publik, bagaimana menjadi aku yang meninggalkan zona nyamanku. Dan hebatnya, mereka benar-benar membuatku mampu terlalu cinta pada HMTI hingga rela mengabdikan ± 4 tahunku untuk selalu melihat, HMTI sekarang sedang bagaimana, dan aku bisa apa?

    Berawal dari kecintaanku pada segala hal mengenai HMTI―eksistensinya, manfaatnya, pola pikir orang-orang di dalamnya―aku secara sadar mulai mengubah kebiasaanku. Aku mulai memahami dan memegang prinsip mahasiswa, bahwa kita hanya bisa memilih dua diantara tiga: organisasi, akademik, atau waktu tidur. Dan inilah aku, yang terlalu mencintai HMTI.

    Sayangnya, Allah tidak menyukai sesuatu yang sifatnya terlalu.

    يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
    Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raaf:31)

    Dan sayangnya lagi, aku baru menyadarinya di akhir masa perkuliahanku.

    Dahulu bahkan sesekali hingga kini, aku sangat terbiasa bergurau terlalu berlebihan, atau pulang terlalu malam―kadang pagi, atau tidak mengindahkan perintah orang tuaku untuk segera kembali ke rumah apabila telah selesai kuliah. Aku menganggapnya dengan pola pikir sederhana. Aku ini sedang memegang amanah. Sedang berusaha membuat diriku bermanfaat bagi orang banyak. Sedang membuat diriku memiliki lebih banyak added value. Tapi aku rasa, aku terlalu banyak dibodohi dan membodohi diriku sendiri.

    Aku membodohi diriku sendiri dengan banyak sekali melakukan maksiat yang aku tahu aku berdosa, tapi aku membiarkannya. Aku membiarkan―pernah melakukan dan bahkan membenarkan―stafku yang memalsukan tanda tangan untuk pencairan dana. Dan lagi, aku merasa dibodohi dengan merasa kepentingan organisasiku ini di atas segalanya. Staf dan kabinetku beralasan terlambat ikut forum karena ketiduran? Aku mudah suudzon dan bilang, “Halah bilang aja sengaja tidur.“ Semua itu kemudian berujung pada marah dan kesal yang kuungkapkan di forum. Kalau saja saat itu ada pengurus himpunanku―yang memang ada kepentingan lain yang tidak mampu ditinggalkan―merasa terdzalimi oleh amarahku, sudah berapa banyak tabungan dosaku sekarang?

    Belum lagi aku yang melaksanakan forum―atau membiarkan forum terlaksana―tanpa memperhatikan jam shalat Isya‘. Karena merasa “Ah waktunya kan panjang“, aku tidak berniat menghentikan forum yang jalannya sebelum adzan Isya‘ ketika Hayya 'alash Sholāh terdengar.

    Di setiap kegiatan hingga larut malam,
    untuk setiap orang,
    yang tidak melaksanakan shalat Isya‘ tepat waktu,
    kemudian sepulangnya ia langsung tidur,
    dan baru terbangun saat waktu Subuh,
    sehingga kehilangan shalat Isya‘-nya,
    berapa banyak dosa yang harus aku tanggung,
    karena aku sebagai pemimpinnya,
    tidak membiarkan mereka mengambil jatah waktu bicaranya kepada Allah?

    Lagipula, bukankah ibadah merupakan satu dari empat jenis izin yang diperbolehkan? Dan shalat berjamaah itu ibadah bukan?

    Atau mengenai forum atau rapat sampai pagi. Aku ini kan wanita. Dan wanita itu tidak sepantasnya pulang terlalu larut tanpa mahramnya. Maka aku hingga kini masih seratus persen hak orang tuaku. Bukan hak organisasiku, prokerku, rapatku. Dalam islam, genderku ini sangat dihormati. Dijunjung tinggi kemuliaannya.

    اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ ، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَىْءٍ فِى الضِّلَعِ أَعْلاَهُ ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ
    “Berbuat baiklah pada para wanita. Karena wanita diciptakan dari tulang rusuk. Yang namanya tulang rusuk, bagian atasnya itu bengkok. Jika engkau mencoba untuk meluruskannya (dengan kasar), engkau akan mematahkannya. Jika engkau membiarkannya, tetap saja tulang tersebut bengkok. Berbuat baiklah pada para wanita.” (HR. Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 1468).

    Maka kemudian aku tidak mampu membayangkan bagaimana dahulu, di masa Rasulullah, wanita yang pergi ke masjid akan lebih dahulu pulang ketika shalat sudah usai. Alasannya, mereka tidak mau dilihat oleh laki-laki. Sedangkan aku? Semakin terlihat dan terkenal aku semakin puas, semakin merasa bermanfaat. Padahal kalau ditelisik lebih jauh, dan perlahan coba bertanya pada nuraniku sendiri. Seberapa besar sih manfaatku, manfaat organisasiku, untuk umat? Aku sendiri ragu menjawabnya. Merasa idealismeku hanya separuh saja. Baik idealisme pada dunia pergerakan mahasiswa, maupun pada ketaatanku untukNya.

    Tidakkah kita takut dosa?
    Tidakkah kita takut Allah tidak meridhai kita?
    Tidakkah kita takut kita melakukan sesuatu yang sebenarnya fana?
    Bukankah tujuan kita adalah Jannah?

    Bukankah begini?
    Seharusnya sebagai seorang hambaNya aku tidak melenceng dari ketetapanNya.
    Seharusnya aku tidak mengorbankan waktu tidurku untuk menjadi aktivis yang mampu meraih IP gemilang. Idealnya ya aku wajib menyeimbangkan ketiganya. Karena toh tidur adalah nikmat pemberianNya. Dan tubuh ini memiliki hak untuk beristirahat, untuk dijaga, sebagai bentuk rasa syukur kepadaNya.
    Seharusnya bisa mencairkan dana tanpa perlu menipu.
    Seharusnya bisa forum dan rapat berjalan singkat tapi tetap sesuai tujuannya tanpa perlu mengambil hak orang lain―jam ibadahnya, jam tidurnya, jam mengerjakan tugasnya.
    Seharusnya aku menjadikan kontribusiku ini sebagai ladang pahala. Bukan dosa. Seharusnya semua ini dilakukan dengan cara yang baik-baik saja, yang dalam koridor Islam, yang tidak menyalahi ketentuanNya.

    Sudah terlambat?
    InsyaaAllah belum. Tulisan ini bertujuan untuk mengingatkan. Karena kewajibanku sebagai seorang muslim terhadap saudaraku hanya sampai situ bukan?

    Alhamdulillah,
    telah kusampaikan,
    telah kusampaikan.
    Semoga ini bisa menjadi pengurang dosa-dosaku dan kalian.

    Selamat beraktivitas teman-teman. Semoga Allah selalu memberikan hidayah bagi kita. Sesekali coba tanyakan pada diri sendiri ya, apa kabar organisasimu? Sudah berjalan sesuai koridor ketetapanNya?

    [Tulisan ini diambil dari teman saya, Almira Hasna Zulfany. Terima kasih sudah menginspirasi dan mengingatkan]


    Continue Reading
    Assalamualaikum warrahmatullah wabarakatuh. Wihiii, sudah lama tidak bersapa ya kawan-kawan blogger yang terus berkarya. Maafkan aku, sebab akhir-akhir ini memang cuaca di luar rumah sedang naik-turun dan sempat terkena sakit beberapa hari, bahkan hingga hari ini (ini ngadu biar ada yang merhatiin hehehe). Iya, sakit sedikit saja sih tapi Insya Allah tidak sampai yang gimana-gimana kok. Tidak perlu khawatir, karena Rizka masih tetap menemani kalian melalui tulisan-tulisan sederhana.
              Baiklah, kali ini isi tulisannya diilhami oleh pertanyaan seorang teman seperjuangan. Kita adalah teman beda provinsi, tapi selalu berasa dekat di hati. Karena kita saling stalking media sosial masing-masing hehehe (kepedean nih aku). Her name is Naillasari. Ketemu sama Naila itu waktu di kegiatan Parlemen Remaja Nasional 2013. Jadi kan ya, beberapa waktu lalu itu Naila ada ngajakin aku buat diskusi di salah satu media sosial yang lagi hits pakai stiker hahaha. Maafkan aku ya Naila karena tidak dibalas. Aku berpikir bahwa tidak efisien bila dijawab di obrolan itu karena pasti jawabannya panjang banget hehe. Semoga tidak merasa dikecewakan setelah membaca tulisan ini karena jujur saja aku memang sudah menyiapkan jawabannya melalui tulisan di blog ini supaya kamu mudah untuk review kalau-kalau kamu lupa hehehe.
              Pertanyaan kamu waktu itu sungguh sangatlah sederhana, tapi bagi aku sangatlah komplikasi hahaha. Mengapa ? Karena aku merasa ilmuku belum begitu mumpuni untuk menghadirkan jawaban-jawaban yang super duper bertanggung jawab atas pertanyaanmu. Tapi kebetulan aku tipe orang yang tidak tahu malu hehehe, jadi gak apa-apa ya kalau aku sedikit bantu. Yang baik silahkan diambil, sedangkan yang tidak baik silahkan dibuang hehe.
    ***
              Naila bertanya, “Kak, bagaimana caranya menjadi seorang penulis yang baik versi kakak?”. Ceilah pakai acara versi-versian, yakali aku punya versi keren banget hehehe. Mungkin maksud Naila adalah gimana ceritanya awal mula aku bisa mencintai dunia literasi ini sampai berani-beraninya nulis buku dan berkeinginan buat jalan-jalan keliling dunia secara gratisan. Jadi Naila, aku ini adalah tipe penulis yang tidak tahu diri. Mohon jangan ditiru hehe. Tapi kalau mau ditiru, hayuk kita bersatu padu jadi pengelana yang suka gratisan wkwkwk.
              Alhamdulillah, aku memulai karir di bidang literasi saat usia 15 tahun. Usiaku segitu saat Almarhum Ayahku meninggal dunia. Bagiku dahulu, Ayah adalah buku harianku. Hari-harinya, aku tidak sedikit pun lepas dari inspirasi nasihat-nasihat Ayah. Ibaratkan sebuah buku catatan harian atau kita sebut dengan diary, ya itulah caraku menggambarkan sosok Ayah dalam keseharianku. Saat tahu kalau Ayah memang sudah tidak bisa menjadi temanku berbicara dan berbagi kisah, aku mengembalikan perumpamaan buku catatan itu ke dalam sebuah lingkup lebih luas. Mengapa tidak aku persempit ? Iya, karena bagiku kisah Ayah lebih luas dari itu. Maka sekalian saja aku pelajari ilmu-ilmunya lebih luas lagi, biar aku bisa merasakan bahwa Ayah akan tetap hidup. Di hatiku, melalui penaku, bersama tulisanku.
              Bagaimana pada akhirnya aku berujung menjadi seorang penulis muda?
              Karena kecintaan itu membuatku bisa berenang sesuka hati. Tidak dibatasi oleh gaya apapun karena aku bisa menciptakan gayaku sendiri. Menjadi penulis, aku tidak takut kehilangan jati diri. Aku tidak takut kehilangan orang lain, orang-orang terdekatku, otak berpikirku, dan jiwa-jiwa petualangku. Menjadi penulis, aku menjadi diri sendiri, tanpa paksaan ataupun pernyataan tertulis “tanpa paksaan” dengan materai 6000. Aku bebas! Jadilah orang yang bebas, dengan menulis!
              Kembali kepada pertanyaanmu terkait tips-tips menjadi penulis.

    1.    Mulailah menulis cerita-cerita dari kejadian di sekitarmu.
    Setiap hari, rutinitas harian membuat kita penat. Setuju ? Iya, aku setuju dengan pernyataan itu. Dua puluh empat jam dalam satu hari dan (mungkin) ada lebih dari dua puluh empat (pula) gerakan yang kita lakukan untuk menyelesaikan satu kegiatan saja. Bukan hanya badan yang penat, tapi pikiran juga. Hati-hati bila sudah pikiran menjadi penat. Karena kemungkinan untuk berpikir jernih akan sangat kecil. Solusi yang ditawarkan adalah tuliskan apa-apa saja yang sudah kita lewati seharian penuh. Bebas mau dituangkan ke dalam wadah apapun. Mau diary-boleh, mau buku sele-sele-boleh, mau di laptop/komputer-boleh, mau di binder kampus-boleh. Asal tidak nulis di baju saja ya, kawan-kawan hehehe. Selama bentuknya adalah kertas yang bisa dipakai untuk oret-oretanmu, silahkan untuk digunakan. Nah, kemungkinan lain yang terjadi di tips ini adalah rasa malas dan ngantuk. Kalau dua penyakit ini, ya aku sendiri juga sering kena petulahnya hehehe. Enggak bisa dipungkiri memang kalau sudah seharian beraktifitas dan akhirnya lelah-ngantuk-malas nulis (nahloh(?)).

    Dibalik fakta dan masalah, tentu ada solusinya. Biasanya, usai pulang beraktifitas, aku bersih-bersih diri, dan membuat diriku nyaman dulu dengan menjalankan ibadah. Usai itu, aku konsumsi makanan favorit. Apa itu ? Cokelat, roti cokelat, kismis cokelat, susu cokelat, permen cokelat. Semua tentang cokelat deh hehehe. Menurut penelitian, cokelat bisa mengembalikan mood seseorang yang hampir surut. Nah, kalau kamu merasa diri kamu mau menulis tapi rasa kantuk dan malas mulai buat ulah, silahkan konsumsi makanan favorit kamu. Selain sebagai teman menulis, ya itu juga berguna untuk mengalirkan semangatmu ke dalam setiap goresan-goresan tulisanmu. So, semangat ya!

    2.     Tulis saja dengan kata-katamu sendiri. Jangan lupa untuk sertakan tanggal penulisan, gambarkan juga bagaimana situasi kondisi yang kamu alami dengan kata-kata asik ala kamu.
    Nah, terkadang kalau sudah menulis itu suka mentok kan ya hanya gara-gara kita bingung bagaimana kata-kata selanjutnya supaya tidak mati alur. Wah ini nih yang kebanyakan membuat calon penulis muda jadi mati kutu. Kemungkinan besar, ini dikarenakan ekspektasi di awal menulis yang terlalu tinggi. Kita boleh membuat sebuah harapan tinggi, tapi toh tidak melupakan realistis tentang kemampuan kita. Acapkali ini dikarenakan kurangnya kosa kata dari diri si penulis. Sekalinya ngebaca tulisan-tulisan orang lain, duh rasanya pengen buat begitu yakan ya. Iya, aku juga dulu begitu kok.

    Kebiasaan yang buruk bukan berarti menempah kita menjadi pribadi buruk untuk seterusnya. Pasti ada proses. Proses juga perlu waktu. Hemm, solusi yang aku tawarkan untuk satu ini adalah gunakan kata-kata santai ala diri sendiri. Alias buat ciri khas sendiri. Kalau misalnya kita senang dengan kata-kata santai, sok atuh lanjutkan. Kalau misalnya kita senang dengan kata-kata bijak, hajar bos! Kalau misalnya kita senang dengan kata-kata sendu melagu, silahkan untuk bermuram durja-berbahagia riang dengan itu semua. Selama itu membuat kamu nyaman, don’t be like another because you are what you think, read and write. Tulisanmu menggambarkan dirimu. Jadi, jangan takut. Karena tulisan selalu punya penggemarnya. Niatkan positif ya.

    3.     Baca ulang tulisanmu.
    Sudah selesai nih ceritanya tulisanmu, ciyeee kece banget hehehe. Selamat buat kamu yang sudah memasuki tahap ketiga ini. Tandanya, kamu sudah hampir menyelesaikan tulisanmu atau bahkan sudah menyelesaikan satu-dua-tiga tulisan. Huaaaah!! Great job!

    Nah, tips yang ketiga adalah baca ulang tulisan yang sudah kita buat. Kebiasaan yang sering dilupakan para calon penulis muda adalah merasa kepedean sampai lupa intropeksi diri sendiri hehehe. Dimulai dari hal sederhana yaitu penulis harus bisa berada pada dua sisi. Pertama, sebagai penulis. Kedua, sebagai pembaca.

    Tulisan yang kita buat, bukan kita saja loh yang mau baca. Atau bahkan orang-orang terdekat kita saja loh yang mau komentar baik. Di luar sana, banyak yang bisa mengkritik tulisan-tulisan kita. Maka dari itu, baca ulang tulisan kita. Perhatikan ejaan dan tanda baca. Posisikan sudut pandang tulisan supaya enak dibaca oleh para pembaca, apalagi kategori pembaca yang kita jadikan sebagai target pembaca tulisan kita. Ayo, check your writing again! Jangan malas yaaa hehehe.

    4.     Jika sudah pede, buat genre tulisanmu lebih luas lagi. Semisal, tentang kondisi teman-temanmu, atau saudara terdekatmu, atau bahkan orang tuamu.
    Sudah banyak nih tulisan-tulisanmu dan lagi-lagi kamu kejebak masalah. Aduh, apalagi sih masalahnya ? Hemm, masalahnya adalah kamu merasa objek tulisanmu itu-itu saja. Waaah, sepertinya kamu butuh piknik hehehe. Tenang-tenang, kamu harus ubah mindset kamu bahwa penulis selalu punya ide meskipun hanya dihadapkan pada satu buah kotak di depannya. Menulis itu butuh inspirasi dan inspirasi ada dimana-mana.

    Ketika kamu sudah selesai menceritakan tentang dirimu sendiri beserta apa-apa saja yang kamu kerjakan, maka mulailah membuka wawasan tulisanmu lebih dalam lagi.... lebih dalam lagi.... lebih dalam lagi.... (eh, kayak hipnotis ya hehehe). Iya, seperti pengalamanku. Aku memulai menuliskan tentang teman-temanku di kampus tentang bagaimana karakter mereka dan hal-hal menarik sampai tidak menarik yang dihabiskan bersama mereka. Sedikit kepada membuka aib sih sebenarnya, tapi kita juga tahu batasan dalam penilaian. Kalau semisal itu adalah teman dekat, ya mungkin tidak masalah. Asal juga isi tulisannya tidak menjatuhkan siapapun, melainkan memberikan semangat positif dalam jalinan pertemanan. Toh teman yang baik adalah teman yang senang bila dikritik. Itu tandanya, kita perhatian hehehe.

    Jadi, beranilah untuk menciptakan objek-objek baru dari orang-orang terdekatmu.

    5.     Mulailah memberanikan diri untuk meminta teman terdekatmu, atau orang tuamu, atau salah satu penulis yang kamu kenal, untuk baca tulisanmu.
    Penulis juga butuh dikomentari kan untuk perkembangan tulisan yang lebih baik. Jangan malu buat nerima kritikan dan saran, sebab itu sangatlah penting untuk diri si calon penulis. Mintalah teman terdekatmu, ayah atau ibumu, untuk membaca tulisanmu. Setelah itu, minta mereka untuk berkomentar atas karyamu.

    Lalu, kalau kamu malu menunjukkannya bagaimana ? Ya sejatinya, penulis memang orang-orang yang terlahir untuk memutuskan urat malunya hehehe. Jadi kalau kamu sudah berani memutuskan dan memantapkan diri untuk menjadi seorang penulis, maka take a risk. Ambil resikonya. Tidak susah kok. Hanya dengan modal nekat dan tidak malu untuk menunjukkan hasil karyamu. Bukan buat ajang pamer loh, tapi itu tandanya kita ingin ajak teman-teman yang lain untuk berkarya lebih banyak lagi daripada kita.

    Jadi, percaya deh kalau niat baik akan berujung baik meskipun harus melewati gundukan-gundukan luar biasa, dan kita juga akan dihadirkan bersama orang-orang yang sevisi-misi dengan kita. Kamu tidak sendiri, maka berbagilah! Dimulai dari tulisan pertamamu.

    6.     Perbanyak baca buku hehehe.
    Hohoho, sepertinya tips yang terakhir ini harus menjadi santapan makanan wajib bagi para penulis. Yeay, that is read!! Akan mustahil bagi seseorang untuk menjadi seorang penulis bila tidak pernah membaca. Minimal, baca tulisan, “Ini adalah Ayah Budi. Itu adalah Ibu Budi”.

    Simple is beauty, aseeek bangeeet hahaha. Iyes, menjadi cantik memang butuh yang sederhana saja. Nah, sama halnya dengan menulis. Menjadi seorang penulis yang baik dan punya ciri khas, ya dimulai dari tulisan-tulisan sederhana. Tidak perlu ingin menyerupai J.K.Rowling atau Andrea Hirata atau Dee Lestari, kalau menuliskan cerita-cerita sederhana saja tidak pernah – kalau membaca buku saja tidak mau. Ayo dong baca buku! Baca komik atau novel teenlit juga boleh selama itu bisa memicu semangat bacamu. Nah, kalau sudah banyak baca, nanti bakal ada niat supaya tulisanmu juga bisa dibaca orang kan? Habis baca, terbitlah nulis. Begitu.... hehehe.

              Astaga, ini uda panjang banget tulisannya. Sudahlah, aku akhiri saja ya kawan-kawan. Buat Naila yang akhirnya membuatku bocor sebegini panjang, terima kasih untuk pertanyaannya ya. Jangan malu-malu apalagi takut (emang aku apaan -.-) untuk nanya-nanya, Insya Allah bakal dijawab langsung kalau memang jawabannya singkat dan bakal soon reply di postingan blog sederhana ini di lain waktu.

              Jadi penulis? Siapa takut!

              Masih takut? Yah, masa kalah sih sama penulis-penulis muda di Kecil-Kecil Punya Karya. Hayoloh hehehe. Selamat berkarya! Kalau tulisanmu sudah dibukukan, punten ya buat dibagiin ke aku satu hihihi (lagi-lagi gak tahu diri akunya, maafkeun ^.^)
    Continue Reading
    Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang. Sebenarnya menulis itu sama dengan berbicara, hanya saja itu kamu catat. Dengan satu kata 'menulis', akan kamu temukan titik peduli dan kadar mencinta seperti apa layaknya manusia normal. Itu terekam semua di dalamnya. Two in one, kunamai. Komposisi jelas dan tidak berasa berkurang karena saling melengkapi antara dua itu. Sama seperti minum kopi, temukan letak pahitnya maka songsong pikiranmu mulai berkutat memahat kata-kata bagus untuk para peminum berikutnya. Dan komposisi itu akan menemukan titik sempurna jika kamu ada di dalamnya. Testimoni pun dirangkap.

    Menulis itu mudah. Tapi bagaimana agar tiap huruf berarti dan bisa membuat pembacamu bergerak ke arah yang lebih baik, tanpa kau gurui. Sama seperti ketika kamu melakukan hal yang disukai, meski itu berat tapi tetap saja ada nelangsa ikhlas sehabisnya. Menurutku, saat itu wawasan dan hatimu sedang bergejolak bersamaan. Segala sesuatu yang dilakukan dengan kombinasi wawasan dan hati, setidaknya itu langkah awal untuk mencerdaskan dan terpahat sampai ke hati-hati lainnya. Kalau pun hati saat itu sedang terluka, ia bisa menjadi penyembuh lukam. Karena ada kesakitan yang sembuh ketika menulis.

    Bila kau bertanya mengapa aku sanggup berkata demikian, sebab itulah nyatanya. Kubaca beberapa referensi dari novelis-novelis ternama hingga sastrawan yang membosankan kata-katanya bagiku. Cuma diawal, ke belakang justru semakin cinta. Seperti kisahnya salah satu novelis Indonesia yaitu Ibu Helvy Tiana Rosa (saudara dari novelis Asma Nadia). Ibu Helvy pernah ditanya tentang alasannya mengapa ingin menulis. Habis kubaca kisahnya, nyata alasannya pun sama denganku. Ingin selalu mendekap yang dicinta dengan erat lewat kata-kata.

    Menulis adalah sebuah keberanian. Berani untuk menuntut diri supaya enggan bungkam. Ketika hati harus terbungkam, maka sastra dituntut untuk berbicara. Hal sederhana dalam hidup manusia adalah membaca, menulis dan berdoa. Bagiku, itu ketiga hal yang menjawab. Jawaban untuk sebuah pengakuan, bahwa yang sederhana itu tidaklah murahan.

    Jarang orang mau mengakui, kesederhanaan adalah kekayaan yang terbesar di dunia ini, suatu karunia alam. Dan yang terpenting diatas segala-galanya ialah keberaniannya. Kesederhanan adalah kejujuran, dan keberanian adalah ketulusan. 

    Bicara tentang sebuah keberanian, kalap tak lepas dari sebuah kekuatan. Belajar tentang keberanian dan kekuatan. Karena ada begitu banyak nikmat yang akan Allah berikan, jika kita berjuang untuk bangkit dan melawan ketakutan diri sendiri. Kembali tentang sebuah ketulusan sering diartikan dari pemahaman lima indera. Yang paling dominan adalah mata. "Andai matamu melihat aku, terungkap semua isi hatiku", seperti tertulis dalam salah satu lirik lagu dari band asli Indonesia. Jauh ketika melalui pengamatan, akan terungkap sebuah fakta bahwa apa yang tertulis adalah apa yang dirasakan. Lebih bermakna dari hanya sebuah tatapan. Saat mata bisa berbohong, maka tulisan tidak.

    Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.

    Ambil saja dari bagianku. Awal karir menulis itu karena sejatinya ada luka. Sejak menulis, aku merasakan itu terkikis sedikit demi sedikit. Aku tak butuh menghabiskan banyak uang di tempat mewah lalu bermain dan tertawa, habis itu lupa. Cukup bagiku, menulis. Suatu cara untukku berbicara. Pada masa lalu, masa sedang berlangsung dan masa depan. Padamu yang pernah kucinta, yang sedang kucinta dan yang akan kucinta hingga akhir.

    Setiap kali menulis, semua peristiwa terasa dekat kembali, seolah aku mengalaminya lagi. Sungguh sangat nikmat. Untuk pertama kalinya aku mengikhlaskan apa yang aku alami. Untuk pertama kali aku memahami dan menerima dengan hati bahwa apa yang aku inginkan tak selalu menjadi kenyataan. Ada kekuatan yang Maha, yang menentukan ujung semua jalan. Ada pelajaran-pelajaran yang ingin Ia sampaikan dengan cara-Nya sendiri. 

    Lepaskanlah, maka semoga yang lebih baik akan datang. Lepaskanlah, maka semoga suasana hati akan menjadi lebih ringan. Sosok laki-laki di masa silam itu, ingin kuajak bicara melalui tulisan ini. Aku takkan menyamaratakan, sebab lelaki yang baik akan selalu ada. Dunia tidak akan kehabisan orang-orang baik.
    Semoga dia mengetahui, bahwa aku pun mendoakan bahagianya. Kenangan adalah bukti terbaik untuk mengatakan tidak ada yang utuh di bumi ini, bahkan kehilangan. Cukuplah doaku yang tahu betapa aku telah mengikhlaskan. 

    Jadi, tulislah sesuatu yang mudah, yang dikuasai, dan yang sederhana. 
    Karena menulis, suatu cara untuk bicara.


    "Kau menulis. Maka suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari."
    (Pramoedya Ananta Toer)
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Searching

    • ABOUT ME

    Media Sosial

    • Tumblr
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram

    HUBUNGI SAYA DENGAN EMAIL

    Nama

    Email *

    Pesan *

    Pengunjung

    Pict of Me

    Pict of Me

    Catatan Berkarya



    Recent Post

    • Esai Seleksi Beasiswa Karya Salemba Empat
    • Esai Diri (Program Friendship From Indonesia 2017, China - Malaysia)

    Arsip Blog

    • ▼  2022 (1)
      • ▼  Januari (1)
        • Welcome 'Twenty Five', I Am Fine!
    • ►  2021 (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juni (1)
    • ►  2019 (8)
      • ►  Desember (2)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (2)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2017 (21)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (3)
      • ►  Maret (1)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2015 (3)
      • ►  Agustus (3)

    Label

    • Blog Competition
    • Cerita Rizka
    • Diurna Rizka
    • Esai
    • Pendidikan
    • Petualangan
    • Rizka Gusti Anggraini Sitanggang
    • Tulisan
    • Writing Competition
    Instagram LinkedIn

    Created with MRIL BeautyTemplatesDistributed By Rizka Sitanggang

    Back to top