• Home
    • Akademik
    • Diurna Rizka
    • Tulisan
    • _Writing Competition
    • _Blog Competition
    • _Writing Project
    • Petualangan
    I kinda understand now, what growing up gives me.
    Perspective and understanding.
    -Anonymous-

                Beberapa minggu ini bahkan sebenarnya sudah hitungan bulan, pikiran saya mulai sedikit terarahkan (jadi selama ini kemana aja, Neng? Hahaha ngabur duluuu). Entah karena efek terlalu banyak baca buku dan kembali menggalakkan kegiatan wajib membaca buku sebelum tidur malam (meski tetap begadang sampai pagi), atau karena efek usia, atau lebih khawatirnya lagi karena semakin banyak orang-orang yang mulai menggali luka tentang kehidupan saya.
                Lantaran itu juga saya suka tiba-tiba pergi kemana, mungkin ke tempat yang menurut saya bisa menenangkan diri dan berbicara pada diri sendiri. Seperti beberapa hari lalu, saya sempat melakukan kemah sendirian dan kemarin baru saja pergi-pulang naik kereta api sendirian. Hahaha jadi sekarang saya selalu nyaman sendiri begitu? Tidak juga, akan lebih seru kalau dilakukan bersama-sama, dengan Ibu saya dan teman-teman.
                Tapi, kali ini saya enggak ingin cerita tentang kesendirian. Postingan ini real sebagai refleksi dari tulisan-tulisan saya yang secumit-cumit kemudian saya kumpulkan jadi satu disini. Sulit rasanya untuk tidak mengapresiasi pemahaman positif dari setiap perjalanan yang saya lakoni. Saya mengerti bahwa sebenarnya tidak ada yang begitu ingin dirinya berakhir sia-sia. Begitupun saya yang kerap diam-diam memahami bagaimana sebuah proses bekerja.
    Terhitung sejak saya kuliah, omongan-omongan kiri dan kanan membuat saya belajar bahwa orang-orang bukan membutuhkan siapa yang bisa melihat mereka, melainkan siapa yang mampu menjadi pendengar baik. Maka, saya lebih banyak belajar untuk mendengar dengan rasa dan logika. Meski pada poin kesekian, saya bisa saja kalah oleh kenyataan. Tak apa, selama saya masih bisa hidup sebagai manusia yang tidak lupa mengucapkan ‘terima kasih’, ‘maaf’, dan ‘tolong’, tentu menyertakan Allah dalam setiap pilihan adalah yang utama.
                Teman-teman, terima kasih sudah membantu saya dalam banyak hal terutama dalam pembentukan karakter saya sampai sejauh ini. Saya tidak pernah ingin terlalu mengagumi bahkan sampai dikagumi, tapi sedikit memberikan rasa bahagia pada kalian tidak ada salahnya. Oleh karenanya, postingan ini bukan berisi cerita panjang. Layaknya sebuah catatan harian, saya menempatkan kalian sebagai pena dan tintanya. Tanpa pena dan tinta, kertas tidaklah berisi kata-kata.
                Dalam kontemplasi ini, saya turut serius menghaturkan maaf pada diri sendiri karena tidak jarang (mungkin) saya pernah mengecewakan. Tidak memberikan asupan kesehatan yang baik, lupa berkreasi pada hati, dan pernah memaksakan untuk melakukan banyak hal yang sebenarnya diri saya pun ujug-ujugnya sudah minta istirahat.

    ***
    I.                     
    Saya pernah mengalami masa ketika sempat membenci diri sendiri, dengan kebiasaan-kebiasaan yang saya kira tak akan membuat saya maju dan berkembang, terkekang oleh segala aturan dan rutinitas. Ketika zona nyaman menjadi jebakan mematikan, dan saya terjebak disitu. Menikmati apa yang saya dapatkan dan memilih aman. Tapi saya belajar untuk keluar dari zona itu, melawan ego diri. Ternyata, di depan sana begitu banyak jalan dan perjuangan yang bisa saya petik.
    Ketika saya mencoba beberapa kali melepaskan sebuah beban dengan pelarian bersama diri sendiri, saya mengerti bahwa saya sebenarnya rindu. Rindu masa dimana orang-orang merdeka. Bebas melakukan apapun, menjadi diri mereka sendiri tanpa mengikuti arus. Bukankah menjadi jujur kepada diri sendiri lebih baik ? Diri kita langka dan hanya ada satu di muka bumi ini, jadi kenapa kita harus menutupi diri dengan sifat yang lain?

    II.                  
    Bicara soal sesuatu yang dipilah-pilah mana baik dan buruk, jelas itu sesuai kebutuhan masing-masing individu. Begitu berat prosesnya, sampai bisa kehilangan orang-orang terbaik di sekitar. Disinilah sebenarnya kita ditempah sebagai 'pabrik' untuk diri sendiri. Memang benar, ketika kaki sudah berjalan lebih jauh dari biasanya, akan ada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Merantau dalam waktu sebentar atau lama dan sendirian, bukan suatu hal yang gampang. Sewaktu-waktu bisa bertengkar dengan diri sendiri. Tidak ada yang melerai.
    Melepaskan ego dan mematahkan nafsu, merupakan 2 bagian yang sangat lama mengasahnya. Tapi, saya ingat kata Almarhum Bapak dulu, kalau sesuatu dikerjakan secara berkala dan ikhlas selama 3 bulan berturut-turut, Insya Allah itu jadi sebuah kebiasaan. Sama seperti kita terbiasa meletakkan sepatu di rak sepatu selepas kita pakai. Kalau bukan kita biasakan, sulit logika menerima tentang makna menyusun sepatu yang rapi.

    III.                
    Kebanyakan kita seringkali menjadi korban emosional diri sendiri. Menganggap bahwa apa yang kita putuskan adalah yang terbaik, atau bahkan mengira usaha kita sudah diambang batas sehingga hasilnya haruslah sesuai ekspektasi. Padahal untuk menuju hasil baik, kita seringkali melupakan proses menuju kesananya. Maka tak heran, ada banyak orang yang berhasil tapi lupa dengan orang-orang yang membimbingnya saat terpuruk dulu.
    Dari hal-hal kecil itulah yang membuat saya pribadi sangat senang melakukan apresiasi, minimal dengan ucapan terima kasih. Walau sekesal apapun dengan seseorang, usahakan jangan pernah membenci apalagi mendendam. Suatu waktu, kita tak pernah tahu kapan bakal butuh bantuan beliau. Boleh jadi, saat detik-detik susahnya kita, dia malah menjadi penyelamat.
    Seorang kakak angkatan pernah mengatakan bahwa banyak orang yang senang memberi tetapi masih sedikit orang yang senang menerima. Kita mikir kalau menerima itu adalah hal yang gengsi. Padahal, menerima itu membantu orang untuk menuntaskan niat baiknya. Jadi, mulailah terbiasa untuk menerima (satu dari sekian banyak hal yang kita lupakan maknanya). Termasuk juga menerima segala perlakuan orang-orang kepada kita. Bukan bagian kita untuk membalas perbuatan.
    “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Asy-Syuuraa:43)

    IV.               
    Sejak masuk usia kepala dua, tidak sedikit hal-hal di sekitar jadi bekal untuk pemantapan diri. Getir rasanya mengingat diri bukanlah lagi anak "ingusan" belasan tahun. Keluar masuk juga orang-orang, entah itu hanya sekadar kenal-singgah hingga nyaman dan menjadi pengingat. Jujur saja, lucu rasanya kalau ingat dulu aneh-aneh bertingkah di media sosial. "Kemarok" kalau kata orang. Sedikit-sedikit upload, sedikit-sedikit komen, sedikit-sedikit like, padahal belum tentu juga orang suka. Mikir juga sekarang, kira-kira apa yang lagi diketik sekarang ini bermanfaat atau enggak ya? Terkadang ya begitu. Niat kita ingin mengingatkan, nyatanya tidak sedikit orang yang berpikiran malah sebaliknya. Allahualam. Semoga kita senantiasa diberikan cara berpikir yang positif.
    Tak khayal, semangat belajar juga naik-turun seperti air laut. Ini yang sering menjadi catatan. Apalagi kalau semangat belajarnya karena ada motif lain. Katakanlah, sedang jatuh hati atau malah patah hati. Bohong rasanya kalau di kondisi itu bilang, "enggak apa-apa". Meskipun itu manusiawi, tentu punya efek samping. Segala sesuatu yang belum waktunya, akan berdampak tidak baik. Itulah kita selalu butuh orang-orang sebagai pengingat.

    V.                 
    Tentu pernah dari mulut kita keluar kata-kata yang merendahkan orang lain. Kata-kata yang sepertinya berniat baik, padahal tidak. Kata-kata yang sepertinya ingin mengingatkan orang lain, justru terlihat ingin mengangkat diri sendiri dengan menjatuhkan orang lain. Kalau tidak bisa membantu kehidupan orang menjadi lebih mudah, paling tidak kita jangan menjadikannya lebih sulit dengan kata-kata kita.
    Satu diantara sekian banyak pilihan, saya memilih menjadi bagian belakang layar. Begitu banyak orang-orang hebat lahir dan berdiri kokoh karena orang-orang yang berada di belakangnya. Belakang layar bukan berarti orang terbelakang atau terpuruk. Aktualisasi menjadi manusia benar-benar terasa disitu. Melihat orang lain berhasil itu jauh lebih menyenangkan. Meskipun menjadi seperti itu, ya harus melewatkan begitu banyak momentum perubahan teman-teman sebaya-seperjuangan. Itu sebuah bentuk pengorbanan yang cukup menarik.
    Kadang kebahagiaan itu begitu terusik dengan mendengar kabar bahagia orang lain. Mulai membandingkan dengan proses hidup yang sedang dijalani sendiri. Setiap orang tengah berjuang, untuk membangun masa depan lantas kita perlu mengorbankan begitu banyak kesenangan hari ini. Tidak ada kemudahan yang melahirkan orang yang kuat. Begitu hukumnya, kan?

    VI.               
    Bagi saya, gagal adalah sebuah hasil usaha, sedangkan kecewa adalah sebuah rasa. Dari segi akademik, mulai dari karya tulis tidak menjadi juara, mendapat pengumuman tidak lolos application, paper gagal siap, beberapa kali gagal berangkat karena kondisi orang tua, dan sederet hasil ikhtiar yang tidak berbuah manis di penghujung akhirnya. Kecewa? Tentu kecewa sekali.
    Ya, sejalan seringnya gagal ternyata pelajaran terselip tentang keyakinan bahwa kita selalu punya cara sendiri untuk menata hati. Yakin, apa yang sudah Allah beri adalah yang terbaik dibandingkan skenario diri. Hakikatnya Allah itu selalu mengabulkan doa, dengan 3 bentuk jawabannya. Entah diberikan segera, Ia tunda, atau Ia gantikan yang jauh lebih baik menurut-Nya.
    Kecewa itu wajar, sangat manusiawi kehadirannya. Namanya juga perihal hati, enggak bisa dibohongi. Sikap kita menghadapi kecewa yang menjadi poin utamanya disini. Memilih menggerutu sepanjang hari, menyesali ketetapan yang sudah dituliskan-Nya, marah dengan apa yang terjadi, atau terus mencoba menata hati. Bukankah luas nikmat-Nya jauh lebih banyak dari apa yang kita minta?
    Just because you don’t see the good in something doesn’t mean it’s not there. Allah has plan for everything. Something that seems bad at the moment can be the best thing that’s going to happen later on.

    VII.            
    Kita tidak perlu menjelaskan tentang siapa kita dan bagaimana kita. Tentang kita yang (mungkin) baik, bekerja keras, penuh toleransi, bertanggungjawab, dan segala hal yang menurut kita adalah yang terbaik dari diri kita sendiri. Orang lain akan mengenal kita bukan dari penjelasan tersebut, tapi dari apa yang kita lakukan.
    Dan seperti itulah sebenarnya diri kita. Saya mengenal beberapa orang yang cukup “keren” di negeri ini. Bagaimana saya mengenal mereka mungkin berbeda dengan orang-orang yang kenal hanya dari apa yang mereka tampilkan di media sosial. Mengenal mereka dengan lebih detail dan menyeluruh, bukan hanya satu arah seperti kita membaca mereka di media sosialnya.
    Dan bukankah memang seperti itu diri kita? Orang yang “mengenal” kita bisa dihitung jari. Dari segala hal pencapaian kita selama ini, dan mungkin orang lain menganggap kita luar biasa dengan pencapaian organisasi, prestasi, dan segudang hal lainnya. Yang benar-benar mengenal kita hanya sedikit. Dan kita tidak pernah menjelaskan tentang diri kita kepada mereka yang sedikit itu.
    Sebab mereka tidak memerlukan penjelasan apapun, sebab mereka mengenal siapa diri kita dan siapa sebenarnya. Barangkali orang lain diluar sana terkagum-kagum dengan kita, sedangkan mereka tidak. Tak semua orang ingin tahu tentang apa yang kita usahakan, sekeras apa perjuangan kita, dan sepanjang apa doa-doa kita. Sekalinya pun ingin tahu, tidak ada yang benar-benar merasa "ada" pada cerita kita. Maka, diam dan bersabarlah.
    Kita tidak perlu menjelaskan, cukup lakukanlah.

    ***

    Cara kita merendahkan hati menentukan setinggi apa kita menapakkan kaki.  Saat kita melangkahkan kaki keluar rumah dengan niatan yang baik untuk sesama, saya yakin semesta akan memberi balasan yang terbaik untuk kita.


    Medan, 20 Agustus 2017.
    Continue Reading
     
    Tidak ada sesuatu hal yang tidak dititipkan rasa oleh-Nya. Entah itu kecil atau besar, yang pasti tugas kita adalah menafkahi rasa dengan asupan hati seimbang-imbangnya. Jangan sampai, amanah-Nya menjadi alasan kita melakukan sesuatu agar sekadar mendapatkan rasa.

                Aduh, kalimat pembukanya rada ribet ya hehehe. Maklum, penulis blognya lagi ngawur ngidul karena lagi sulit mendeskripsikan isi hati (wehee, kayak beneran aja). Jadi begini (uhuk), entah mengapa saya ingin menuliskan ini sejak lama. Hanya saja, menuliskan bagian ini perlu mood yang cukup baik supaya ngena di hati hehehe. Alhamdulillah, mudah-mudahan bisa jadi pembelajaran bersama.
                Sesuai dengan judulnya, kali ini saya mau ngajak pembaca buat baper hahaha. Enggak sih, bapernya juga enggak sampai gimana-gimana. Ini tentang kisah ‘cemewew’ versi saya di masa dulu. Maklum, namanya juga darah muda darahnya para remaja (leh jadi nyanyi dia mah), tentu pernah mengalami jatuh sampai patah hati terseok-seok. Sampai nangis, sampai ngira Allah itu gak adil, sampai ngerasa kok begini amat ya, sampai usaha banget supaya si dia menerima kita. Dan ternyata, itu semua fiktif. Sebenarnya Allah itu sayang banget makanya digeplak dulu. Bukan digeplak pakai tutup panci, tapi dengan ujian agar kita belajarnya paket komplit.

    Kagum dengan Ketua OSIS.
                Ehe, kalau ingat ini ya Masya Allah lucunya malu-maluin. Ini waktu saya SMP (serius, SMP aja uda begini gimana coba SMA-nya hahaha eiits baca dulu yaak). Pertama kali dalam sejarah akhirnya saya kagum dengan sosok yang satu ini. Semuanya dimulai sejak saya memutuskan bergabung dalam OSIS. Jadilah saat kelas 2 SMA, ada beberapa kandidat calon Ketua OSIS yang akan maju untuk pemilihan umum (pemilu). Selama seminggu sebelum pemilu kami pun menyiapkan bahan materi kampanye. Ada 3 kandidat ketua OSIS pada saat itu. Saya, si ‘dia’, dan satu orang teman saya.
                Bisa dibilang dalam seminggu itu kita kerap diskusi bareng sampai sepulang sekolah juga kita sempatkan untuk bahas dan latihan. Meski dibilang kita bersaing, tetap prinsip sportif diajarkan oleh guru. Jadi, pembina OSIS yaitu guru kami sendiri meminta kami untuk melakukan kampanye secara transparan. Alhamdulillah, materi demi materi telah kita susun. Bahkan kita saling bantu untuk membentuk visi misi masing-masing calon.
                Setelah seminggu berjuang melakukan yang terbaik, tibalah hari dimana kami menyerahkan hak suara kepada teman-teman. Sembari teman-teman menggunakan hak suaranya, kami bertiga dikumpulkan di ruang guru. Iya, supaya menghindari kampanye-kampanye lain hehehe. Berhubung teman saya sedang berbincang dengan guru yang ada di ruangan itu, saya dan si dia pun sesekali bertukar tanya. Lupa sih tepatnya dia nanya apa duluan ke saya lalu akhirnya saya malah nyambung sampai ketawa-ketiwi. Cieee, mulai bersemi nih ? Belum hahaha.
                Singkat cerita, akhirnya si dia yang memenangkan pemilu kala itu. Jujur, saya sempat nangis di belakang sekolah karena teman-teman pada ngelus-ngelus pundak saya jadi kayak berasa sedih banget hahaha. Tapi, sewaktu bel istirahat kedua berbunyi, saya berpapasan dengan si dia saat keluar dari kantin untuk beli minuman dingin. Tanpa ragu, dia memberi senyum kepada saya. Begitupun saya membalasnya. Lalu, saya mengarahkan tangan kanan ke arahnya.
                “Selamat ya atas kemenangan kamu. Semoga amanah jadi Ketua OSIS”.
                “Amin, makasih ya uda banyak bantu aku selama kampanye. Kamu gapapa?,” tanyanya ketika melihat mata saya agak sembab. Emang sih saya nangisnya agak lamaan tanpa suara, tapi ya gitu masih ketara hahaha malu banget ini.
                “Ha aku? Emang kenapa?”, tanya saya lagi masih pura-pura bego.
                “Itu, mata kamu sembab. Kamu kenapa? Abis nangis?”, tanyanya lagi dan kali ini mengarahkan telunjuk ke matanya sendiri.
                “Ha? Mataku? Oh gapapa, tadi pas cuci muka itu kemasukan air jadi rada merah makanya agak bengkak,” jawab saya setengah canggung.
                “Oooh aku pikir kamu nangis. Yaudah, aku ke kantin dulu ya”, balasnya seraya meninggalkan saya dan teman-teman.
    ***
                Karena berdasarkan hasil pemilu suara saya hanya beda 2 poin dengan dia, maka otomatis saya terpilih menjadi Wakil Ketua OSIS 1 dan teman saya menjadi Wakil Ketua OSIS 2. Lantas, bagaimana kami selanjutnya? Alhamdulillah, seminggu kemudian kita langsung dilantik dan siap bertugas selama satu tahun kepengurusan.
                Hari demi hari kita sering barengan, bahkan saya lebih sering diskusi tugas sama Ketua OSIS karena Waketum 2 punya kesibukan lain di organisasi Palang Merah Remaja (PMR). Pernah satu hari, diskusi kita belum kelar sampai jelang maghrib untuk mempersiapkan Gebyar Ekskul –acara paling besar pertama dalam program kerja OSIS selama ini–. Dikerjakan di awal bulan karena persiapannya harus mateng dan konsepnya sedikit berubah, lebih terperinci.
                Alhasil, di suatu sore itu saya bolak-balik ngelihatin jam tangan saya.
                “Riz, uda hampir gelap. Kita udahin aja rapatnya ya, lagian kita cuma rapat berdua begini sampai malam enggak enak juga dilihatin anak-anak ekskul. Disangkain kenapa kan”, katanya sambil melihat-lihat mata anak-anak ekskul drumband yang masih semangat latihan sampai sore.
                “Serius gapapa nih kalau kita udahin rapatnya? Iya sih, soalnya aku naik angkot juga takut ntar kemaleman susah dapat angkot karena pasti bakal penuh. Rumah aku jauh”, kataku sambil nyengir.
                “Kamu gak dijemput?”
                “Enggak”
                “Yaudah, aku temenin sampai nunggu angkot deh di seberang sana kan?”
                “Hah? Gak usahlah. Aku sendirian juga berani kok. Pasti masih rame juga yang nunggu angkot hehehe”
                “Gapapa kali. Lagian rumah aku kan di komplek belakang sekolah”
                “Oh bener nih gapapa?”
                “Iya gapapa. Yaudah yok buruan. Itu berkasnya jangan sampai tinggal”
               
                Ini kali pertama saya jalan sama laki-laki selain Bapak saya. Sejujurnya saya enggak berani, lebih tepatnya malu sih sama orang-orang. Dari dulu Bapak saya selalu tegaskan kalau cukup beliau saja yang jadi laki-laki yang antarjemput saya selama beliau masih sanggup ngejagain saya. Ya, emang jalan dari sekolah ke tempat nunggu angkot agak gelap kalau jelang malam tapi tetap ramai orang lalu lalang.

    ***
                Selepas hari itu, saya selalu nolak kalau dia mau ngantarkan saya lagi. Saya jelaskan alasan penolakan karena orangtua, terlebih amanah Bapak. Jadi, demi memudahkan komunikasi kalau ada keperluan mendadak, kami pun bertukar nomor. Beberapa kali percakapan kita berujung pada candaan kalau urusan OSIS sudah kelar. Saya menanggapinya masih biasa saja, sampai akhirnya dia mulai menanyakan hal-hal seputar keseharian saya. Lagi ngapain, sudah makan apa belum, ingatin saya kalau telat makan nanti sakit, kalau malam jangan begadang, sampai yang lain-lain.
                Sebagai perempuan normal dan labil super standardnya anak SMP hahaha, saya juga merespon balik tapi kalau boleh jujur memang hanya sebatas kagum. Sekadar seru aja gitu ada temen ngobrol dan ketawa-ketiwi. Sampai akhirnyaaaa.. pada suatu hari (ceilah), itu orang ngomong gitulah kan (agak geli ngetik di bagian ini serius). Tapi begonya saya, langsung to do point nolak tanpa mikir panjang.
                “Sorry, aku gak bisa. Gak dikasih sama Bapak, nanti ketahuan Bapak aku bisa kena marah,” kata saya waktu itu yang jujur emang takut banget sama aturan Bapak.
    Kenapa saya bilang bego ?
    Yap, bisa dibilang saya cewek pertama yang nolak dia (mungkin jadi sejarah kaliya buat dia). Karena waktu itu dia sampai meyakinkan gitu kalau sekolah saya bakal baik-baik aja. Tetap saja, hati saya bilang enggak bisa. Padahal, kalau saya mau untuk berpikiran ‘matrek’ ya bisa-bisa aja. Beliau itu cukup dikagumi oleh cewek-cewek di sekolah selain dia emang anak orang kaya, hitam manis, dan tinggi (ya cewek sih biasanya pada suka cowok tinggi ya haha maybe). Hemm, mungkin dia masuk kategori cowok idaman pada masa itu.

    ***
                Suatu hari, saya sampai nanya ke dia, “kamu kenapa bisa suka sama saya ?”.
    Dengan plong dan tanpa berdosanya itu orang, dia bilang, “karena kamu jago main basket dan suka olahraga”.
    PLAK! Gelinyaaa saya setengah mati dengar anak SMP ngomong begitu (a.k.a saya juga masih SMP kaan). Pengen lempar bola basket gitu ke dia, pengen nendang pake jurus apa aja yang saya inget waktu itu, pengen nge-smash itu orang kayak bola bulutangkis, dan pengen teriak bilang gini, “duh kamu ngegemesin ya, pengen ditabok mau ndak ?”.
    But as a normal girl, saya enggak bisa ngelakuin hal konyol di atas. Setomboi-tomboinya diri, saya masih punya hati nurani dan memilih untuk mengutarakan baik-baik. Apalagi waktu itu, kita uda mau beranjak kelas 3 SMP. Sudah tahu etika pasti.
    “Kita kan masih sekolah. Kamu ketua OSIS, aku wakil. Kita dekat dan semua orang di sekolah tahu. Bisalah kita untuk berteman baik aja ya. Aku mau sekolah jauh, cita-citaku tinggi dan banyak lagi pengen aku pelajari. Kasian kali kalau nanti kita ngedate tapi aku malah bawa buku kan hehehe,” balas saya dengan bercanda.
    Jadi, setelah saya tolak, kita malah makin dekat dan sering ngobrol sepulang sekolah di meja OSIS dekat ruang guru. Dan kata-kata saya barusan itu, saya utarakan kira-kira sebulanan setelah penolakan itu hehehe. Mungkin, sebulan adalah waktu tercepat buat orang yang bisa nerima baik-baik kalau orang yang dia suka emang enggak bisa nerima.
    Hebatnya, rasa kagum saya ke dia tetap enggak berubah. Bagi saya, dia itu laki-laki humoris, terkadang konyol, unik, berseni, rendah hati, penyayang (terbukti dengan rajinnya dia jemput Mama-nya pulang kerja di Bank Indonesia, secara emang dia anak paling besar dan Papa-nya sering tugas ke luar kota *tahu banget ya saya hehehe).
    Selain itu, dia itu teman ngobrol yang asik karena enggak pernah kehabisan topik pembicaraan. Dia tidak pernah membuat saya bosan. Teman main basket yang sportif karena dia enggak pernah sekalipun pura-pura untuk kalah dari saya supaya saya suka dan luluh gitu sama dia. Enggak, dia enggak pernah gitu. Ya kalau dia menang ya menang dan saya harus siap nanggung kekalahan. Gitu juga sebaliknya.
    Pernah dia nanya, “kamu main basketnya bagus, kamu emang les basket ya?”
    Saya jawab, “enggak, aku diajarin sama Bapak. Hampir semua olahraga dia bisa, jadi aku enggak perlu repot-repot cari guru olahraga sendiri”
    Dia nanya lagi, “Ka, kamu segitu dekat kali ya sama Papa kamu? Kamu itu anak tunggal, tapi yang kulihat kamu itu enggak manja”
    Jujur sih, saya agak senang dibilang ‘enggak manja’ meski memang nyatanya saya emang enggak pernah manja kebangetan sama orangtua. Kalau minta apa-apa tetap mikirlah dan enggak semua saya minta lantas dituruti.
    “Iya, Bapak itu temen segala hal. Bisa jadi abang juga. Semualah pokoknya. Makanya, waktu kamu nembak aku, yang ada aku langsung ngebayangin wajah Bapak. Kamu tau gak? Sebenarnya aku kagum samamu sejak lama. Bisa aja aku nerima dan mencoba suka samamu terus sekolahku bakal tetap baik-baik aja. Kan yang sekolah aku, yang belajar juga aku. Tapi, aku masih cukup sama kasih sayang Bapak. Jadi, maaf kalau waktu itu kamu marah,” jelas saya.

    ***
    Terus, saya tadi bilang dia itu unik. Iya, dia suka ngoleksi uang receh yang uda lama-lama itu hahaha. Saya hectic banget sama barang langka dan rada jadul. Bahkan, setelah dia tahu kesukaan saya itu, ternyata diam-diam dia minta tolong sama Mama-nya buat ngumpulin uang-uang logam jadul yang ada di kantor. Dan di suatu sore seperti biasa waktu ngobrol di meja OSIS, dia ngeluarin kaleng dan terdengarlah suara ‘krenceng-krenceng’ logam dari dalam kaleng.
    “Buat kamu,” katanya tiba-tiba sambil menyerahkan kaleng itu.
    “Ini apa?,” tanya saya yang masih memandangi kaleng itu.
    “Logam jadul. Aku minta sama Mama dari kantornya. Simpan ya,” katanya.
    Tanpa mikir panjang, saya langsung membuka isi kaleng itu dan menemukan banyak sekali jenis logam jadul disana bahkan beberapa ada uang kertas jadul dari Indonesia dan negara Asia lainnya. Saya inget, waktu itu saya benar-benar senang sekali sampai saya melontarkan kata-kata yang mungkin rada nyeleneh.
    “Kaleng ini bakal aku simpan, aku jaga. Meski nanti kita bakal pisah jauh, aku tetap jaga. Meski aku sampai kapanpun enggak bisa nerima kamu untuk lebih dari sekedar temen, percaya kalau kaleng ini bakal aku jaga. Lain kali, kamu enggak perlu minta tolong sama Mama, karena bakal lebih seru kalau kita nyari uang-uang jadul itu bareng-bareng. Jadi kalau kondisinya gitu, hemm kayaknya boleh deh aku kasih kamu kesempatan buat jadi pacar aku, ya hitung-hitung sehari kan cukup ya? hehehe”
    Nyaris. Nyaris aku ketawa terbahak selepas ngomong gitu. Dia yang kaget dengar saya ngomong gitu, langsung pasang wajah melongo. Cepat-cepat saya gelengkan kepala dan minta maaf sambil masih terkekeh sendiri.
    “Bercandamu itu kadang buat aku spot jantung, Ka,” katanya.
    “Hahahaha maafloooh. Kamu tetep jadi teman baik aku sampai kapanpun. Makasih banyak ya. Semoga nanti pacarmu enggak konyol kayak aku hahaha”
    “Iyaa aku tau kok. Makasih banyak uda jadi temanku ya, Ka. Mudah-mudahan pacarku memang jangan kayak kamu, Ka. Enggaklah, gak mau lagi ditolak hahaha,” balasnya sambil tertawa juga.

    ***
    Saya tahu, dia itu anak baik-baik bahkan sampai sekarang (setelah beberapa kali kita sempat ngobrol lagi lewat DM Instagram karena saya duluan yang negur untuk nanya kabar dan waktu itu saya menuruti permintaannya untuk follback hehe). Saya juga tahu, masa SMP memang masih terlalu dini untuk ngomongin soal kagum-kaguman, tapi dia ngasih saya kesempatan pertama kali untuk memilih antara ego sendiri atau hal yang lebih baik di depan sana.
    Lagi, saya tahu kalau sekarang dia ternyata memilih sendiri sampai tiba waktu yang tepat dengan terus semangat berkarir (iya, dia sempat curhat dengan saya di DM). Saya bangga, saya kagum, dan akan terus kagum dengan orang-orang yang berproses. Seengaknya teman berproses saya juga makin nambah hehehe. Asik kan ya kalau positifnya rame-rame gitu. Lalu, saya pun turut mendoakan supaya dia segera menemukan sosok yang tepat dan bisa menerimanya lebih dari sekedar temen. Bukan malah menolaknya mentah-mentah macem saya dulu hahaha.
    Begitupun, kaleng logam jadul akan jadi kenangan masa SMP yang akan saya ceritakan kelak ke generasi berikutnya tentang rasa ikhlas. Bahkan bakal saya ceritain juga kok nanti sama Babang (hehe) yang akan dampingi dan menempatkan hati di satu-satunya podium terbaik sebagai lelaki hebat setelah Almarhum Bapak saya, Insya Allah selamanya.
    Buat apa?
    Iya, supaya kita sama-sama tahu kalau ternyata ada orang yang pernah kita ikhlaskan untuk seseorang yang memang diridhoi-Nya. Jadi kita enggak perlu menutupi masa lalu. Karena tanpa mereka, kita enggak akan belajar untuk melompat lebih tinggi dan ketemu sama yang benar-benar pasti (sampai sekarang, saya juga belum nemu hahaha).

    ***     
    Tapi emang benerlah, ngejagain satu anak perempuan itu lebih ribet ketimbang ngejagain 100 ekor sapi atau lebih. Gitulah istilahnya. Nah, kalau dipikir-pikir lagi nih sekarang, emang waktu itu ada bagusnya juga saya enggak nerima dia. Bukan sombong sih ya, apalagi sok jual mahal juga (emang saya uda gimana banget sampai harus gitu hahaha dekil begini ya ampun). Tapi percaya sama kata-kata orangtua itu Insya Allah enggak akan buat kita terjerumus ke hal-hal yang enggak baik kok. Walau sulit diterima karena faktor usia yang pengen bebas dan lasak kemana-mana, it’s okay enggak jadi masalah. Asalkan, tetap patuh sama orangtua. Sebandel apapun kita, kalau masih ada rasa takut sama Bapak-Ibu, saya yakin itu orang bakal jadi orang bertanggungjawab sesuai porsinya.
    Ya meski pada akhirnya sampai sekarang saya tetap ngejomblo (at least 20 tahun lebih 7 bulan coyy hahaha), Alhamdulillah, saya belum pernah pacaran. Ya meskipun terakhir di masa SMA pernah dekat dengan seseorang (sampai orangtua saya juga tahu karena anaknya nekad datang ke rumah dengan modus minjem buku catatan saya hahaha), tentu sama halnya dengan cerita ini. Ujung-ujungnya saya nolak kalau untuk status kekinian itu hehe. Sampai teman-teman saya di kampus bilangin saya jomblonya parah banget. Sampai dikira saya ini enggak normal (astaghfirullah) dan sampai disangka saya ini uda mati rasa hahaha. Duh, jauh-jauhin yaaa dari dua prasangka itu.
    Hemm saya cuma belum menemukan. Kalaupun ada, saya juga belum tahu siapa orangnya. Entah dekat atau jauh, entah teman lama atau kenalan baru, entah cepat atau lambat bakal ketemu, entahlah siapa hahaha.
    Saya yakin, kalau kita menjaga tentu seseorang dimanapun ia berada juga tengah melakukan hal yang sama. Tinggal lagi, belum waktunya dipertemukan. Meski belum saya temukan jawabannya dan membuktikan filosofi itu bener atau enggak, saya tetap berusaha mengikuti kata hati.
    Seperti kata seorang sahabat lama saya yang sudah lama sekali tidak kontakan dan terkadang rindu juga untuk mengobrol tentang mimpi sekolah bareng ke Jerman. Ia mengatakan, “apapun kondisimu dan dimanapun posisimu, tetap selalu ikuti kata hatimu karena ia takkan pernah berbohong”.
    Semoga sahabat saya tetap sehat dan suatu saat bisa bertemu.

    ***
                  Tentang rasa, akan ada masa dimana kita belajar ikhlas dan tidak memaksakan ego sendiri. Tentang rasa, harusnya memang patut disyukuri karena tandanya kita normal dan satu dari sekian banyak nikmat-Nya adalah dengan ditanamkannya rasa itu kepada kita. Jadi, kita enggak seharusnya merasa sedih karena ditolak. Kita juga enggak semestinya menunggu sampai orang tersebut membuka hati dan menerima kita di kemudian hari, eh tahu-tahunya dia enggak sama kita hehe. Dan kita tak sepatutnya menganggap bahwa rasa mesti selalu diwujudkan dengan ‘ikatan tak resmi sebelum waktunya’. Kalau sudah yakin dan siap, kenapa harus menunda niat baik ? Tapi, menyegerakan itu bukan harus terburu-buru loh.
                Ya, dari cerita saya ini semoga kita bisa sama-sama belajar.
                Enggak jauh-jauhlah pasti kita semua pengennya menjadi pribadi lebih baik. Intinya, jangan malu untuk memperbaiki diri sekalipun itu bakal kena ledek temen-temen dekat. Toh sebenar-benarnya teman itu akan selalu mengingatkan bukan malah mendukung yang jelas-jelas ada larangannya. Saya juga tengah belajar kok. Sembari belajar juga berdoa supaya dipertemukan dengan yang sevisi-misi. Inginnya bisa lanjut sekolah sama-sama, memulai sama-sama, membangun sama-sama hingga mengangkasa bersama. Tentunya, tetap memegang prinsip ‘kesederhanaan’.
     
    ***
                Buat teman-teman, jangan bingung apalagi sampai keliwehan galau karena kagum sama seseorang. Lantas ingin memiliki ? No no no! Itu hanya perasaan sesaat. Ikhlaskan saja ketika rasa itu hadir, kemudian tingkatkan kualitas diri. Mudah-mudahan bakal diarahkan tuh rasanya ke arah yang lebih baik. Ibarat kompas kan ya hehehe. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Kurang lebih seperti itu.

    Medan, 05 Agustus 2017
    Diurna Rizka.
    Continue Reading


    Bagaimana bisa kita dengan jelas melihat seseorang kalau ia tak ada bedanya dengan orang yang lalu lalang ?
    “Bukankah melelahkan jika selalu ikut tren, apalagi hanya agar dianggap keren”
    (Najwa Shihab)

                Tulisan ini saya buka dengan kalimat penguat dari seorang jurnalis perempuan Indonesia yang tidak diragukan lagi kiprahnya di dunia jurnalis. Mengingat kata-katanya itu, saya pun merasakan sedikit demi sedikit. Benar juga ya, pekik saya dalam hati. 
                Terjun benar-benar dalam kehidupan seorang pewarta berita bukanlah main-main. Ini bukan soal keren-kerenan. Ya, ini yang akan saya ceritakan sedikit dalam tulisan ini. Pengalaman menjadi seorang jurnalis profesional sesuai kode etik jurnalistik dan bekerja atas dasar hati nurani, tentunya. Meski ini bukan hal baru, akan berbeda rasanya. Sebelumnya, saya sudah berkecimpung di bidang jurnalistik sejak SMA. Saat ini, selain bergabung di dua organisasi kampus yang sama-sama mendorong saya untuk produktif menulis dan liputan lapangan, saya juga mengisi waktu usai kuliah dengan menjadi kontributor di beberapa media cetak dan online. Buat nambah uang kuliah, tak apa ye hehe.
                Saat ini saya memasuki masa Praktik Kerja Lapangan (PKL) atau bisa disebut magang. Untuk disiplin ilmu lain ada yang menamakannya dengan sebutan Program Pengalaman Lapangan (PPL) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Itu semua berbeda tergantung program studi yang ditekuni.

    Memilih tempat PKL
                Saya dan dua orang teman sudah membicarakan soal bakal dimana kami akan menghabiskan 1-3 bulan menyelesaikan 3 SKS untuk mata kuliah PKL, sejak Maret 2017. Kami mulai dari tanya-tanya dengan senior.
                “Kak / bang, PKL dimana?”
                “Kemaren kakak/abang PKL disitu gimana pengalamannya?”
    “Rekomen nggak kira-kira kalau kami PKL di tempat kakak/abang waktu itu?”

                Hingga dari beberapa senior yang kami tanyai, keinginan kami pun mulai berlabuh pada sebuah surat kabar di Ibukota Jakarta. Dari tiga orang dalam satu tim ini, saya ditugaskan untuk mengumpulkan berkas-berkas semua anggota tim. Mulai dari Curriculum Vitae (CV), Surat Lamaran PKL, dan Surat Rekomendasi dari kampus. Kemudian, saya diarahkan oleh seorang senior untuk menghubungi bagian HRD dari media tujuan kami. Saya pun mengirimkan keseluruhan berkas ke email HRD.
                Selama hampir 3 bulan, kami tidak mendapatkan kepastian akan diterima di media tersebut, meskipun email pertama saya dibalas.
                Akan saya kabari lagi setelah bagian redaksi mengkonfirmasi.
                Begitulah balasan email dari HRD.
    ***
                Pikir pikir lagi, bukan saya tidak sabar menunggu, hanya saja persiapan untuk segala keperluan PKL harus saya pikirkan. Tapi dari semua itu, kondisi kesehatan Ibu saya yang sering naik turun jadi alasan paling penting. Berat hati untuk meninggalkan beliau dalam jangka waktu 1-3 bulan.



    Kalau saya PKL di Medan, saya masih bisa bantu Mamak walau gak banyak. Tak apalah PKL disini, nanti Insya Allah selesai PKL dan kondisi Mamak membaik, saya bisa izin merantau jauh, pikir saya dalam hati.
    Alhasil, dengan ikhlas saya mengundurkan diri dari media tersebut dan mencari alternatif secepat mungkin. Sedangkan, dua teman saya tetap menunggu panggilan.
    Tabarakallah, ternyata Allah menjawab doa saya. Di tengah penantian itu, seorang tetangga saya menawarkan posisi magang bagian redaksi di media tempat ia bekerja. Ya, media tersebut bernama Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA.
                Takjub saya ketika mendengar kata “ANTARA”. Jika kita telusuri sejarah perkembangan media dan informasi di negeri ini, maka akan kita temukan ANTARA sebagai lembaga berita terbesar di Indonesia dan usianya lebih tua daripada Kemerdekaan Republik Indonesia. Didirikan pada 13 Desember 1937 oleh A.M Sipahoetar, Mr. Soemanang, Adam Malik, dan Pandoe Kartawigoena.
                Setelah saya pertimbangkan kembali, maka bulatlah tekad saya mendaratkan surat lamaran PKL untuk menimba ilmu selama 1 bulan lebih di Kantor Berita ANTARA Provinsi Sumatera Utara. Meski bukan di ANTARA Pusat, tentu binaan yang ditempah akan tetap sama. Intinya, jurnalis itu harus punya idealis yang tinggi sesuai dengan kode etik jurnalistik. Sebab, tugasnya bukan semata untuk perut sendiri, melainkan untuk masyarakat dan negara.

    Day 1 (Hari Pertama)
                Tanggal 17 Juli 2017, saya dan dua orang teman (Muna Fadhiah dan Novita Arum) memulai hari pertama masa PKL di LKBN ANTARA Sumut. Mereka berdua saya ajak untuk bergabung.
                Hari pertama berjalan lancar. Kami datang  pukul 09.30 WIB sesuai dengan aturan jam masuk kantor dan mengenakan pakaian bebas rapi (kelebihan disini anak magangnya tidak mesti pakai putih hitam dan almamater).
    Sekitar 30 menit menunggu, datanglah seorang wartawan ANTARA bernama Munawar. Ya, Pak Munawar kemudian bercerita panjang lebar tentang pengalamannya menjadi seorang wartawan. Pahit getir asam manis pedas, semua rasa telah ia guyur. Beliau ditugaskan khusus meliput terkait peristiwa-peristiwa kriminal dan kasus-kasus yang diungkap oleh POLDA dan Pengadilan. Luar biasa, dalam hati saya.
    Tak lama lagi, kami berkenalan dengan seorang wartawan foto bernama Septianda. Beliau ini sudah melalang buana dengan hobi fotonya.
    Dan kemudian kami juga berkenalan dengan Pak Akung (pemimpin redaksi), Pak Juraidi (redaktur), Pak Irwan Arfa (wartawan), Eva Siregar (wartawan), Bu Endang (administrasi), dan Pak Tengku Amri (administrasi).
    Hal pertama yang saya temukan disini adalah ramah tamah dan kekeluargaan.
    Semua saling tegur sapa, lempar senyum dan tawa, serta menasihati layaknya orang tua kami. Saya berdoa semoga tempat ini akan menjadi rumah tempat saya pulang sejauh dan sekeras apapun saya bertempur di lapangan.
    Hari pertama belum ada tugas dikarenakan kami harus menunggu Bapak Suparmono (Kepala Biro ANTARA Sumut) untuk mendapatkan amanah tugas selama berstatus magang. Namun, kami tidak bertemu karena beliau sedang ada acara di Kabupaten Langkat dan akan pulang malam hari. Karena itu, Pak Amri meminta kami untuk kembali lagi esok hari.

    Day 2 (Hari Kedua)
                Selasa, 18 Juli 2017, pukul 10.00 WIB.
                Akhirnya, kami bertemu dengan Kabiro. Boleh dikatakan, usia beliau sudah seperti kakek saya. Tapi tidak menutupi tangguhnya beliau terlihat dari caranya berbicara.
                “Selamat datang di ANTARA, adik-adik. Seharusnya kalian ini anak-anak saya karena anak kandung saya pun seusia kalian”, kata beliau.
                Hari ini masih berisi wejangan dan berbagi pengalaman. Jadi, selama sebulan ke depan kami akan ditugaskan untuk meliput Program Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dibawah binaan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan.
                Siap tempur apapun kondisinya dan dilempar kemana saja, pesan yang saya ambil dari perkataan Pak Suparmono.
     
     
    Day 3 (Hari Ketiga)
                Hari pertama liputan ini sebenarnya masih meraba bagaimana alur bekerja di media ini. Alhasil, kami yang datang memang lebih pagi daripada wartawan dan pegawai kantor lainnya, memilih untuk membaca koran pagi. Surat kabar yang bertumpuk di meja rapat utama berasal dari media-media yang berlangganan berita dengan ANTARA. Hampir semua media di Sumut menjadi pelanggan berita disini.
                Tak lama kami menunggu di ruang tamu, Pak Suparmono datang dan berekspresi kaget melihat kami.
                “Loh apalagi ? Kenapa tidak turun ke lapangan ?”, tanya beliau.
                “Kami menunggu arahan, Pak. Meliput UMKM yang bekerjasama dengan Diskop ada datanya sama Bu Endang”, jawab saya memberanikan diri.
                “Yah, cemananya kalian ini? Kalau masih Kabiro juga yang mengarahkan kalian, kecil sekali lah. Inisiatif. Kan kemaren kata Kak Eva ada Pameran UMKM di PRSU. Apalagi yang kalian bilang tidak tahu mau meliput apa?”, kata beliau lagi.
                Wah, sungguh itu kata-kata ringan yang menusuk bagi saya. Tanpa berpikir panjang, apalagi memikirkan Surat Tugas Liputan, saya akhirnya berdiri.
                “Pak, saya gerak ke lapangan dulu”, kata saya yang selepas kemudian meninggalkan dua teman saya di belakang.
                Mereka mengikuti langkah saya ke luar kantor dan kami berunding beberapa menit.
                “Ka, aku enggak bawa motor hari ini. Arum juga enggak ada motor”, kata Dea.
                “Naik grabcar aja kita yok. Liputan ke PRSU kan kita?”, tambah Dea.
                *(PRSU = Pekan Raya Sumatera Utara)

                Saya mengangguk cepat dan Dea bertugas memesan GoCar.
    Yang penting liputan tentang UMKM. Udah titik, gak usah banyak tingkah, pekik saya dalam hati dengan emosi tak karuan. Saya hanya tidak ingin dinilai ‘malas’ dan kurang tanggap dalam bertugas. Tapi, ini pelajaran buat saya. Besok harus bisa cepat pelajari situasi kondisi dan alur bekerja disini.
                Setibanya di PRSU, ternyata bukan pameran seperti yang digambarkan oleh Kabiro di kantor tadi. Melainkan memang sudah ada gedung Pusat Promosi dan UMKM yang baru didirikan Pemprovsu untuk para pelaku UMKM.
     
     
                Pukul 11.00 WIB kami mulai menunggu keramaian di gedung tersebut. Namun, tidak berhasil banyak karena memang sepi sekali. Bahkan, pelaku UMKM yang menjaga stan produk disitu pun hanya satu orang. Terlihat juga masih banyak bagian-bagian gedung yang sedang direnovasi.
                “Udalah, daripada tidak ada berita sama sekali. Mending kita liput aja ini”, kata saya sambil menunjuk sebuah stan produk lokal dari Batok Kelapa.
                Ada seorang Ibu, Suami, dan anaknya yang menggantungkan beberapa pajangan produk.
    “Permisi, Bu. Perkenalkan, nama saya Rizka, ini Dea dan Arum. Kami anak magang dari Kantor Berita ANTARA Sumut. Ingin meliput produk Ibu. Boleh kami ganggu waktunya sebentar, Bu?”, tanya saya dengan hati-hati.
    Respon baik oleh si Ibu bernama Erlinda tersebut. Kami pun mulai wawancara.
    Habislah sekitar 1 jam bercengkrama ramah dan ditutup dengan dokumentasi.
    Saat Dea mewawancarai Ibu Erlinda (40), pengusaha UMKM Coco n' Art
    Saya pun membeli sebuah celengan dari batok dan serat kelapa produk Ibu Erlinda sebagai bentuk apresiasi waktu yang telah diberikan.
    Kami pulang ke kantor menggunakan fasilitas transportasi umum, Bus Damri.
    Sangking kesenangannya, saya pun sibuk mengabadikan momen ketika naik bus. Maklum, keseharian saya naik motor kemana-mana. Terakhir naik angkutan umum pun waktu masih sekolah hehehe. Efek mungkin rumah jauh dari kota dan sulit mendapatkan angkutan umum dari rumah, maka alternatif cepatnya adalah dengan sepeda motor. Hemat uang bensin juga.
     

    Sekitar pukul 3 sore, kami tiba di kantor.
    Setibanya, kami melihat Kabiro duduk di ruang rapat utama dan kami memutuskan segera naik ke ruang redaksi di lantai 2.
                Pak Munawar pun tiba di kantor tidak lama setelah kami mengetik beberapa kalimat berita. “Yak, apa berita kalian hari ini?”, tanya beliau dengan nada besar.
                Singkatnya, Pak Munawar membantu kami dan menjelaskan beberapa SOP disini.
                “Jangan karena suara saya keras jadi kalian tersinggung dan takut. Enggak, saya enggak marah. Ini memang suara saya begini. Buat kalian juganya ini, bukan buat saya. Makanya, kerjalah dengan ikhlas. Karena jurnalis ini kan uangnya tak banyak. Tapi memang kepuasan batinnya dapat, jika kalian lakukan dengan hati”, jelas Pak Munawar.
                Setelah ditatar habis-habisan dengan beliau, kami pun mengerti ternyata pekerjaan ini tidak sembarangan. Kebenaran harus tetap dikuak dan diluar sana kebenaran tengah dinanti untuk terus diinformasikan.
                Hari ini, saya mendapatkan pelajaran :
    1.      Berani, tanggap, dan inisiatif di lapangan.
    2.      Siap mental kalau wartawan senior ngomong pakai nada tinggi. Itu tandanya mereka sedang membagikan ilmunya. Telan sampai kenyang!
    3.      Tetap gembira dilempar kemana saja dan apapun kondisinya. Dilarang keras mengeluh!
    4.      Tak ada yang langsung hebat, semuanya dari bawah dulu. Belajar hidup susah, karena belajar senang itu gampang.
    5.      Tetaplah rendah hati. Kita gini mau sombong, memang kita ini siapa? Bukan siapa-siapa!
    6.      Kalau ada yang memilih terjun di dunia ini agar terlihat keren, sungguh saya tidak membenarkan hal demikian. Sebab, pekerjaan ini tidak main-main dan bukan semata keren-kerenan.

    Selain itu, hari ini kami pun resmi mendapatkan Surat Tugas dan pembagian katalog produk UMKM yang akan kami liput beberapa hari kedepan.

    Day 4 (Hari Keempat)
                Datang pukul 09.30 WIB. Buka kantor dan baca koran. Laporan ke Kabiro, turun ke lapangan, balik ke kantor, menulis berita, kirim ke redaktur, dan pulang ke rumah.
                Hari keempat saya sudah menemukan alur bekerja disini. Kurang lebih seperti yang saya jelaskan di atas. Ya, meski masih baru, tapi disini dibina untuk berpikir cepat dan mengolah pikiran sebaik mungkin. Karena kalau lambat sedikit saja, kita bisa ketinggalan.
                “Pak, berita kami sudah naik semalam, Pak”, lapor saya kepada Kabiro.
                “Ohiya? Bagus itu. Mantap kan sudah naik ke portal. Bisa jadi kalau berita kalian bagus, bisa naik ke nasional. Lumayan kan nilai tambah. Nanti akan saya baca beritanya”, jawab Pak Suparmono.
                “Apa berita kalian hari ini?”, tanya Pak Suparmono.
                “Saya akan meliput Rehani Collection di Jalan Tuasan Krakatau, Pak”, jawab saya.
                “Saya dengan Arum belum dapat, Pak. Karena narasumber yang mau kami wawancarai sedang tidak bisa”, jawab Dea.
                Tanpa menunggu lama, pukul 10.30 WIB saya pun bergerak menuju lokasi dikarenakan sudah melakukan janji dengan narasumber, Bu Rehani.  Saya pun pamit dengan Kabiro dan dua teman saya.
     
     
                Ternyata sepulang saya liputan, dua teman saya bercerita bahwa mereka mendapatkan tugas liputan ke Pasar Sambu. Liputan tentang ‘monza’ (pakaian bekas dari luar negeri). Wah, keren sekali. Cukup menantang.
                Di hari keempat ini, berita kami tidak lagi diperbaiki banyak oleh Pak Munawar. Paling masih dibantu untuk membuat judul berita yang menarik. Ya, Pak Munawar tetap seperti biasanya memberikan wejangan di sela-sela waktu sore itu.
                Pelajaran yang saya dapat memang sederhana. Hanya nasihat, tapi itu sangat berarti.
               
    “Simpan beritamu itu bukan di hape canggihmu, tapi di bukumu. Catat di buku kecil dan rekam situasinya di kepalamu. Kalau mengandalkan hape canggihmu, apa bedanya kau sama yang lain itu? Jadi, nanti biar kau yang pintar, bukan hapemu. Lima tahun lagi pasti kau rasakan manfaat dari yang kubilang ini”

    “Kalau pun mau kau todong narasumber itu, etikamu tunjukkan yang manusiawi. Jangan pula kau berkacak pinggang. Bukan hebat kau macem gitu. Gak dihargai orang kau nanti. Kita harus tetap jaga sopan santun”

    Day 5 (Hari Kelima)
                Hari kelima tetap hadir ke kantor, baca koran, dan laporan ke Kabiro tentang hasil berita kemarin. Alhamdulillah, berita saya sudah naik 3. Meski masih sangatlah sedikit, tapi itu memompa semangat saya untuk terus produktif. Silahkan dibaca hehehe.

    http://antarasumut.com/berita/167502/kerajinan-batok-tembus-pasar-tiongkok 
    http://antarasumut.com/berita/167534/pelaku-umkm-harapkan-kurikukum-di-sekolah
    http://antarasumut.com/berita/167535/malaysia-minati-batik-tenun-sumut

                Namun, kami yang masih canggung dan segan untuk memulai pembicaraan karena takut terkesan mengganggu, alhasil kami bungkam pagi itu. Tenggelam dalam berita surat kabar yang kami baca
                Tiba-tiba, Pak Munawar membuka dengan sentakan sapaan yang cukup kuat.
                “Yah! Kok diam-diaman kalian ini? Sudah laporan ke Kabiro tentang berita kalian kemarin? Waaah, kalau saya-saya juga nanti yang ngomong duluan tentang kalian, kapan kalian beraninya. Ngomonglah, bilang sama Kabiro”, kata Pak Munawar di depan Kabiro.
                Saya, Dea, dan Arum mulai pandang-pandangan. Siapa duluan yang ngomong?, begitulah arti dari isyarat mata kami.
                Akhirnya, Dea mulai bicara.
                “Hari ini saya mau meliput di sekitaran Lapangan Merdeka Medan, Pak”, kata Dea.
                “Kalau saya hari ini ke Ringroad, Pak”, tambah saya.
                “Saya hari ini ke daerah Danau Siombak, Pak”, tambah Arum lagi.
                Tepat pukul 11.00 WIB, saya pun izin duluan karena sudah janji dengan narasumber, Bu Lidya Panggabean seorang pengusaha muda.
                Cobaan di hari kelima ini adalah ketika tiba di Ringroad dan ternyata narasumber saya sudah pindah rumah sejak bulan 4 lalu ke daerah Jalan Bilal Ujung No.169, Brayan.
                Usai membaca pesan dari narasumber, saya langsung menelan ludah. Siang itu pukul setengah 12 siang. Sebentar lagi terik matahari akan bergerak tepat di atas kepala saya.
                Luar biasa. Dari ringroad ke brayan bisa makan waktu hampir 1 jam. Belum lagi saya harus cari rumahnya”, kata saya dalam hati.
                Baju saya mulai basah, keringat saya bergumul di dalam jilbab yang ketutup dengan helm, dan kulit tangan saya terasa terbakar karena saya lupa pakai sarung tangan. Tak apa, semua pasti terlewati. Dan saya menggunakan bantuan peta elektronik (Google Map) untuk menuju lokasi. Pukul 12.30 WIB saya tiba di rumah Bu Lidya dengan kondisi kehausan hehehe. Untunglah saya bawa minum dari rumah. Sembari menunggu Bu Lidya di ruang tamunya, saya meneguk setengah botol air minum.
    ***
                Hari ini, saya kembali ke kantor agak lama. Karena saya harus ke kampus siang itu setelah saya mendapatkan pesan dari Kak Maya (administrator jurusan) via Whatsapp.
    Dek Rizka, ada undangan dari DAAI TV untuk Rizka, begitu isi pesannya.
    Ya, saya ke kampus untuk mengambil undangan dari sebuah stasiun televisi swasta lokal di Medan. Dalam rangka ulang tahun media tersebut, Alhamdulillah saya diundang hadir. Jadi, undangannya langsung diantar ke jurusan.
    Rasa rindu saya dengan kampus pun mendorong kuat keinginan saya mampir sebentar kesana. Tak terasa, sudah 3 tahun saya menimba ilmu di kampus tercinta. Biasanya setiap ke kampus, wajah teman-teman selalu menyapa mulai dari di parkiran sepeda motor sampai menuju kelas. Tapi siang itu tidak seperti biasanya. Teman-teman juga sedang berjuang di tempat PKL masing-masing. Alhasil, saya langsung ke Departemen Komunikasi dan bertemu dengan Kak Emilia, dosen sekaligus Sekretaris Departemen terpilih baru-baru ini.
    Tanpa segan, saya pun minta izin untuk makan siang di ruangan Departemen. Sudah seperti rumah bagi saya. Sambil menikmati nasi bungkus dengan lauk ayam semur sebagai menu makan siang, saya pun berbincang dengan Kak Emil. Ya, suatu nikmat yang tak pernah membuat saya menyesal ada disini adalah kekeluargaan. Beda sekali cara mereka mendidik kami. Layaknya kakak dan adik, bukan seperti guru dan murid. Asal tetap sopan dan tahu batasan.
    Usai sholat Dzuhur di mushollah kampus, saya pun membantu pengumpulan jurnal senior karena kebetulan saya diamanahkan menjadi Pengurus Jurnal Flow Komunikasi. Jadi, mahasiswa yang sudah wisuda dan ingin mengambil ijazah harus mengumpulkan jurnal terlebih dahulu sebagai syaratnya.
                Jam setengah 4 sore, saya kembali ke kantor. Dea, Arum, Pak Munawar, dan Pak Juraidi, sudah di ruang redaksi dengan raut wajah serius menulis berita. Saya memelankan langkah kaki agar tak mengganggu konsentrasi mereka dan langsung mengeluarkan laptop.
                Tak lama kemudian, Pak Irwan datang dan duduk selisih satu meja dari depan saya.
                “Apa berita kalian hari ini?”, tanya beliau.
                Kami bergantian menjawab.
                “Sudah selesai beritanya? Kalau sudah, kirimkan ke email saya. Saya mau periksa berita kalian”, tambahnya.
                Debar jantung saya ketika mengklik ‘Send’ pada kotak pesan baru di email.
                Alhamdulillah, respon Pak Irwan sangat baik. Beliau pun mulai memperbaiki bagian-bagian yang kurang pas.
                “Tulisan kalian ini sudah bagus sekali untuk taraf pemula. Pastikan di alinea 1,2, dan 3 sudah menjawab pertanyaan 5W dalam ketentuan menulis berita. Sudah, sudah mantap ini. Teruskan ya. Belajar terus untuk menambah kosakata agar tulisanmu lebih luwes”, kata Pak Irwan.
                Kalau katanya pujian bisa membuat seseorang melambung dan berbunga-bunga, tapi tidak dengan pujian ini. Saya tidak merasa ingin terbang usai mendengar kata-kata Pak Irwan. Justru, saya semakin terpompa lebih semangat. Pujian justru membuat saya harus lebih bertanggungjawab pada apa yang saya liput dan tulis. Ah, semoga semangat ini tidak luntur bahkan terus meningkat sampai seterusnya.
                Terima kasih, Pak Irwan. Saya sangat mengapresiasi cara Bapak mendidik kami.
            Berikut di bawah ini adalah hasil liputan hari kelima. Di berita kali ini, saya tandem dengan Pak Irwan. “Saya ambil beritamu ya”, katanya.
                Sebenarnya saya tak paham maksudnya apa hahaha. Selama itu baik, tak masalah menurut saya. Tapi melihat ekspresi wajah saya bingung setelah mendengar kata Pak Irwan, langsung Kak Eva angkat suara.
    “Kalau tulisanmu bagus dan nilai beritanya luas, bisa naik jadi berita nasional di antaranews.com”, katanya.
    Oooh begitu toh, jawab saya dalam hati yang kemudian hanya bisa terealisasi dengan anggukan kepala. Belum cukup berani saya bersuara banyak.
    http://www.antarasumut.com/berita/167570/produk-fashion-ukm-medan-diminati-internasional

                Ya, sebelum saya tutup cerita #PKLSeries Day 1-Day 5 berhubung Sabtu tidak masuk kantor (hasek, gaya bangetlah cara ngomong Rizka ini. Sok berasa uda jadi wartawan ANTARA aja yaelah Amin-kan ajayaaa hehehe), saya akan kasih poin pentingnya.

                “Baca koran setiap pagi sebelum berangkat ke lapangan. Jadi tahu situasi terkini”, kata Pak Munawar yang menjadi wartawan pertama yang datang setiap pagi.

                “Wartawan itu harus kritis, teliti, dan detail. Harus berprinsip dan berpegang teguh pada kode etik jurnalistik supaya tidak gampang diadu domba saat di lapangan. Belajar ilmu lapangan itu tidak gampang. Perlu kebiasaan dan keikhlasan”, kata Kabiro ANTARA Sumut, Pak Suparmono.
               
                “Yang bisa membuatmu cepat berkembang adalah pengalaman dan relasi. Pengalaman, mengajarkanmu banyak hal tentang kehidupan dan beragam watak orang sebenarnya. Relasi, mendorongmu semakin dekat dengan kesuksesan dan profesionalisme. Yang penting diingat, berteman dengan siapa saja boleh, tapi tetap berhati-hatilah”, kata Bu Lidya Panggabean, narasumber saya di liputan hari kelima.
    ***
                Terima kasih untuk seminggu ini. Semoga minggu kedua, ketiga, dan keempat, berjalan lebih baik. Tetap semangat dan sampai jumpa di #PKLSeries berikutnya.
                
     
    Setiap pekerjaan punya resiko. Sekalipun itu pekerjaan yang membuat badanmu bau matahari, tak jarang menemukan kecaman, dan tidak membuatmu kaya secara finansial, tetap kerjakan dengan hati tulus dan ikhlas. Jadilah manusiawi.
    -Rizka Sitanggang-
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Searching

    • ABOUT ME

    Media Sosial

    • Tumblr
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram

    HUBUNGI SAYA DENGAN EMAIL

    Nama

    Email *

    Pesan *

    Pengunjung

    Pict of Me

    Pict of Me

    Catatan Berkarya



    Recent Post

    • Esai Seleksi Beasiswa Karya Salemba Empat
    • Esai Diri (Program Friendship From Indonesia 2017, China - Malaysia)

    Arsip Blog

    • ▼  2022 (1)
      • ▼  Januari (1)
        • Welcome 'Twenty Five', I Am Fine!
    • ►  2021 (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juni (1)
    • ►  2019 (8)
      • ►  Desember (2)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (2)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2017 (21)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (3)
      • ►  Maret (1)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2015 (3)
      • ►  Agustus (3)

    Label

    • Blog Competition
    • Cerita Rizka
    • Diurna Rizka
    • Esai
    • Pendidikan
    • Petualangan
    • Rizka Gusti Anggraini Sitanggang
    • Tulisan
    • Writing Competition
    Instagram LinkedIn

    Created with MRIL BeautyTemplatesDistributed By Rizka Sitanggang

    Back to top