• Home
    • Akademik
    • Diurna Rizka
    • Tulisan
    • _Writing Competition
    • _Blog Competition
    • _Writing Project
    • Petualangan


    Benar rasanya seiring bertambah usia, banyak hal yang kita inginkan dan dibangun sejak lama harus diikhlaskan. Sekian lama dipertahankan, tapi nyatanya bukan milik kita. Sakit ya pasti, seolah semesta mempermainkan niat baik yang dipupuk sedemikian rupa. Setelah tumbuh, ternyata orang lainlah yang menikmati hasil. Tapi menurutku, rasa sakit itu karena belum terbiasa.

    Sama halnya dengan perpisahan dan kepergian orang terkasih. Banyak angan-angan yang ingin dilukis bersama mereka. Dan siapa sangka, semua ambruk begitu saja saat Allah meminta ia kembali ke pangkuan-Nya. Nyata memang kuasa-Nya. Tak seorang pun yang tahu kapan dan apa yang terjadi pada hidupnya sendiri.

    Bicara soal mengikhlaskan, ini nampaknya agak rumit. Aku sendiri yang mengaku diri telah dewasa, belum sepenuhnya paham tentang mengikhlaskan. Entah karena masih terlalu duniawi, aku terkadang merasa ada hal-hal tidak adil pada serangkaian niat baik. Namun setelah dijalani, barulah mengerti, "oh ternyata ini maksudnya". Dan seringkali menyelamatkanku dari hal-hal buruk yang tak terpikir sebelumnya. Bersyukur? Tentu saja sangat bersyukur.

    Begitu memang cara Allah menyadarkan hamba-Nya. Bukan hanya dari yang tak disukai, bahkan lewat sesuatu yang amat diinginkan. Manusia menyebutnya "Allah telah merampas keinginanku", padahal sebenarnya "Allah telah mengganti keinginanmu, sungguh semata agar kau selamat".

    Sampai detik ini, aku terus belajar mengikhlaskan dan ini pelajaran yang tak pernah selesai. Seperti halnya soal ujian, tingkat kesulitannya selalu berbeda. Kadang kala, saat semua terasa seperti tak ada yang bisa diperbuat lagi, aku cuma bisa meratapi diri sendiri. Bukan merasa buruk, tapi bertanya, "kamu kenapa, Riz? kok susah sekali buat ikhlas?"

    Kalau orang-orang bilang, "kamu kan udah gede, masa buat ikhlas aja susah? itu artinya ego kamu masih besar, itu tanda kamu belum dewasa". Maaf sungguh aku minta maaf, kadar dewasa seseorang bukan dilihat dari satu-dua hal yang ia hadapi dalam kesehariannya. Kedewasaan seseorang itu dilihat dari cara dia menempatkan diri di setiap situasi.

    Jika kamu mengatakan seseorang belum dewasa hanya karena dia belum ikhlas, menurutku kamu belum mengenalnya lebih dekat. Sedewasa apa pun seseorang, pasti selalu ada titik di mana ia butuh waktu untuk merelakan sesuatu yang ia pikir miliknya tapi ternyata bukan.

    Saat dia bicara pada dirinya sendiri, sejatinya itu salah satu bentuk kedewasaan. Hanya, dia berusaha mencari cara untuk bangkit dan terlihat baik kembali. Bukankah pulih itu butuh waktu?

    Di usia 24 tahun -ketika menulis ini-, aku sadar betul ada begitu banyak keinginan lama yang pada akhirnya diikhlaskan. Namun entah bagaimana, semakin ke sini, karena 'terbiasa' mengikhlaskan itu membuat diri sendiri enggan terlalu berharap. Pada apa dan siapa pun.

    Ya, apalagi berharap pada manusia. Karena tahu betul hati sendiri sangat rapuh, maka kuputuskan untuk tidak berharap pada manusia untuk urusan apa pun. Sekiranya sesuatu bisa kukerjakan sendiri, itulah yang diupayakan. Kalau memang sangat butuh bantuan, aku menjadi orang pemilih.

    Bukan hanya memilih yang sepemahaman, tapi juga yang tulus. Dan itu rasanya semakin sulit karena seiring bertambah usia, circle pertemanan semakin sempit. Sekarang, kuantitas tak menjamin kualitas. Memang lebih menyenangkan punya teman banyak, tapi bukankah lebih nyaman berada di sekitar orang yang memang mengerti kita? Bahkan, saat kita hanya bisa bercerita lewat diam.

    Semoga aku dan kamu -siapa pun yang membaca ini- termasuk orang yang selalu belajar mengikhlaskan dari hal kecil. Lalu ketika sesuatu terjadi tidak sesuai harapan, jangan salahkan diri. Justru berterimakasih karena sudah berjalan sejauh ini.
    Continue Reading

    Bicara soal peringatan dan perayaan, saya sebetulnya tidak begitu tertarik. Memang, selama ini bahkan sejauh ini, di depan teman-teman, saya kerap berlagak happy ketika ada satu hal yang perlu dirayakan, misalnya saja "Perayaan Ulang Tahun". Tapi, andai mereka tahu, nyatanya di dalam hati saya tidak sesenang itu hehe.

    Artinya, saya pura-pura? Hmm, mungkin sedikit saya benarkan. Berhubung, lingkungan orang-orang terdekat saya begitu gegap gempita menyambut momen seperti itu. Meski bagi beberapa orang, perayaan tidak melulu soal happy-happy, ya. Karena mungkin sebagian orang menganggap itu momen kumpul bersama. Ya tidak masalah, kok.

    Begitu pula saya. Kepura-puraan saya selama ini di depan para teman ketika ada yang berulang tahun, sejatinya bukan untuk hal senang-senang. Tapi, karena saya menghargai betul momen baik itu. Momen saat saya bersama teman-teman sefrekuensi.

    Bagi saya, kebersamaan seperti itu yang perlu dimaknai, bukan perayaannya. Karena, tidak ada yang pernah tahu kebersamaan bisa dilalui sampai kapan dan seberapa sering. Ujungnya, perpisahan juga yang menjadi 'batas'.

    Ya biarlah, kepura-puraan itu menjadi urusan saya pribadi. Selama orang-orang di sekitar saya merasa baik, saya ingin mereka juga merasa nyaman dengan keberadaan saya. Bila 'perbedaan' cara pandang saya dalam memaknai hari lahir itu terlampau jauh berbeda, saya khawatir hanya menjadi alien di lautan manusia. Dan saya tidak ingin seperti itu.

    Mengapa demikian? Sikap saya ini sebenarnya berangkat dari nasihat seorang mentor saya. Kebetulan, beliau adalah seorang peneliti dan psikolog. Suatu hari, beliau sempatkan menemui saya di salah satu sudut meja makan ketika satu kegiatan mempertemukan kami bersama.

    Waktu itu, lama kami saling bertukar cerita lantaran lama tidak bersua. Sambil menunjukkan respon ekspresif sebagaimana yang kalian tahu tentang saya, beliau tiba-tiba tersenyum simpul pada satu pernyataan tentang keheranan saya melihat orang-orang yang saya temui sampai detik itu.

    Dengan nada suara rendah, beliau bilang, "Rizka, saya senang sekali dengan perubahan sikap, pola pikir, cara pandang, sampai ilmu-ilmu baru yang berhasil kamu serap dari pengalamanmu. Kamu lebih dewasa dari usiamu seharusnya. Wajar, itu semua karena latar belakang keluarga dan perjalananmu yang tidak mudah."

    "Tapi Rizka, apa-apa yang kamu pikirkan tentang perbedaan setiap orang, itu bukanlah kapasitasmu. Tentang orang-orang yang menurut kamu masih senang merayakan ini-itu di usia mereka yang seharusnya tak lagi begitu. Semua itu bukan kapasitas kamu."

    "Terlampau diikuti, hanya akan membuat kamu menjadi alien. Dampaknya, kamu nanti jadi tidak punya teman. Jadi, kontrol egomu, lihat kondisi di sekitar. Bila masih bisa dimaklumi, maklumilah. Jangan ambil pusing, ya."

    Kurang lebih intinya demikian yang beliau sampaikan. Saya pribadi tertegun. Bukan tidak terima, bahkan sangat legowo mendengar nasihat beliau. Saya diajak berpikir berkali-kali, tentang bagaimana pula saya di hadapan banyak orang.

    Ah, pastinya banyak keanehan dalam diri saya yang mungkin orang tidak mau repot mengurusinya, alhasil mereka diam saja. Lantas, mengapa saya berani ikut campur tentang cara mereka menjalani hidup? Saya tidak punya hak sama sekali untuk itu.

    Saya, manusia biasa. Bukan orang yang berhak menempatkan standar penilaian saya untuk orang lain. Begitu pula orang lain, tidak berhak menempatkan standar penilaian mereka pada saya.

    Setiap orang selalu punya standar penilaian sendiri dan tidak seorang pun dari kita -yang mengaku manusia- bebas sesukanya mengubah poin dari standar tersebut. Dan standar itu sifatnya relatif, seperti halnya cantik-jelek, baik-buruk, mahal-murah, dan lain-lain.

    Perihal perayaan dan peringatan, saya tak hanya punya standar, tapi juga prinsip. Bagi saya, perayaan dan peringatan bukan cuma soal waktu, tapi juga keberlanjutan.

    Ya memang, saya begitu senang dengan hal-hal jangka panjang. Karena itu, saya memilih prinsip untuk memaknai perayaan dan peringatan lewat kesederhanaan cara berpikir saya.

    Lebih tepatnya, menyederhanakan pikiran supaya saya tidak menyulitkan diri sendiri dan orang-orang di lingkungan sekitar saya. Jadi, bantu saya memahamimu, ya. Siapa pun kamu.

    Continue Reading


    Tidak apa-apa. Jika sekarang kau rasa rezekimu masih terasa kurang, susah dapat uang, atau mungkin usahamu sedang sepi, mungkin Dia sedang melunakkan hatimu. Ya, agar nanti ketika sudah berlebih rezekimu, hatimu tidak keras untuk mau membagi rezekimu ke siapa saja yang membutuhkan. Tentu, oleh karena kau pernah berada di posisi mereka dulu.

    Tidak apa-apa. Jika Dia mengizinkan, sabarmu ini akan membukakan pintu-pintu rezekimu di lain hari nanti. Mungkin memang bukan rezeki yang banyak, tapi yang pasti itu adalah rezeki-rezeki yang baik.

    Tidak apa-apa. Apapun pekerjaan yang kau miliki, sadar tidak sadar, pekerjaanmu itu adalah jawaban dari doa dirimu sendiri, diri sebelumnya. Pun, pekerjaanmu sekarang adalah buah dari upaya-upayamu sebelumnya.

    Tidak apa-apa. Toh, di luar sana ada banyak sekali manusia yang menginginkan, berusaha dan berdoa, untuk bisa memiliki pekerjaan yang kau miliki. Percayalah.

    Tidak apa-apa. Daya juang bekerja dalam hidup itu pentingnya luar biasa. Tiap kali kau menelan ketidaknyamanan, kau sedang menjadikan dirimu lebih kuat, lebih hebat, lebih bijak, dan dewasa.

    Tidak apa-apa. Segala sesuatu yang dikerjakan sungguh-sungguh selalu akan bermakna besar dan sungguh-sungguh dapat membuat seseorang menjadi besar. Itu benar.

    Tidak apa-apa. Sesekali kau ingin tertawakan semuanya juga boleh, asal bukan hidup yang menertawakanmu lalu bilang, "kau payah!".

    Jangan.

    Continue Reading

    Setiap hari kudengar orang-orang bercerita, tentang ini dan itu. Seru sekali rasanya, sesekali ada rasa ingin punya cerita yang sama. Tapi, mana mungkin. Toh, jalan hidup setiap orang tentu berbeda pula.

    Setiap hari kulihat orang-orang bertemu, berjabat tangan, berangkulan, bergandengan. Tampaknya, seru sekali punya seseorang yang bisa menjadi tempat pulang. Tapi, hanyalah naif bagi mereka yang bahkan sebagian besar waktunya bertalang pada monitor.

    Hari-hariku tidak ada yang begitu istimewa. Semua berjalan biasa saja, sangat biasa. Sampai aku sendiri merasa seperti kejar-kejaran dengan waktu, lalu ditutup dengan malam dan disambut pagi. 

    Siang hingga sore tidak ada yang istimewa. Sama sekali tidak ada. Yang ada hanya lelah dan keinginan untuk tidur. Begitulah dunia, tepatnya duniaku. Dunia di mana seorang anak mengaku sibuk, padahal itu hanya caranya mengelak pada kenyataan.

    Kenyataan besok, lusa, seminggu ke depan, sebulan lagi, hingga bulan berikutnya, yang dijalani dengan biasa saja. Begitu terus sampai nanti bertemu usia baru. Itu pun kalau dimampukan, mudah-mudahan.

    Hanya, aku tak pernah benar-benar menyerah. Atau mungkin itu hanya perasaan sendiri, entahlah. Cita-citaku membumbung tinggi seolah seisi dunia aku yang punya. Pola pikir bertahan pada idealis, tapi tubuh seringkali meronta. Itu pun seringkali diabaikan.

    Jika orang-orang punya cara menghamba pada hidupnya, maka aku hampir seperti mereka sekarang ini. Padahal, dulu najis bukan kepalang. Berkali-kali mencoba ikhtiar, tapi yang ada cuma berantakan. Apa iya setiap orang yang mengaku telah dewasa harus sekali melewati masa-masa begini?
    Continue Reading

    “Karena membahagiakan semua orang adalah mustahil. Maka logikanya, kita punya hak untuk memilih orang yang akan kita bahagiakan" (Tulus via Tumblr @palawija)

    Kurang lebih seminggu lalu itu tepat 1 tahun aku meninggalkan Instagram. Ternyata, waktu setahun itu enggak lama loh. Nggak berasa malahan. Tau-taunya uda mau akhir tahun 2019 aja. Eh Januari 2020 bakal berusia 23 tahun pula. Semoga umurku sampai ya untuk terus berkontemplasi setiap tahunnya. Aamiin.

    Di tulisan ini, aku pengin kontemplasi sedikit tentang setahun yang kulewati tanpa Instagram. Kenapa cuma Instagram sih? Iya, karena menurutku di sana semua orang bebas membagi apa  pun yang dia inginkan. Tentang hidupnya, kegiatannya, apa saja kepada publik, baik yang dikenal maupun tidak dikenal.

    Alasan kuat mengapa aku hengkang (ceilah bahasanya) dari Instagram sejak setahun lalu karena sedang menghadapi masa-masa berat. Emang seberat apa sih? Ya, definisi berat di tiap orang beda-beda ya. Tapi, ini soal keluarga dan yang terberat adalah jati diri.

    Terus selama setahun ini sudah menemukan jati diri? Hmm, belum dikatakan sudah, tapi seenggaknya mulai terarah mau ke mana. Pun yang terpenting, kali ini lebih realistis dan mendewasa (tjakep!).

    Semula, aku pikir kalau meninggalkan Instagram akan membuatku ketinggalan informasi ini dan itu. Ternyata, memang iya! Eh tapi, informasi yang bagaiman dulu nih? Kalau informasi soal kehidupan orang lain sudah jelas aku tidak tau apa-apa lagi. Kalau pun tau, paling secara kebetulan tau dari teman-teman dekat pas lagi ngumpul.

    "Eh si anu tuh sekarang begini ya, begitu ya, tau nggak Riz?"
    "Enggak", jawabku singkat yang kemudian diikuti dengan menyimak cerita teman-teman sambil ngangguk dan ketawa kalau emang ada yang lucu.

    Saking serunya dengar cerita mereka, aku seringkali kehilangan selera buat cerita. Giliran diminta buat cerita, aku bingung mau mulai dari mana. Soalnya, ceritaku ya begitu-begitu aja, shay. Kurasa, mereka juga tidak begitu tertarik mendengarkan. Tidak ada yang terlalu istimewa untuk dibagikan.

    Oh ya, semenjak tidak main Instagram lagi, beberapa teman kuliah, junior kuliah, sampai senior kuliah menghubungiku lewat Whatsapp. Atau pernah juga ada yang telepon dan SMS. Hampir semuanya menanyakan hal serupa.

    "Riz, ke mana aja selama ini? Kok tulisannya uda nggak pernah lagi muncul di story Instagram?"
    "Riz, apa kabar sih? Kangen loh sama tulisan-tulisanmu dan cerita yang sering kau masukkan di story IG. Nggak bikin Writing Project lagi? Bikin dong, mau berkarya nih"
    "Baik-baik aja kan, Riz? Kalau ada apa-apa itu jangan biasain dipendam dan diselesaikan sendirian dong. Dibagi ke kami, siapa tau kami bisa bantu"

    Kurang lebih intinya begitu. Aku dari lubuk hati paling dalam, mau bilang terima kasih sebesar-besarnya buat teman-teman semua yang sudah baik menawarkan diri beserta bantuannya. 

    Tapi aku bukan tidak mau terima bantuan, apalagi untuk cerita secara detil. Aku cuma pengin ngasih kesempatan ke diri sendiri untuk menyelesaikan segala sesuatu dengan mengikuti kata hati. Karena, aku percaya betul kalau kata hati itu tidak pernah mengkhianati.

    Setahun terakhir ini banyak betul hal yang mengubah cara pandangku tentang hidup. Terutama, bagaimana bahagia menjalani hidup dengan versi terbaik diri sendiri. Aku tidak lagi harus memulai dan mengakhiri hari berdasarkan penilaian orang lain.

    Semua penilaian orang lain itu nomor kesekian, meskipun beberapa di antaranya pasti berguna untuk bahan evaluasi diri (kalau memang itu positif). Aku punya kadar bahagia sendiri, walau di depan orang mungkin harus 'pandai-pandai' menyesuaikan peran. Kapan harus jadi sekadar teman, kawan mengobrol, rekan bercanda, seorang pekerja, sebagai anak, dan peran lainnya.

    Jadi orang dewasa itu kadang ribet ya, perannya banyak banget. Tapi kalau bisa mengelola peran, sepertinya semua keribetan itu bakal jadi hal seru dan menantang. Percaya nggak? Aku percaya hehe. Cuma, sekarang aku sendiri lagi belajar untuk hal itu. Terus belajar sih lebih tepatnya. Baca situasi. Semoga dimampukan!

    Terus satu lagi, setahun terakhir ini aku belajar untuk sebisa mungkin tidak mengungkit atau mengingat apa pun yang sudah dilakukan ke orang lain. Karena, aku pernah digituin dan rasanya enggak enak cuy! 

    Ketika kita nggak pernah hitung-hitungan ke orang lain, ternyata orang lain hitung-hitungan ke kita. Nah, giliran dia punya masalah, dia mengungkit semua yang selama ini pernah dikasih ke kita. Bahkan, kita sendiri pun tak pernah meminta itu darinya. Ini bikin bingung.

    Yang lebih sakitnya, dia menyesalkan dirinya sendiri karena sudah meluangkan waktu untuk sekadar mendengar cerita kita pada waktu-waktu sebelumnya. Padahal, itu pun kita tidak pernah minta, melainkan dia menawarkan diri. Bodohnya, kenapa ya waktu itu aku mau cerita ke dia? hahaha skip skip skip!

    Pengalaman itulah yang membuatku seringkali enggan buat cerita, sekalipun dalam hati sangat ingin. Sekarang, kalau pun cerita ke orang lain, itu lebih ke nanya pendapat. Karena aku masih fakir ilmu dan pengalaman, jadi pasti perlu insight dari orang-orang yang usianya lebih tua di atasku. 

    Mereka pasti punya jam terbang dan cara pandang lebih kritis dalam hal mengambil keputusan ini itu. Kerennya, aku bisa menemukan pendapat unik nan berbeda dari mereka. Di sini pula, aku belajar bagaimana membuat proporsi atas hidupku sendiri. Toh, pendapat nggak ada yang salah kan. Semuanya oke, tinggal disesuaikan aja sama kebutuhan diri sendiri.

    Terus, aku sekarang belajar perbanyak mengingat kebaikan apa yang sudah diberikan orang lain. Jadi, kalau tiba-tiba agak kesal nih sama orangnya (biasa kan namanya manusia), ya aku coba ingat-ingat lagi kebaikan orang tersebut. Nanti kan kesalnya rada berkurang tuh, yaudah bakal lupa sendiri deh.

    Aku pun belajar bahwa untuk bahagia itu ternyata enggak sesulit yang dibayangkan. Yang utama, aku perlu berlaku adil pada setiap kejadian, barang sekecil apa pun. Sebab, belajar menerima itu sangat penting.

    Saking pentingnya belajar menerima, masih banyak orang yang gagal dalam menerima ketidaksempurnaan diri sendiri. Itu masih diri sendiri loh, belum mikirin ketidaksempurnaan orang lain. Wah, bisa makin kacau.

    Alhasil, kebanyakan orang merasa hidupnya berat banget. Padahal, pikiran manusia aja yang suka bikin semua jadi berat. Mungkin, aku juga termasuk yang demikian. Makanya, jomblo terus sampai sekarang (ini apaan, enggak nyambung dudul).

    Jadi, kata-kata yang kusematkan di awal tulisan ini mungkin bisa menggambarkan sedikit banyaknya pengalamanku setahun tanpa Instagram. Ke depannya, akan tetap tidak main Instagram sih hehe.

    Kamu nggak perlu jadi siapa-siapa. Kamu cukup perlu bahagia. Semoga segala niat baik dan cita-cita kamu segera terwujud satu persatu ya, Rizka. Kamu sudah keren kok. Keren banget! Terima kasih sudah melangkah sejauh ini. Ayo, lebih kuat lagi.

    (Rizka kepada Rizka)
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Searching

    • ABOUT ME

    Media Sosial

    • Tumblr
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram

    HUBUNGI SAYA DENGAN EMAIL

    Nama

    Email *

    Pesan *

    Pengunjung

    Pict of Me

    Pict of Me

    Catatan Berkarya



    Recent Post

    • Esai Seleksi Beasiswa Karya Salemba Empat
    • Esai Diri (Program Friendship From Indonesia 2017, China - Malaysia)

    Arsip Blog

    • ▼  2022 (1)
      • ▼  Januari (1)
        • Welcome 'Twenty Five', I Am Fine!
    • ►  2021 (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juni (1)
    • ►  2019 (8)
      • ►  Desember (2)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (2)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2017 (21)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (3)
      • ►  Maret (1)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2015 (3)
      • ►  Agustus (3)

    Label

    • Blog Competition
    • Cerita Rizka
    • Diurna Rizka
    • Esai
    • Pendidikan
    • Petualangan
    • Rizka Gusti Anggraini Sitanggang
    • Tulisan
    • Writing Competition
    Instagram LinkedIn

    Created with MRIL BeautyTemplatesDistributed By Rizka Sitanggang

    Back to top