• Home
    • Akademik
    • Diurna Rizka
    • Tulisan
    • _Writing Competition
    • _Blog Competition
    • _Writing Project
    • Petualangan
     

    PERAN JURNALISME PERJALANAN TERHADAP PERKEMBANGAN PARIWISATA LOKAL

    Penulis :
    RIZKA GUSTI ANGGRAINI SITANGGANG
    CITRA RELITNA GINTING


    Sub-tema :
    How Travel Journalism Affects The Local Community

    A well-informed consumer is an empowered holidaymaker who when given the correct facts is enabled to make a quality discerning decision.

        Industri pariwisata di hampir seluruh belahan dunia terus mengalami pertumbuhan positif, bahkan beberapa negara khususnya negara berkembang menggantungkan pertumbuhan ekonominya pada sektor pariwisata. Indonesia yang dikenal dengan sebutan “Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi” ini memiliki kekayaan potensi pariwisata yang sungguh luar biasa apabila digarap serius. Dengan 1.128 suku bangsa, 746 bahasa, beragam flora dan fauna, serta kekayaan alam dan energi terbarukan, menjadikan Indonesia sebagai rumah beragam budaya adiluhung. Tidak heran apabila Sapta Nirwandar, mantan Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia dalam bukunya "Building Wow: Indonesia Tourism and Creative Industry" menjuluki Indonesia sebagai The Sleeping Giant, raksasa yang sedang tertidur.
        Menyebar luas dari Sabang sampai Merauke, keanekaragaman potensi wisata Indonesia bisa dibilang salah satu yang paling lengkap di dunia. Mulai dari alamnya yang memesona (nature), keramahan masyarakat (people), hingga kearifan budaya yang beragam dan khas tiap daerah (culture) adalah harta karun yang tak terbantahkan bagi pariwisata Indonesia. Berangkat dari hal tersebut, maka sudah tiba saatnya segala potensi tersebut digarap dan dikelola dengan baik dan serius. Kementerian Pariwisata sebagai regulator, pelaku wisata sebagai fasilitator, dan para wisatawan sebagai konsumen merupakan tiga komponen yang akan menggerakan roda industri pariwisata. Salah satu poin penting dalam pengelolaan itu adalah mengenalkan potensi pariwisata tersebut kepada para calon wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Di sinilah media mengambil peran strategis dalam hal mempromosikan pariwisata. Media yang dimaksud berarti luas, baik media cetak, elektronik, hingga media online.
        Ketika kita bicara media dan pariwisata, maka tidak adil jika kita tidak membahas konsep jurnalisme yang mempertemukan kedua hal ini. Salah satu jenis jurnalisme yang masih disepelekan dan sedikit mendapat perhatian akademisi dan praktisi, meskipun memegang peranan penting yang sama dalam mengonstruksi realita dan persepsi masyarakat, adalah jurnalisme perjalanan (travel journalism) (Fürsich dan Kavoori, 2001: 149; Hanush, 2010: 68). Jurnalisme perjalanan masih dipandang sebelah mata karena dinilai bisa ditulis siapa pun yang berwisata dan berada pada ‘area abu-abu’ antara hiburan dan nilai berita (news) (Hanusch, 2010: 69). Padahal ketika melakukan perjalanan atau berwisata, masyarakat keluar dari ‘zona aman’ mereka dan masuk ke lingkungan asing penuh risiko kenyamanan dan keamanan, kesehatan, sosial-budaya, ekonomi, hingga politik (Hill-James, 2006: 23).
        ‘Area abu-abu’ antara berita dan hiburan yang dipertentangkan banyak pihak justru dapat dipersandingkan dan pada saat yang sama dilihat sebagai ‘beauty’ dan ‘brain’ dari media (Hill-James, 2006: 3). ‘Beauty’ karena kedekatan, nilai hiburan, serta liputan kegiatan yang menyenangkan memicu khalayak untuk mengejar kebahagiaan. Namun, jurnalisme perjalanan juga membutuhkan ‘brain’ untuk menyediakan informasi dan memberikan konteks terhadap berita isu internasional, politik, dan ekonomi untuk mempersiapkan khalayak  sebagai wisatawan sekaligus warga masyarakat (Hill-James, 2006: 3).
        Munculnya konsep travel journalism, sebagai genre jurnalisme yang berfokus pada cerita perjalanan seseorang. Secara sederhana, "travel" berarti perjalanan, dan "journalism" berarti jurnalisme. Jadi, dapat kita tarik makna travel journalism sebagai jurnalisme yang memfokuskan pada liputan perjalanan. Perjalanan yang dimaksud disini memiliki arti yang sangat luas. Bisa jadi perjalanan wisata, berziarah, bertualang, dan sebagainya.
        Tujuan dari keberadaan jurnalisme perjalanan adalah untuk merepresentasikan ‘otherness’, sesuatu atau seseorang yang lain, berbeda, di luar kebiasaan (Hanusch, 2010: 71). Hanusch (2010: 72) juga menyadari akan argumentasi bahwa seorang jurnalis perjalanan harus dapat memproduksi cerita untuk memotivasi publik melakukan perjalanan atau berwisata. Menceritakan pengalaman wisata dari sudut pandang jurnalis perjalanan sebagai sesama orang asing merupakan taktik agar publik merasa dekat.
        Motivasi jurnalisme perjalanan merupakan dimensi yang penting untuk dianalisis karena dapat menjadi penghubung antara apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab dari jurnalisme dan apa yang sebenarnya diinginkan oleh khalayak (Hanusch, 2010: 76). Beberapa jurnalis perjalanan termotivasi dengan kesempatan berwisata sehingga ingin meneruskan motivasi ini kepada khalayaknya untuk  juga pergi melakukan perjalaan yang sama. Jurnalis perjalanan seperti ini berfokus pada pengalaman menarik ketika berwisata. Ada pula jurnalis yang termotivasi untuk mengungkap sesuatu yang tidak kasat mata di destinasi wisata. Mereka berangkat dengan pendekatan kritis untuk menganalisis kehidupan masyarakat lokal dan industri pariwisata secara umum (Hanusch, 2010: 76).
        Mengutip tulisan Satrio Arismunandar, salah satu aktivis Aliansi Jurnalis Independen Indonesia, dalam tulisannya berjudul "Mengenal Jurnalisme Perjalanan (Travel Journalism) dan Program Jelajah, bahwa cikal bakal adanya genre jurnalisme perjalanan ini tidak begitu jelas. Apabila kita kaitkan dengan cerita perjalanan oleh tokoh-tokoh penjelajah seperti Marcopolo, Vasco Da Gama, ataupun Laksamana Chengho yang menuliskan perjalanan mereka mengelilingi dunia maka bisa dibilang konsep ini sebenarnya sudah cukup lama ada.
        Di Indonesia, jurnalisme perjalanan selama ini memang erat kaitannya dengan sebuah perjalanan wisata. Dimulai dengan megunjungi tempat-tempat wisata, cerita perjalanan ditulis dengan tujuan sekedar membagi pengalaman hingga usaha promosi tempat wisata itu sendiri. Apabila kita mengamati beberapa surat kabar di Indonesia, kebanyakan telah menyediakan rubrik tersendiri khusus untuk mengulas tempat-tempat wisata dan cerita perjalanannya. Di program televisi apalagi, hampir setiap stasiun televisi mempunyai program wisata jalan-jalan seperti program "My Trip My Advanture" Trans TV, "100 Hari Keliling Indonesia" Kompas TV, "Jejak Petualang" Trans 7, dan program-program lainnya.
        Dunia maya sebagai media baru juga menampakkan wajah dalam hal ini. Wisata seperti mempunyai tempat tersendiri di dunia maya, apalagi di era orang-orang sebagai pengguna media sosial. Kemudahan akses informasi telah mengubah paradigma wisata masyarakat yang dulunya lebih mengandalkan media cetak atau televisi untuk mencari tahu tentang suatu tempat tujuan wisata, kini semua itu begitu mudah diakses melalui internet. Blog-blog tentang wisata Indonesia begitu berkembang, hampir semua portal berita online kini mempunyai kanal khusus untuk informasi traveling. Belum lagi jika kita melihat tren media sosial yang membuat orang-orang kini suka bepergian dan mendokumentasikan perjalanan mereka dalam tulisan dan foto walaupun sebatas informasi singkat.
        Dari hal tersebut, travel journalism menduduki kursi penting dalam perkembangan pariwisata Indonesia, khususnya destinasi wisata lokal, baik itu tulisan, visual, suara, atau bahkan gabungan ketiganya. Pertama, jurnalisme perjalanan mampu menciptakan destinasi wisata baru. Ya, tidak dapat dipungkiri bahwa keinginan untuk pergi menjelajahi tempat-tempat baru atau biasa disebut “ngebolang” memang sedang menjadi tren di Indonesia. Oleh karena itu, tidak sedikit tempat-tempat yang dulunya bukan tempat tujuan wisata menjadi tempat wisata baru yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Seperti destinasi wisata Tebing Keraton di Bandung, Waduk Semo dan Kalibiru di Jogja, pantai cantik di balik bukit daerah Gunung Kidul, hingga Bukit Gajah Bobok di Sumatera Utara, yang dulu tidak begitu dikenal oleh masyarakatnya. Namun sejak dipublikasikan di internet, kini tempat-tempat tersebut ramai dikunjungi wisatawan.
        Kedua, jurnalisme pariwisata dapat menjadi wisata yang sudah ada menjadi populer kembali. Promosi pariwisata yang tidak maksimal seringkali menjadi hambatan bagi kebanyakan daerah di Indonesia. Banyak wisata yang sebenarnya telah dikelola oleh pemerintah sebagai operator pariwisata, namun sepi wisatawan. Maka di sinilah kita dapat melihat bagaimana jurnalisme perjalanan dapat menjadi solusi bagi permasalahan promosi yang kurang maksimal. Disadari atau tidak, para jurnalis perjalanan, dalam hal ini para wisatawan adalah para duta-duta wisata bagi tempat yang ia kunjungi. Melalui cerita perjalanan yang ia tulis, akan semakin banyak orang tahu tentang suatu tempat wisata. Apalagi kalau kita melihat bahwa ada kecenderungan orang-orang akan lebih tertarik dengan testimoni temannya daripada mengetahui informasi tersebut dari iklan.
        Ketiga, jurnalisme perjalanan menjadi solusi yang menyelamatkan khususnya dalam hal perkembangan ekonomi dari segi pariwisata. Pada awalnya para wisatawan mendapatkan informasi-informasi wisata yang ia butuhkan. Kemudian karena tertarik dengan tempatnya, mereka memutuskan untuk mengunjungi tempat wisata tersebut. Untuk melakukan perjalanan wisata tentu tidak mungkin tanpa mengeluarkan biaya selama perjalanan, seperti uang tiket, uang makan, sampai uang untuk membeli oleh-oleh. Mau tidak mau wisatawan harus mengeluarkan biaya untuk hal itu. Peredaran uang pun berputar, semakin banyak dan sering uang berputar maka tingkat perekonomian masyarakat akan semakin baik.
        Menurut Undang-Undang tentang Pers No. 40/ 1999, disebutkan fungsi pers adalah media informasi, komunikasi, edukasi, hiburan dan kontrol sosial serta lembaga ekonomi Pers juga melaksanakan peranannya berupa: memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi mendorong terwujudnya supremasi hukum,  hak azasi manusia serta menghormati kebhinekaan, mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar, melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, dan memperjuangkan keadilan dan kebenaran.
        Pers turut berperan memajukan industri pariwisata. Penyebaran informasi pariwisata dapat dimuat melalui media cetak, seperti surat kabar maupun media elektronik seperti televisi, radio dan internet dari suatu daerah atau kepada negara lain. Sebagai media informasi, pers yang menggunakan media elektronik telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Contohnya dengan internet, promosi pariwisata daerah atau negara dilakukan dengan membuat website atau situs-situs objek wisata, sehingga setiap orang di belahan bumi ini dapat mengakses informasi tersebut. Arus informasi membuat dunia terasa semakin sempit.
        Namun bicara soal peran jurnalisme perjalanan yang berdampak positif bagi perkembangan pariwisata khususnya destinasi lokal, pun berimbas kepada elektabilitas penyebaran berita yang dilakukan oleh para jurnalis perjalanan. Jurnalisme perjalanan mendapatkan banyak kritik dari dalam dunia jurnalisme sendiri karena dinilai memiliki standar penulisan yang lebih rendah dibandingkan dengan produk literatur perjalanan lainnya serta para jurnalis dinilai tidak bisa terbebas dari pengaruh komersial industri pariwisata dan periklanan (Hill-James, 2006: 94-95).
    Sebagian besar artikel perjalanan kekurangan aspek masyarakat dan dialog, bahkan untuk artikel mengenai kota padat penduduk (Hill-James, 2006: 99). Perbedaan bahasa dan keterbatasan menjadi alasan sebagian besar interaksi jurnalis perjalanan dilakukan dengan pemandu wisata sehingga masyarakat lokal hanya dijadikan bagian dari pemandangan alih- alih sebagai sebuah kehidupan di destinasi wisata tersebut (Hill-James 2006: 100).
        Hill-James (2006: 28) menambahkan bahwa ancaman etis tidak hanya datang dari perusahaan atau pengiklan yang mengirim para jurnalis untuk meliput di destinasi wisata tertentu, tetapi jurnalis perjalanan juga tidak bisa lepas dari pemerintah daerah tujuan. Pemerintah menyediakan visa, akses, serta informasi politik dan keamanan untuk para jurnalis perjalanan dengan pertimbangan menjadikan media perjalanan cara untuk meningkatkan turisme daerah.
        Di sisi lain, jurnalisme perjalanan dapat menjadi bisnis yang menjanjikan  karena sangat berpotensi untuk menarik perhatian pengiklan (Hill-James, 2006: 107). Para jurnalis perjalanan terjebak dilema etis karena masuknya pengaruh komersial, tapi pada saat yang sama liputan perjalanan membutuhkan modal finansial yang umumnya tidak mampu disediakan oleh media di mana mereka bekerja (Hill-James, 2006: 110). Usaha yang dilakukan beberapa media dengan mengungkapkan secara terbuka mengenai penanggung biaya liputan perjalanan dapat menimbulkan dua interpretasi yang berbeda, yaitu bersikap etis karena terbuka terhadap publik atau justru dipandang sebagai cara untuk mempublikasikan kesempatan mensponsori liputan perjalanan (Hill-James, 2006: 163). Problematika ini dapat mencoreng kredibilitas jurnalisme sehingga jurnalisme kehilangan otoritas kulturalnya (cultural authority) untuk menentukan apa yang penting bagi publik (Hill-James, 2006: 113).
        Cara terbaik bagi jurnalis perjalanan untuk mengatasi tekanan marketing ini adalah dengan mengubah reputasi mereka dari menitik beratkan liputan pada sisi ‘harmless private fun’ ke ‘pleasurable but serious public issue’ (Hill-James, 2006: 110). Wisata dan  jurnalisme perjalanan umumnya dianggap hanya berhubungan dengan ruang dan aktivitas privat sehingga kurang relevan bagi publik dan kehilangan makna sosial dan politiknya (Fürsich dan Kavoori, 2001: 152).
        Perlu disadari bahwa turis sebagai bagian dari warga masyarakat memiliki kekuasaan (power) dalam bertindak. Turis melalui aktivitas konsumsi nya saat berwisata dapat mempengaruhi pasar dan jasa pariwisata serta dapat melakukan aksi bersama untuk menjamin kepuasaan berwisata (travel satisfaction) sebagai bagian dari hak demokratis (Hill-James, 2006: 139). Jurnalis perjalanan haruslah menyadari hal ini sehingga melalui produk jurnalismenya dapat menyadarkan turis akan perannya yang lebih besar, sebagai warga masyarakat yang bersama masyarakat lain berbagi ruang dan kepentingan publik.
        Selain itu, jurnalisme perjalanan baiknya menyediakan informasi yang membentuk opini publik dan membangun komunitas.
        “If travel journalists could produce journalism that tourists considered important destination information and have travel recognised as a public activity, the influence  of advertising pressure upon them may also be scrutinised and remedied.”
        Di dunia jurnalistik, jurnalisme perjalanan masih kurang dikaji jika dibandingkan dengan jurnalisme lainnya. Padahal perkembangan pariwisata di berbagai belahan dunia relatif terus melaju berdampak pada berkembangya produk-produk jurnalisme perjalanan dalam berbagai medium. Hakikat jurnalisme perjalanan pun lebih dari sekadar menyampaikan informasi mengenai sebuah destinasi wisata dan memberikan rekomendasi kegiatan yang menyenangkan untuk berwisata.
    ***
    [Tulisan di atas diikutsertakan dalam lomba Call for Paper : The 15th Journalist Days di Universitas Indonesia. Alhamdulillah, tim dari Universitas Sumatera Utara lolos menjadi 5 besar terbaik tingkat nasional. Semoga tetap semangat berkarya]
    Continue Reading
        Today, talks about Islam and the Muslim community in western countries are among the topics of interest. This is not due to the significant development but also the impact on the socio-political life of these countries. In most European countries, Islam has become the second largest religion and today's acquisition has begun to be counted as a "government-certified" religion. One of the countries with a large Muslim population is Germany, with a total of 3.7 million. Since 2011 at Senior High School when I formed a organization of school dakwah called Rohani Islam and joined the national dakwah community of Muhajirin Anshor, I have much to understand about the studies and history of Islamic development. In this essay, I want to explain three points why I have an interest in the life of Muslims in Germany who are still minorities.
        My first interest from the phenomenon that attracts people to Islam is quite high. The famous German’s magazine Der Spiegel once mentioned between July 2004 and June 2005 there were about 4000 people in Germany converted to Islam. Interestingly, this phenomenon occurs greatly as western media intensively associate Islam with the issue of terrorism.
        Monika Wohlrab-Sahr, student of the Institut für Kulturwissenschaften University of Leipzig in her study stated that in many cases, the perpetrators of this conversion experience the problem of life and find solutions in Islam, not because comparing it with other religions, who often gag. In addition, Monika also mentions more discipline and submission in Islam. One of the converts was attracted to Islam because this doctrine clearly details the life guidance for his people. There is also a doubling of Islam that once retreated from western civilization, but its teachings still remain relevant until today. (source: http://zainulfuad.wordpress.com)
        Another reason, Pasal 4 Ayat 1 of German Constitution (Grundgesetz), mention Die Freiheit des Glaubens, des Gewissens und die Freiheit des religiösen und weltanschaulichen Bekenntnisses sind unverletzlich. (Freedom of religion and having a philosophical view of life should not be disturbed).
        Indeed, there are some cases where Muslims get in Germany for example in the case of hijab. However, this is a phenomenal case and does not alter government crimes against Muslims. In general, German society highly values religious freedom. A survey by Stiftung Konrad Adenauer shows that two-thirds of polls believe that Muslims should be given the freedom to practice their religion.
    Then, my third reason is behind the challenges that in the spread of Islam in Germany, Islam has been permitted for Muslim students in public schools. Not only at the school level, Islamic education also starts at the academic level. Education at this academic level can provide solutions to the problems of Muslim life in diversity.
        From the facts and reasons of interest above, make me believe that behind the fear that comes emerging because the Muslims there is a minority. The possibility of discrimination often can not be wiped out of the mind. Especially related to negative news published in the media, Islam in the eyes of the international is getting worse. However, I am convinced that every Muslim in Europe always tries to exemplify being a good Muslim, in accordance with the rules of religion, The Qur'an and Hadits.
        If elected to participate in the Life of Muslims in Germany: Study Trip Program 2017, I am sure there will be a lot of knowledge about the development of Islam in the world, overcoming problems from people who do not know Islam literally, and the use of technology in education that encourages the development of Islam More broadly. It can add to my scientific treasures. My expectation in Life of Muslims in Germany: Study Trip Program 2017can be my means to develop the wings in the da'wah for my life and surroundings, and allow me to contribute more in the spread of Islam as the religion of Rahmatan Lil Alamin.
        When I get this program, I want to take on the role of a student and a journalist by committing to spread my experience through writings that can be published in the media. In addition, I will be active as an Islamic missionary by providing materials in various journalistic training, Islamic studies, and campus organizations about what I get during a participant at Life of Muslims in Germany: Study Trip Program 2017.
    ***
    [Tulisan di atas merupakan statement of motivation yang menjadi salah satu persyaratan dalam mengikuti seleksi Life of Muslims in Germany 2017. Meski belum dapat kesempatan untuk lolos dalam program tersebut, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca]
    Continue Reading
    Theme “ Building Peace in Our Hearts and Minds”




    -Build Future, Build Nations, Create Passion of Peace-

    Author : Rizka Gusti Anggraini
    Nationality : Indonesian
    City, Province : Medan-North Sumatera, Indonesia
    Category : Youth
    Age (as June 15 2015) : 18 Years Old

    Build Future, Build Nations, Create Passion of Peace
    Minds determine our lives because human is what they think. Maybe it is the beginning of what I can tell in this regard. Mind is the leader or the forerunner of all the action. Our actions are a direct result of what is in our minds. If we have negative thoughts, our actions will also be negative so that we will have a negative life too. Conversely, if we have positive thoughts, our actions will be positive so that we will have a glorious life. For example, a tree is known by its fruit. It also applies to our lives as normal human beings. Good minds and noble will produce glorious life. Before our minds positive, our lives would not lead to it.
    Generally, there are two types of people, those who are fixed and growth people. Fixed people are the ones who feel they've been successful, rich and comfortable in his life. They consider their own perfect life and they do not want anything else, thinking like that is very dangerous for the survival of their future lives. I will make the illustrations that will help the reader to understand what I mean. See people who become passengers of public transport. Most of them even to sleep calmly. Because they already know the routes that will be passed by the public transportation so that they are sure that they will not get lost. In fact, they will wake up by itself when public transportation is approaching a stopping them. They passed as a routine that will not change. This fixed mindset will hinder the progress of the quality of their lives. People like this will only see other people go forward and get better without taking part in it. What should be done to get things better is to work on that. Try our lives tomorrow better than today.
    The second type is growth people. Who are included in this group are people who want to follow the direction of change. They have the mindset that developed according to the needs and ages. They realize that success should be pursued. The success did not come one time in their lives. The success came many times because they are constantly working on it. I go back to the illustration of public transport passengers. We refer to different situations. One day, they ride public transport should take another route for any reason, then the passengers of public transport looks more alert. Instead of sleeping, blinking was probably inevitable because they have to concentrate on the new route. Hard thinking will stimulate brain cells to respond, it is much needed in this ever-changing world. Responsive to change is something that will greatly influence the success of a person. Coming to terms with the mind can make us into people who quickly gained success. Because mindset will influence our actions.
    After we talked about the mind, there is one important thing that we have our own balance and should be able to make peace with it. It is heart. Without us knowing, our mood in everyday life will be greatly affected by the atmosphere that we wake up when start the day, ie mornings. I have often noticed, when morning begins with a jovial atmosphere, then it will follow us at noon, afternoon, and evening. Not surprisingly, the motivator is often said "good morning" even though we know very well when it was evening. Because they want us to believe that the morning is the time that light spirit formed, while still a very long time for us to do the activity. When we expect something good, in fact the whole universe will unite to help us to make it happen. Most importantly, when we dropped, we had to bounce back. Because the true value of a man is not how to behave in times of fun, but the way he acted at times difficult and challenging. Thus, peace with our minds and hearts. With it, we will no longer fear anywhere. Being personally targeted, build a future, beneficial to others, to build our country each and desire to create peace within ourselves.
    Continue Reading
    Older
    Stories

    Searching

    • ABOUT ME

    Media Sosial

    • Tumblr
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram

    HUBUNGI SAYA DENGAN EMAIL

    Nama

    Email *

    Pesan *

    Pengunjung

    Pict of Me

    Pict of Me

    Catatan Berkarya



    Recent Post

    • Esai Seleksi Beasiswa Karya Salemba Empat
    • Esai Diri (Program Friendship From Indonesia 2017, China - Malaysia)

    Arsip Blog

    • ▼  2022 (1)
      • ▼  Januari (1)
        • Welcome 'Twenty Five', I Am Fine!
    • ►  2021 (1)
      • ►  November (1)
    • ►  2020 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juni (1)
    • ►  2019 (8)
      • ►  Desember (2)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (2)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  Desember (1)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  April (2)
      • ►  Januari (2)
    • ►  2017 (21)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (2)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (3)
      • ►  Maret (1)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Desember (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2015 (3)
      • ►  Agustus (3)

    Label

    • Blog Competition
    • Cerita Rizka
    • Diurna Rizka
    • Esai
    • Pendidikan
    • Petualangan
    • Rizka Gusti Anggraini Sitanggang
    • Tulisan
    • Writing Competition
    Instagram LinkedIn

    Created with MRIL BeautyTemplatesDistributed By Rizka Sitanggang

    Back to top