![]() | |
| Sumber foto : http://gaietyfantasy.blogspot.co.id/2017/03/friendship-from-indonesia.html |
Deskripsikan
Diri Anda dengan Singkat
Perkenalkan,
nama lengkap saya Rizka Gusti Anggraini Sitanggang. Biasa dipanggil Rizka atau
Ika. Saya merupakan anak tunggal dari orang tua saya dan berkelahiran 05
Januari 1997 di kota Medan, Sumatera Utara. Saat ini, saya tinggal bersama Ibu
dan Nenek, setelah 5 tahun silam Ayah saya meninggal dunia karena sakit.
Keseharian saya sebagai seorang anak, mahasiswa, pengurus organisasi internal
kampus, anggota komunitas, dan sedang menapaki jejak dengan menggali potensi dalam
bidang tulis-menulis. Saat ini, saya tercatat sebagai mahasiswi aktif di
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Sumatera Utara dengan
mendalami disiplin Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik.
Berkuliah
sejak tahun 2014, tidak menuntut saya hanya sekadar menjadi mahasiswa bangku
formal, melainkan saya selalu ingin mengaktualisasikan diri di beberapa
kegiatan yang merangkul anak-anak muda di sekitar saya agar lebih kreatif,
inovatif, dan komunikatif. Tidak hanya itu, saya juga senang melakukan
petualangan sejarah, budaya, dan seni dari berbagai sudut tempat. Hal itu
sempat beberapa kali saya lakoni dari keaktifan dan semangat mengikuti ragam
konferensi, pertemuan, dan forum kepemudaan, baik tingkat regional maupun
nasional.
Rasa
senang ingin berbagi juga saya terapkan kepada teman-teman di kampus, minimal
saya memotivasi mereka untuk benar-benar menjadikan diri sebagai pemuda-pemudi yang
bermanfaat. Karena, sebaik-baiknya ilmu adalah yang dibagikan kepada sesama. Menuntut
ilmu bukan sekadar untuk konsumsi pribadi, melainkan untuk kebermanfaatan
banyak umat. Selain fokus menggeluti dunia pengabdian masyarakat melalui
lentera menulis, saya juga berkeinginan menjadi tenaga pendidik. Bagi saya, masalah
pendidikan adalah tugas kita sebagai orang-orang terdidik dan kita hadir bukan
untuk menanyakan mengapa, melainkan bagaimana solusi atas masalah tersebut.
Menyelaraskan antara dunia pendidikan dengan dunia literasi (baca-tulis) tentu
merupakan suatu hal menarik. Dimulai dari hobi diri sendiri, tak ada salahnya
dijadikan sebagai sumber daya dalam berkontribusi nyata untuk masyarakat.
Apa kontribusi
positif yang pernah Anda lakukan untuk masyarakat sekitar Anda?
Berbicara
tentang kontribusi, setiap orang pastilah pernah melakukannya, baik itu skala
kecil maupun besar. Kontribusi positif yang pernah saya lakukan dimulai dari
area saya sendiri, terhitung dari keluarga, saudara, teman, kerabat
sepekerjaan, dan masyarakat. Dimulai dari keluarga, jujur sejak Ayah saya
meninggal dunia 5 tahun silam, saya meyakinkan diri bahwa apapun yang terjadi
selalu memberikan pelajaran dan hikmah. Poin yang saya dapatkan adalah menjadi
pejuang pendidikan untuk diri sendiri dan orang lain bukanlah persoalan
gampang.
Sejak
saat itu, saya mulai bekerja paruh waktu sepulang sekolah sebagai guru private mata pelajaran untuk siswa/i SD
dan SMP. Saya belajar bahwa untuk sebuah ilmu perlu usaha yang keras dan tidak
main-main. Dari hasil mengajar, saya menyisihkan uang untuk membantu Ibu
membayar uang bulanan sekolah. Walaupun tidak banyak, tapi saya yakin hal
sedikit itu bisa meringankan beban Ibu yang sampai saat ini menjadi seorang
pedagang. Kemudian, kontribusi kepada saudara dimulai dari pekerjaan paruh
waktu sejak SMA itu, yaitu mengajar les mata pelajaran. Kebetulan, adik-adik
sepupu saya banyak yang masih duduk di bangku TK dan SD. Dengan kemampuan mengajar
dan menyukai lingkup anak-anak, saya turut membagikan hal tersebut sebagai
hadiah untuk adik-adik saya. Setiap Sabtu dan Minggu, adik-adik sepupu saya
akan datang ke rumah dan memberikan waktu dua hari tersebut untuk menjadi guru
les bahasa Inggris dan Matematika untuk mereka, secara gratis. Saya berpikir,
membangun pemahaman bahwa belajar itu menyenangkan kepada anak-anak usia tumbuh
dan berpikir, tentu dibutuhkan motivasi. Oleh sebab itu, ilmu pengetahuan dan
motivasi saya seimbangkan kepada mereka, di awal dan akhir setiap sesi
pertemuan les.
Lalu,
kontribusi kepada teman mulai saya aplikasikan sejak di bangku SMA. Saat kelas
2 SMA, saya bersama 2 orang teman saya menginisiasi organisasi dakwah dan
literasi di sekolah. Nama organisasi tersebut adalah Rohani Islam An-Na'im.
Bersama dua orang teman itulah, saya mengenal indahnya berbagi dengan apa yang
kita sukai. Dunia dakwah dan literasi, dua perpaduan yang padan sekali. Selama
setahun, kami membereskan berkas pendirian organisasi dan diajukan kepada Kepala
Sekolah. Bersyukurnya, hal itu direspon baik dan di bulan ketiga perintisan
organisasi, kami mendapatkan kabar baik bahwa Rohani Islam An-Na’im diberikan
satu ruangan sebagai sekretariat. Setelah sebulan mulai penataan sekretariat
dan sistem kepengurusan, kami mulai bergerak untuk lebih produktif yaitu
membuat Buletin Dakwah yang diterbitkan setiap Jumat, kemudian disebar ke
seluruh siswa/i beragama Islam. Untuk biaya cetak dan produksi, kami
mengandalkan kontribusi pribadi dan donasi dari beberapa guru di sekolah.
Hingga di masa kepengurusan saya sebagai perintis organisasi, bersyukurnya
telah ada 2 anggota organisasi yang berhasil mengikuti lomba menulis tingkat
SMA se-kota Medan. Semoga semakin banyak yang bergerak di dunia literasi dan
dakwah.
Setelah
itu, kontribusi ke lingkungan kerabat sepekerjaan. Maksud saya disini
‘sepekerjaan’ adalah sepenanggungan dalam organisasi, terlebih di kampus.
Berbicara tentang kontribusi di dunia kampus, saya mulai memfokuskan pada
pergerakan dunia literasi. Saya bergabung di organisasi Pers Mahasiswa dan Public Relations. Masing-masing
organisasi tersebut mengajarkan saya untuk lebih produktif dalam berkarya
tulis. Seperti di Pers Mahasiswa, saya sebagai Reporter dan Koordinator Admin
Publikasi, dimana dalam setiap minggu saya wajib menulis minimal satu artikel
dan hasil liputan. Sedangkan, di organisasi Public
Relations saya sebagai Sekretaris Divisi House of Journal dan bertanggung jawab memproduksi majalah kampus
bernama KUMIS (Kumpulan Inspirasi Mahasiswa). Sampai sejauh ini, kami telah
menerbitkan hingga Volume 4 dan akan segera terbit Volume 5. Semoga bisa terus
berkarya lebih luas lagi.
Terakhir,
kontribusi kepada masyarakat. Bagian ini telah membuat saya paham bahwa
mengabdi bukan persoalan mudah, melainkan komitmen dan loyalitas benar-benar
harus dilakukan secara kontinyu. Saya mulai dari kesempatan terpilih menjadi
relawan mengajar di Komunitas 1000 Guru Medan. Selama 3 hari kami mengabdi ke
desa paling ujung di Kabupaten Deli Serdang Dusun XV Provinsi Sumatera Utara.
Dari kota Medan dibutuhkan waktu 4-5 jam menuju lokasi menggunakan bus mini.
Bersama rombongan, saya benar-benar diajak berpetualang ke tempat yang jarang
dianggap orang menarik. Tentu, suasana pedesaan sangat menarik bagi saya.
Melihat orang-orang desa beramah tamah dan anak-anak bermain tanpa sibuk dengan
permainan teknologi, sebuah pemandangan yang apik. Disana, selama 3 hari kami
melakukan pengabdian masyarakat, mulai dari perkenalan diri kepada warga
setempat hingga membagikan selebaran pengumuman bahwa di hari ketiga, akan ada
penyuluhan dan pengobatan gratis bagi seluruh warga di desa tersebut. Di hari
ketiga merupakan puncak kegiatan, dinamakan Hari Mengajar Menginspirasi. Ya,
saya mendapatkan kesempatan mengajar anak-anak kelas 4 tentang Olahraga.
Belajar, bermain, dan bernyanyi bersama tentu menyentuh nurani saya tentang bagaimana
mereka begitu menikmati cara belajar yang menyenangkan. Mereka justru telah
menginspirasi saya. Terima kasih pada kesempatan waktu itu dan saya terus
berniat semoga tidak hanya sampai disitu. Hingga sekarang, saya tetap melakukan
pengabdian masyarakat bersama teman-teman kampus di beberapa desa saat masa perkuliahan
sedang renggang waktu.
Bagaimana cara
yang Anda lakukan untuk membentuk tim yang menyenangkan dan produktif?
Mengabdi dan melakukan pergerakan
positif tentu tidak bisa dilakukan seorang diri. Ya, kita butuh orang-orang
yang siap memandu panca indera kita. Dikatakan, sebuah tim solid dan penuh rasa
kekeluargaan. Tentu dalam sebuah tim, diharapkan menuju poin “sama dirasa”
tidak membutuhkan waktu sekejap. Kita perlu memahami masing-masing karakter
dari bermacam-macam kepala. Namun tentu, perbedaan justru yang menjadikan
sebuah tim semakin percaya dan kuat. Karena, benar kata orang-orang terdahulu
bahwa berbeda itu menarik dan berbagi itu menyenangkan.
Untuk
membentuk tim yang menyenangkan dan produktif dimulai dari keterbukaan satu
sama lain. Dalam sebuah tim sangat dibutuhkan yang namanya pertemuan kontinyu. Itu
akan membuat tingkat keakraban dan saling memahami yang tinggi. Pertemuan
dilakukan pun membahas seputar apa yang ingin dicapai dan bagaimana
implementasinya. Selanjutnya, dipersilahkan kepada seluruh anggota untuk
menyampaikan aspirasi tanpa perlu dikomentari oleh anggota yang lain. Aspirasi
disampaikan oleh orang per orang dengan berlandaskan alasan yang jelas dan
logis. Masing-masing anggota diharapkan untuk mencatat semua aspirasi yang
dituangkan. Jadi, tugas pertama adalah mendengarkan dan tugas kedua adalah
mencatat atau menulis. Setelah semuanya selesai, lakukan penggabungan ide
dengan tetap memperhatikan aspek-aspek kemungkinannya. Tugas ketiga adalah
kolaborasi ide. Tinggal langkah berikutnya adalah eksekusi ide. Disini akan
benar-benar terasa bagaimana alur dinamika sebuah tim, mulai dari pasang-surut
suasana hati atau emosional hingga ketidakcocokan dalam kerja lapangan.
Kembali
lagi ke poin awal bahwa segala sesuatu harus dilandaskan rasa keterbukaan.
Sebuah tim bukan lagi bekerja sama-sama dan sama-sama bekerja, melainkan
senantiasa mengingatkan untuk tidak berhenti berbuat dan menciptakan bersama.
Ya, tugas keempat adalah sebagai alarm atau pengingat sesama. Dari keseluruhan
bekerja, tentu setiap manusia butuh apresiasi. Apresiasi akan membuat
orang-orang menghargai karyanya dan terus semangat berkarya. Inilah yang akan
menjadi cikal bakal orang menjadi produktif. Maka, tugas kelima untuk membentuk
sebuah tim yang menyenangkan dan produktif adalah apresiasi atau penghargaan,
minimal ucapan terima kasih atas kerja keras tim yang telah menyelesaikan tugas
sebaik-baiknya.
Apa yang Anda
lakukan dalam menghadapi orang yang tidak Anda sukai?
Dalam
sebuah hubungan, tentu ada rasa senang dan tidak senang, suka dan tidak suka,
paham dan tidak paham. Dimulai dari orang lain yang tidak senang dengan diri
kita maupun diri kita terhadap orang lain. Bagi saya, hal itu terjadi karena
masing-masing belum memiliki pemahaman yang cakap tentang keduanya. Istilahnya,
orang tidak menyukai kita karena sesungguhnya dia belum mengetahui apa-apa yang
dia belum ketahui tentang kita, dan begitu juga sebaliknya. Menanggapi masalah
ketidakcocokan, tentu hal itu bisa diminimalisir. Hal pertama yang saya lakukan
adalah mencari tahu alasan mengapa saya tidak menyukai seseorang tersebut.
Kedua,
bertanya dengan orang-orang terdekatnya seputar karakter orang tersebut. Poin
ini bisa membantu kita mengetahui apa yang belum kita ketahui tentangnya. Boleh
jadi, penampilan dan perbuatan orang tersebut kepada kita akan berbeda terhadap
orang lain. Maka, mengumpulkan informasi dari narasumber yang lebih intens
berhubungan dengan orang tersebut adalah bagian yang harus dilakukan.
Ketiga,
saya memberikan jarak waktu. Karena emosional diri seseorang bisa menjadi baik
dan buruk dipengaruhi oleh situasi, kondisi, dan waktu. Setelah saya
benar-benar menemukan waktu yang tepat, poin keempat adalah mendekatkan diri.
Ya, cara terbaik untuk meminimalisir rasa tidak suka dengan orang lain yaitu
dengan melakukan pertemuan dan pembicaraan lebih sering. Tidak dapat dipungkiri
bahwa suatu waktu, pertemuan dan pembicaraan bisa berujung pada sebuah
kolaborasi atau kerjasama yang saling menyelamatkan. Atau bisa jadi,
orang-orang yang tidak kita suka akan menjadi penolong di detik-detik kita
sangat membutuhkan pertolongan. Maka, tidak semestinya terlalu tidak menyukai
seseorang, begitu juga sebaliknya. Karena apa-apa yang kita tampak belum tentu
sesuai dengan apa yang kita tak tampak. Mencoba menjadi orang yang memahami
adalah sederhana dan menurunkan ego bukan berarti mengalah melainkan membuat
orang lain juga membuka dirinya kepada kita.
Apa prestasi
Anda yang menurut Anda paling berharga?
Perlu
diingat, untuk menjadikan diri kita bermanfaat maka tidaklah lupa untuk
memantapkan diri semakin baik dari hari ke hari. Tetap bersemangat untuk
berprestasi melalui pencapaian-pencapain diri, walau sederhana. Dari setiap
pencapaian, saya senantiasa diberikan pemahaman dan pembelajaran bahwa sebagai
manusia tidaklah diminta menjadi orang yang lekas berpuas diri melainkan terus
memperbaiki diri. Namun, jika ditanya tentang bagian mana yang paling berharga
adalah ketika saya meyakinkan diri pertama kali untuk lepas dari zona nyaman
dan memaknai kalimat "tidak ada hasil yang mengkhianati proses".
Dari
sederetan yang pernah diberi kesempatan, menurut saya menjadi seorang
perwakilan provinsi Sumatera Utara di forum kepemudaan Parlemen Remaja Nasional
2013, tentu merupakan sebuah cerita menarik dan tidak bosan-bosannya saya
jadikan urutan pertama. Kali pertama saya menjajaki Ibukota Jakarta, kali
pertama naik pesawat terbang, dan kali pertama bertatap wajah dengan
saudara-saudara setanah air dari Sabang sampai Merauke. Pencapaian yang saya
dapatkan dari hobi menulis dan keberanian menaklukkan rasa takut bepergian sendiri.
Pengalaman berharga akan menjadi cerita panjang jika dituangkan, tapi hal
terpenting dari kesempatan ini bahwa ketika ingin melakukan suatu hal, jangan
pernah berpikir hanya kita yang memikirkan hal tersebut. Sebab, di luar sana
orang-orang yang sama juga tengah berjuang, hanya belum dipertemukan. Sebuah
pertemuan dan kesempatan akan hadir pada orang-orang yang siap dan saya
bertekad sejak saat itu untuk menjadi orang yang siap. Siap membangun bangsa.
Apa yang Anda
akan lakukan untuk membuat Indonesia disegani di mata Internasional?
Untuk
mengharumkan bangsa Indonesia bukan seperti bermain ‘hompimpah’. Butuh niat,
usaha, dan doa. Namun untuk menjadikan Indonesia baik di mata dunia, dimulai
dari kualitas bangsanya, terutama generasi muda yang akan menjadi tongkat
estafet pergerakan dan persatuan Indonesia. Hal yang dapat saya lakukan untuk
membuat Indonesia disegani di mata Internasional adalah dengan mensinergikan
potensi keberagaman.
Ada
banyak keberagaman di Indonesia, mulai dari suku, budaya, bahasa, flora dan
fauna, hingga adat istiadat. Dimulai dari hal-hal kecil yang merupakan peninggalan
karakter dari zaman nenek moyang terdahulu, yaitu ramah tamah dan gotong
royong. Dua hal sederhana yang selalu menjadi ‘point of interest’ karena dengan keberagaman yang dimiliki
Indonesia, bangsanya tetap menjunjung tinggi nilai ramah tamah dan gotong
royong. Selain itu mengembangkan potensi lokal bersama dengan rekan-rekan
pemuda/i Indonesia. Kearifan lokal dan unsur budaya-sejarah menjadi daya tarik
dunia untuk lebih mengenal Indonesia yang kaya dengan keberagaman dari berbagai
aspek. Dari hal-hal sederhana tersebut, saya bersama rekan-rekan pemua/i
Indonesia saling merangkul untuk bersinergi.
Apa motivasi dan
harapan Anda dalam mengikuti "Friendship From Indonesia"
Motivasi
saya mengikuti “Friendship from Indonesia”
karena ingin menjadi bagian dalam kontribusi nyata dari pemuda untuk Indonesia.
Sederhananya, motivasi ini saya bulatkan untuk menjadikan diri saya tidak
sekadar hidup melainkan benar-benar ada dan bermanfaat buat orang banyak.
Sedangkan harapan saya adalah menjalankan motivasi dan tekad saya dengan
sebaik-baiknya, berkomitmen dan berkelanjutan. Dari kegiatan “Friendship from Indonesia”, saya
berharap perubahan tidak sekadar wacana melainkan saya mulai dari diri saya
sendiri untuk kemudian menginspirasi aksi-aksi berani berikutnya.
